mukmin.in - Para ABG seharusnya
mulai berhenti mengidolakan artis seperti Justin Bieber atau sosok
vampire ganteng ala Edward Cullen yang ada di film Twilight.
Karena masih banyak bule-bule Muslim yang ada di luar sana yang
keislamannya mungkin jauh lebih baik dari kita yang tinggal di negara
berpenduduk mayoritas Muslim dan lebih layak dijadikan mantu atau
dijadikan sosok ‘idola’ (tentunya Rasulullah yang tetap harus jadi idola
utama).
Siapakah sosok bule Muslim tersebut? Salah satunya adalah Fatih
Seferagic. Pemuda bule Amerika hafizh 30 Juz Al-Quran, bersuara indah
dan ganteng pula. Pemuda muslim berkebangsaan Bosnia ini lahir di
Stuttgart, Jerman dan sekarang menetap di Texas, Amerika Serikat.
Tampilkan postingan dengan label Baranti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Baranti. Tampilkan semua postingan
mukmin.in - Banyak opini yang berkembang tentang keberadaan kedokteran Islam,
namun kebanyakan opini tersebut menyempit menjadi opini yang
menyederhanakan kedokteran Islam menjadi kedokteran nabi (thibbun nabi).
Empat hal yang disebut-sebut berkaitan dengan kedokteran Islam
(1) kebiasaan sehat Rasulullah seperti puasa sunah, tidak makan sebelum lapar, berhenti sebelum kenyang, dll;
(2) mengkonsumsi madu atau habatussaudah
(3) bila sampai sakit, terapinya adalah bekam;
(4) untuk penyakit karena pengaruh sihir dilakukan ruqyah syar’iyah. [1]
Ilmu kedokteran Islam didefinisikan sebagai ilmu pengobatan yang model dasar, konsep, nilai, dan prosedur- prosedurnya sesuai atau tidak berlawanan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Prosedur medis atau alat pengobatan yang digunakan tidak spesifik pada tempat atau waktu tertentu. Ilmu kedokteran Islam itu universal, mencakup semua aspek, fleksibel, dan mengizinkan pertumbuhan serta perkembangan berbagai metode investigasi dan pengobatan penyakit. [2]
Baranti,
Dakwatuna,
Dalil,
Integrasi,
Kedokteran Modern,
Kedokteran Nabi,
Kesehatan,
Kesehatan Islam,
post,
Sidrap,
Sidrap Mukminin,
Thibbun Nabawi
Empat hal yang disebut-sebut berkaitan dengan kedokteran Islam
(1) kebiasaan sehat Rasulullah seperti puasa sunah, tidak makan sebelum lapar, berhenti sebelum kenyang, dll;
(2) mengkonsumsi madu atau habatussaudah
(3) bila sampai sakit, terapinya adalah bekam;
(4) untuk penyakit karena pengaruh sihir dilakukan ruqyah syar’iyah. [1]
Ilmu kedokteran Islam didefinisikan sebagai ilmu pengobatan yang model dasar, konsep, nilai, dan prosedur- prosedurnya sesuai atau tidak berlawanan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Prosedur medis atau alat pengobatan yang digunakan tidak spesifik pada tempat atau waktu tertentu. Ilmu kedokteran Islam itu universal, mencakup semua aspek, fleksibel, dan mengizinkan pertumbuhan serta perkembangan berbagai metode investigasi dan pengobatan penyakit. [2]
mukmin.in - Syaikh Al-Arify pernah bercerita dalam kajian di channel
Al-Khalijiyyah, berjudul Al-Jahlu bi Ad-Diin (kebodohan akan perkara
agama). Suatu hari beliau diundang ceramah di suatu kampus di Timur
Tengah. Beliau pun menjawabnya dan datang di waktu yang tepatnya
ditentukan.
Ternyata, kelakuan para hadirin, yaitu para mahasiswa kampus tersebut, mengecewakan beliau. Tersebab ketika beliau menjajakan ilmu bermanfaat, banyak dari mereka saling 'berkicau'. Adab majelis hilang. Sebagian hadirin pun perhatiannya sungguh kurang. Syaikh Al-Arify pulang dengan kekecewaan. Ia merasa belum pernah ada kajian seburuk itu dan berharap tak terulang. Namun, beliau berusaha meredam kekecewaan dan mendoakan yang terbaik.
Setahun kemudian, beliau ditelepon oleh pihak kampus. Mereka hendak lagi mengundang beliau untuk mengisi kajian. Mendengar nama kampus tersebut, beliau merasa menjawabnya tidak harus. Namun, bagaimanapun ia tidak bisa mencari alasan untuk kabur dari permintaan.
artikel,
Baranti,
Dampak,
Facebook,
Ikhlas,
media,
Mukminin,
Sidrap,
Sidrap Mukminin,
Syaikh Al-Arify,
Twitter
Ternyata, kelakuan para hadirin, yaitu para mahasiswa kampus tersebut, mengecewakan beliau. Tersebab ketika beliau menjajakan ilmu bermanfaat, banyak dari mereka saling 'berkicau'. Adab majelis hilang. Sebagian hadirin pun perhatiannya sungguh kurang. Syaikh Al-Arify pulang dengan kekecewaan. Ia merasa belum pernah ada kajian seburuk itu dan berharap tak terulang. Namun, beliau berusaha meredam kekecewaan dan mendoakan yang terbaik.
Setahun kemudian, beliau ditelepon oleh pihak kampus. Mereka hendak lagi mengundang beliau untuk mengisi kajian. Mendengar nama kampus tersebut, beliau merasa menjawabnya tidak harus. Namun, bagaimanapun ia tidak bisa mencari alasan untuk kabur dari permintaan.
mukmin.in - Masyarakat Turki Austria telah menuduh perusahaan mainan Lego telah
melakukan tindakan rasisme setelah rilis model Star Wars baru yang
menyerupai bangunan bersejarah masjid Hagia Sophia di Istanbul.
"Apa yang Lego rekomendasikan orang tua untuk dibeli sebagai hadiah Natal? Jawabannya adalah rasisme murni, " kata Komunitas Budaya Turki Austria dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh The Huffington Post pada hari Kamis, 24 Januari sebagaimana dilansir onislam.net.
Austria,
Baranti,
Lego,
Markas,
Markas Penjahat,
Markaz Dakwah,
Masjid,
Masjid Istanbul,
Muslimdaily.net,
onislam.net,
penjahat,
Sidrap,
Sidrap Mukminin,
Star Wars,
The Huffington Post,
Turki
"Apa yang Lego rekomendasikan orang tua untuk dibeli sebagai hadiah Natal? Jawabannya adalah rasisme murni, " kata Komunitas Budaya Turki Austria dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh The Huffington Post pada hari Kamis, 24 Januari sebagaimana dilansir onislam.net.
Pemain bintang Ghana
Mubarak Wacasso Adwa’ berhasil mencetak kemenangan selama pertemuan
dengan tim nasional Mali di putaran kedua untuk Piala Afrika yang
diselenggarakan Afrika Selatan.
Mubarok yang bergabung pada tim ”Espanyol” berhasil mendapat perhatian media Spanyol saat merayakan gol untuk negaranya yang dicetak di gawang Mali dan ia membawa kemenangan tersebut di babak kedua, di mana ia merayakan dengan cara sendiri, dengan mengangkat kemejanya maka ia tampil mengenakan kaos yang bertuliskan “Allah Is Great ” yang dalam bahasa indonesia berarti “Allah Maha Besar.”
Cara perayaan Mubarak tersebut mengingat kenangan yang terjadi pada final Piala Afrika tahun 2006, ketika playmaker Mesir Mohamed Aboutrika memakai kaos dalam yang bertuliskan arab ” Nahnu Fidaka Ya Rasulallah ” yang berarti “ kami adalah delegasimu wahai Rasulullah “ setelah mencetak gol kemenangan untuk timnya di pertandingan Pantai Gading.
Tim Ghana menghadapi hukuman, dengan latar belakang menggunakan agama untuk merayakan gol dicetak. Dan ini adalah apa yang dilarang oleh hukum International Federation of Football “FIFA”.
Pasal IV dari Undang-undang tentang pemain dilarang untuk menunjukkan pakaian dengan slogan-slogan atau propaganda untuk partai politik atau agama atau pribadi. (zae/alarabiya)
Eramuslim.com
Allah Is Great,
Allah Maha Besar,
Baranti,
Berita,
Bola,
ERAMUSLIM,
FIFA,
Football,
Gol,
hukum,
kaos,
Merayakan,
Pemain Bola,
Sidenreng Rappang,
Sidrap
Mubarok yang bergabung pada tim ”Espanyol” berhasil mendapat perhatian media Spanyol saat merayakan gol untuk negaranya yang dicetak di gawang Mali dan ia membawa kemenangan tersebut di babak kedua, di mana ia merayakan dengan cara sendiri, dengan mengangkat kemejanya maka ia tampil mengenakan kaos yang bertuliskan “Allah Is Great ” yang dalam bahasa indonesia berarti “Allah Maha Besar.”
Cara perayaan Mubarak tersebut mengingat kenangan yang terjadi pada final Piala Afrika tahun 2006, ketika playmaker Mesir Mohamed Aboutrika memakai kaos dalam yang bertuliskan arab ” Nahnu Fidaka Ya Rasulallah ” yang berarti “ kami adalah delegasimu wahai Rasulullah “ setelah mencetak gol kemenangan untuk timnya di pertandingan Pantai Gading.
Tim Ghana menghadapi hukuman, dengan latar belakang menggunakan agama untuk merayakan gol dicetak. Dan ini adalah apa yang dilarang oleh hukum International Federation of Football “FIFA”.
Pasal IV dari Undang-undang tentang pemain dilarang untuk menunjukkan pakaian dengan slogan-slogan atau propaganda untuk partai politik atau agama atau pribadi. (zae/alarabiya)
Eramuslim.com
mukmin.in - Universitas Harvard menukil salah satu ayat Alquran sebagai
bentuk penghormatan. Universitas tertua di Amerika Serikat itu
mengukirkan petikan ayat Quran di gerbang masuk Fakultas Hukum
''Fakultas Hukum Harvard menyebut ayat suci sebagai salah satu ekspresi terhebat tentang keadilan sepanjang sejarah,'' tulis surat kabar Arab Saudi 'Ajel' seperti dikutip Emirates247.
Ayat Alquran itu diukir di tembok yang menghadap pintu masuk utama Fakultas Hukum Harvard. Seperti ditulis Ajel, Harvard mengabadikan ayat tersebut sebagai kata-kata terbaik tentang keadilan.
Adalah mahasiswa Arab Saudi yang sedang menimba ilmu di Universitas Harvard, Abdullah Jumma, yang menyadari bahwa tulisan yang terpampang di gerbang masuk Fakultas Hukum itu merupakan petikan ayat Alquran.
Jumma langsung menyebarkan foto tulisan ayat alquran tersebut lewat jejaring sosial Twitter. ''Saya yakin ayat alquran telah ditulis oleh Fakultas Hukum yang menggambarkan salah satu ekspresi terhebat tentang keadilan dalam sejarah,'' kata Jumma.
Universitas Harvard didirikan di Cambridge, Massachusetts, pada 1636. Harvard merupakan perguruan tinggi tertua di Amerika Serikat.
Redaktur: Didi Purwadi
REPUBLIKA.CO.ID

Isi surat Annisa ayat 135 (kiri) bersanding dengan kutipan pemikiran sejumlah filusuf di dinding gerbang masuk Fakultas Hukum Universitas Harvard. (www.republika.co.id)

Terjemahan surat Annisa ayat 135 yang dituliskan di dinding gerbang masuk Fakultas Hukum Universitas Harvard, Amerika Serikat, yang difoto oleh Abdullah Jumma. (www.emirates247.com)
Al-Qur'an,
Baranti,
Berita,
Fakultas Hukum,
Gerbang,
Harvard University,
Republika,
Sidrap,
Twitter,
Universitas,
www.emirates247.com
''Fakultas Hukum Harvard menyebut ayat suci sebagai salah satu ekspresi terhebat tentang keadilan sepanjang sejarah,'' tulis surat kabar Arab Saudi 'Ajel' seperti dikutip Emirates247.
Ayat Alquran itu diukir di tembok yang menghadap pintu masuk utama Fakultas Hukum Harvard. Seperti ditulis Ajel, Harvard mengabadikan ayat tersebut sebagai kata-kata terbaik tentang keadilan.
Adalah mahasiswa Arab Saudi yang sedang menimba ilmu di Universitas Harvard, Abdullah Jumma, yang menyadari bahwa tulisan yang terpampang di gerbang masuk Fakultas Hukum itu merupakan petikan ayat Alquran.
Jumma langsung menyebarkan foto tulisan ayat alquran tersebut lewat jejaring sosial Twitter. ''Saya yakin ayat alquran telah ditulis oleh Fakultas Hukum yang menggambarkan salah satu ekspresi terhebat tentang keadilan dalam sejarah,'' kata Jumma.
Universitas Harvard didirikan di Cambridge, Massachusetts, pada 1636. Harvard merupakan perguruan tinggi tertua di Amerika Serikat.
Redaktur: Didi Purwadi
REPUBLIKA.CO.ID
Isi surat Annisa ayat 135 (kiri) bersanding dengan kutipan pemikiran sejumlah filusuf di dinding gerbang masuk Fakultas Hukum Universitas Harvard. (www.republika.co.id)
Terjemahan surat Annisa ayat 135 yang dituliskan di dinding gerbang masuk Fakultas Hukum Universitas Harvard, Amerika Serikat, yang difoto oleh Abdullah Jumma. (www.emirates247.com)
Fenomena Jejaring Sosial
Ternyata kami sangat jauh menerapkan hal ini. Setelah dipikir-pikir ada satu yang menjadi penyebabnya yaitu maraknya jejaring sosial seperti facebook, twitter, google+ dan lain-lain. Inilah membuat kami lalai dan sangat jauh dari kebiasaan orang-orang shalih dan ulama yaitu beristighfar di mana pun, kapan pun (tentu bukan di WC, toilet dll), mengucapkan “astagfirullah”,” allahummagfirli” di sela-sela waktu, di sela-sela kesempatan, di sela-sela kesibukan, ketika menunggu, ketika naik kendaraan, ketika berjalan kaki, ketika menanti jemputan dan ketika kita mampu mencuri sedikit waktu yang sangat mahal dalam berbagai kesibukan.
Para Salaf Mencuri Waktu untuk Beristighfar
Jika mengingat pesan para salaf (pendahulu) kita, maka kita sangat malu menisbatkan diri kepada mereka. Luqman pernah berpesan kepada anaknya,
يَا بُنِيَّ عَوِّدْ لِسَانَكَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، فَإِنَّ لِلَّهِ سَاعَاتٍ لَا يَرُدَّ فِيهَا سَائِلًا
“Wahai anakku biasakan lisanmu dengan ucapan: [اللهم اغفر لي ]
“Allahummaghfirli (Ya Allah, ampunilah aku)”, karena Allah memiliki
waktu-waktu yang tidak ditolak permintaan hamba-Nya di waktu itu.”Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,
أَكْثِرُوا مِنَ
الِاسْتِغْفَارِ فِي بُيُوتِكُمْ، وَعَلَى مَوَائِدِكُمْ، وَفِي
طُرُقِكُمْ، وَفِي أَسْوَاقِكُمْ، وَفِي مَجَالِسِكُمْ أَيْنَمَا كُنْتُمْ،
فَإِنَّكُمْ مَا تَدْرُونَ مَتَى تَنْزِلُ الْمَغْفِرَةُ
”Perbanyaklah istighfar di rumah-rumah, meja-meja makan,
jalan-jalan, pasar-pasar dan majelis-majelis kalian di manapun kalian
berada. Karena kalian tidak tahu kapan turunnya pengampunan Allah”. (Jami’ Al-ulum wal hikam hal. 535, Darul Aqidah, Kairo, cet.1, 1422 H)Belum lagi kisah Imam Malik rahimahullah yang mencuri waktunya yang sangat mahal. Ketika penyambung suaranya berbicara saat majelis kajian (saat itu belum ada pengeras suara, maka ada beberapa penyambung suara berbicara setelah imam Malik berbicara). Maka waktu longgar tersebut dimanfaatkan oleh beliau untuk beristighfar kepada Allah Ta’ala. Subhanallah, sungguh sangat jauh dari kebiasaan kita.
Bijak dalam Menyikapi Jejaring Sosial
Kami baru teradar bahwa facebook dan jejaring sosial menjadi penggantinya. Mungkin seperti ini rutinitasnya:
- Setelah shalat Shubuh langsung buka laptop kemudian login, membuka-buka status yang sudah di update tadi malam (padahal statusnya kurang bermanfaat, sekedar curhat atau main-main).
- Kemudian di tempat kerja, ada waktu istirahat sedikit, langsung buka facebook, update status saat kerja, terkadang status mengeluh dengan pekerjaan, membicarakan atasan, membicarakan hal-hal yang kurang penting.
- Sore hari setelah istirahat juga langsung buka facebook, mencari-cari berita terbaru dari link-link yang ada. Awalnya berniat membuka link-link bermanfaat. Akan tetapi ada juga yang friend yang menaruh link kurang bermanfaat, rasa penasaran muncul akhirnya sibuk dengan hal yang kurang bermanfaat. Atau akhirnya terlalu sibuk mengikuti perkembangan politik dan artis. “Kasus ini, kasus itu, skandal ini, skandal itu”. Boleh sekedar tahu tetapi terkadang kita terjerumus rasa penasaran akhirnya terlalu mengikuti dan lalai. Padahal jika mendengar kasus-kasus tersebut kebanyakan kita sakit hati dengan kasus-kasus korupsi, ketidakadilan hukum dan kriminalitas yang telalu bebas disiarkan.
- Maghribnya juga terkadang ada saja yang buka update status.
- Kemudian ba’da Isya menjelang tidur, buka facebook lagi, mencurahkan uneg-uneg, kejadian dan pengalaman selama sehari, terkadang status yang bisa menghapus pahala kita karena riya’, seperti kita sudah melakukan ibadah ini dan itu, baru selsai buka puasa sunnah dan lain-lainnya.
Terkadang ada beberapa orang yang terkesan sangat shalih dan alim di facebook, sangat sering update status agama, sangat sering berbicara agama, memberi link-link tentang shalat malam, tentang menuntut ilmu padahal di dunia nyata ia malah jarang atau tidak menerapkannya. Tetapi kita perlu husnudzon juga, karena ada mereka yang memang kerjanya berhubungan dengan dunia internet seperti ahli IT dan dagang via internet. Jadi mereka sangat memanfaatkan kesempatan tersebut.
Jauh sebelumnya para ustadz sudah memberi peringatan tentang hal ini. Kita lihatlah pada para ustadz yang punya akun facebook, mereka lebih sibuk menuntut ilmu dan berdakwah di dunia nyata.
Terkadang Lebih Baik HP Tidak Ada Jaringan Internetnya
Terkadang mungkin ini lebih baik jika tidak terlalu perlu misalnya untuk bisnis dan perdagangan. HP yang mudah dibawa kemana-mana menyebabkan kita dengan mudahnya membuka jejaring sosial seperti facebook. Sehingga sela-sela waktu malah kita gunakan untuk buka facebook, update status dan comment. Padahal hal itu kurang terlalu penting. Misalnya, saat pecah ban motor, update status via blackberry: “Ban motor pecah dijalan ini, bersama @fulan, Alhamdulillah dekat ama tambal ban”. Kemudian menunggu ada yang comment dan saling balas-balasan.
Memang ini adalah hal yang mubah. Akan tetapi alangkah baiknya jika ketika menunggu kita gunakan untuk beristighfar dan berdzikir. Merenungkan apa dosa kita dan kesalahan kita hari ini sampai ban motor bisa pecah sehinga manghambat perjalanan.
Ketahuilah, semua musibah, kesusahan dan kesedihan sekecil apapun itu adalah akibat dosa kita karena kita lalai bertaubat dan beristighfar.
Mengenai ayat,
يَعْمَلْ سُوءاً يُجْزَ بِهِ
“Barangsiapa yang mengerjakan kejelekan, niscaya akan diberi pembalasan dengannya.” (QS. An-Nisa’:123).Qotadah rahimahullah berkata,
لا يصيب رجلا خدشٌ ولا عثرةٌ إلا بذنب
“Tidaklah seseorang terkena goresan (ranting) atau tersandung melainkan akibat dosa yang ia perbuat”. (Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Quran 9/236 , Al-Qurthubi, Muassah Risalah, cet.1, 1420 H)Jangan Melalaikan dan Meremehkan Istighfar
Kita jangan meremehkan istighfar, karena sekedar lafaz yang terucap saja. Karena dari istighfar inilah bermula hakikat penghambaan terhadap Allah, yaitu hati remuk-redam, bersedih mengingat dosa-dosa yang pernah diperbuat setiap harinya. Banyak ilmu dan amal yang belum kita ketahui, kemudian banyak ilmu yang sudah kita ketahui tidak kita amalkan, belum lagi maksiat yang kita lakukan. Kemudian berbelas-belas memohon ampun kepada Allah, memohon dikasihani, kemudian berjanji akan beramal kebaikan setelahnya untuk membalas dan menghapus dosa yang kita perbuat.
Demikianlah hakikat penghambaan, apakah kita beribadah sambil tertawa? Sambil bermain-main? Sambil bergembira ria? Tidak, tetapi hati yang tunduk, merendah, menangis dan berlinanglah air mata karena Allah.
Setelah itu barulah hati bergembira karena teringat janji Allah subhana ta’ala melalui lisan rasul-Nya,
عَيْنَانِ لاَ تَمُسُّهُمَا النَّارُ: عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيْلِ اللهِ
“Dua mata yang tidak akan disentuh oleh api Neraka: (pertama) mata yang menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wata’ala, (kedua) mata yang bermalam dalam keadaan berjaga di jalan Allah Subhanahu wata’ala.” (HR. At-Tirmidzi no. 1639, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi dan Al-Misykat no. 3829)Dan hadist,
سبعةيظلّهم اللّه فى ظلّه يوم لاظلّ الاّظلّه ورجل ذكراللّه خالياففاضت عليناه
“Ada tujuh orang yang akan dinaungi oleh Allah Subhanahu wata’ala
dalam naungan-Nya pada hari yang tiada naungan melainkan naungan-Nya
sendiri”,….Orang yang mengingat pada Allah Subhanahu wata’ala di waktu keadaan sunyi lalu berlinanglah airmata dari kedua matanya.” (Muttafaq ‘alaih)Menangis karena Allah tidak bisa dibuat-buat. Kita tidak bisa menangis begitu saja tiba-tiba dalam keadaan sunyi (tanpa pengaruh musik melankolis dan pengaruh karena menangis ramai-ramai seperti di televisi). Tidak akan bisa menangis karena Allah tanpa proses mengakui kesalahan dan istighfar sebelumnya. Dan tangisan karena tidak bisa muncul kecuali dari hati hanif lagi menghamba.
Perlu diperhatikan juga bahwa tangisan karena Allah sebaiknya disembunyikan, jangan menampakan kesedihan bersama manusia sebagaimana kesalahan yang sering kita lihat ditelevisi. Oleh karena itu kita perlu memilih waktu yang tepat.
Istighfar Membuat Kehidupan Menjadi Mudah
Allah Ta’ala berfirman,
وَأَنِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى
“Dan hendaklah kamu meminta ampun [istighfar] kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan.” (QS. Hud: 3)Syaikh Muhammad Amin As-Syinqiti berkata menafsirkan ayat ini,
وَالظَّاهِرُ أَنَّ
الْمُرَادَ بِالْمَتَاعِ الْحَسَنِ: سَعَةُ الرِّزْقِ، وَرَغَدُ الْعَيْشِ،
وَالْعَافِيَةُ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَّ الْمُرَادَ بِالْأَجَلِ
الْمُسَمَّى: الْمَوْتُ
“Pendapat terkuat tentang yang dimaksud dengan kenikmatan adalah
rizki yang melimpah, kehidupan yang lapang dan keselamatan d idunia dan
yang dimaksud dengan waktu yang ditentukan adalah kematian.” (Adhwa’ul Bayan 2/170, Darul Fikr, Libanon, 1415 H, Asy-Syamilah)Kemudian istighfar juga membuat musibah tidak jadi turun, kemudian jika turun memudahkan kita menghadapinya, dan segera bisa menghilangkan musibah tersebut.
Imam Al-Qurthubi rahimahullah menukil dari Ibnu Shubaih dalam tafsirnya , bahwasanya ia berkata,
شَكَا رَجُلٌ إِلَى
الْحَسَنِ الْجُدُوبَةَ فَقَالَ لَهُ: اسْتَغْفِرِ اللَّهَ. وَشَكَا آخَرُ
إِلَيْهِ الْفَقْرَ فَقَالَ لَهُ: اسْتَغْفِرِ اللَّهَ. وَقَالَ لَهُ
آخَرُ. ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَرْزُقَنِي وَلَدًا، فَقَالَ لَهُ: اسْتَغْفِرِ
اللَّهَ. وَشَكَا إِلَيْهِ آخَرُ جَفَافَ بُسْتَانِهِ، فَقَالَ لَهُ:
اسْتَغْفِرِ اللَّهَ. فَقُلْنَا لَهُ فِي ذَلِكَ؟ فَقَالَ: مَا قُلْتُ مِنْ
عِنْدِي شَيْئًا، إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ فِي سُورَةِ” نُوحٍ”
”Ada seorang laki-laki mengadu kepadanya Hasan Al-Bashri tentang kegersangan bumi maka beliau berkata kepadanya,”beristighfarlah kepada Allah!”, yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya,”beristighfarlah kepada Allah!” yang lain lagi berkata kepadanya,”Doakanlah (aku) kepada Allah, agar Ia memberiku anak!” maka beliau mengatakan kepadanya,”beristighfarlah kepada Allah!” Dan yang lain lagi mengadu tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan pula kepadanya,”beristighfarlah kepada Allah!” Dan kamipun menganjurkan demikian kepada orang tersebut. Lantas Hasan Al-Bashri menjawab: ”Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh.” (Jami’ Liahkamil Quran 18/302, Darul Kutub Al-Mishriyah, kairo, cet. Ke-2, 1348 H, Asy-Syamilah)Yang dimaksudkan oleh Al Hasan Al Bashri adalah ayat berikut ini,
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا
رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ
مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ
جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12)
“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu,
-sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan
hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan
mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya)
untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12). Dengan istighfar dapat menyebabkan datangnya banyak kebaikan.Jangan Lalai Juga Berdzikir
Kita sepertinya lupa juga dengan anjuran berdzikir, padahal ini adalah perbuatan yang sangat mudah.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ
عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ ، حَبِيبَتَانِ إِلَى
الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ
الْعَظِيمِ
“Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat ditimbangan,
dan disukai Ar Rahman yaitu “Subhanallah wa bi hamdih, subhanallahil
‘azhim” (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya. Maha Suci Allah Yang
Maha Agung). (HR. Bukhari no. 6682 dan Muslim no. 2694)Kemudian balasan dzikir sederhana yang dapat berbuah pahala besar dapat kita lihat pada hadits Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَالَ سُبْحَانَ
اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ
وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحر.رواه البخاري و مسلم.
“Barangsiapa yang mengucapkan: “Subahnallah wa bihamdihi “di dalam sehari 100 kali, dihapuskan dosa-dosanya walaupun seperti buih dilautan”. [HR. Bukhari, no. 5926 dan Muslim, no. 4857]Perhatikan, hanya sekitar 3-5 menit untuk membacanya 100 kali, dosa kita terhapus semuanya. Untuk facebook dan twiter ketika menunggu tembel ban misalnya, kita habiskan sampai 20 menit.
Terbukti, Kuatnya Pengaruh Dzikir
Bagi yang sudah terbiasa berdzikir dan merasakan nikmatnya, maka ia adalah kebutuhan pokok seorang hamba dalam kehidupan sehari-hari. Ia adalah kekuatan yang memudahkan kita melaksanakan berbagai ketataan dan mejaga kita dari keburukuan. Seolah-olah ada yang kurang jika tidak berdzikir. Dzikir pagi-petang sebagai tempat pengisiannya.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah memaparkan bagimana pengaruh dzikir terhadap hamba berdasarkan pengamatannya langsung terhadap guru beliau Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah,
أن الذكر يعطي الذاكر قوة،
حتى إنه ليفعل مع الذكر ما لم يظن فعله بدونه، وقد شاهدت من قوة شيخ
الإسلام ابن تيمية في سننه وكلامه وإقدامه وكتابه أمراً عجيباً، فكان يكتب
في اليوم من التصنيف ما يكتبه الناسخ في جمعه وأكثر، وقد شاهد العسكر من
قوته في الحرب أمراً عظيماً
“Sesungguhnya bacaan dzikir memberikan kepada pelakunya
kekuatan.sampai-sampai ia mampu melakukan pekerjaan yang tidak mungkin
dilakukan bila tanpa berdzikir. Sungguh saya menyaksikan
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam perilaku, ucapan, keberanian dan
karya tulisnya sesuatu yang menakjubkan. Dahulu, beliau menulis dalam sehari sama dengan orang yang cuma menyalin bahkan beliau bisa mengalahkannya lebih dari itu. Dara pasukan juga telah mengakui keberanian beliau dalam peperangan yang luar biasa.” (Al-Wabilus Shayyib min Kalamith Thayyib hal. 77, Darul Hadist, kairo, cet. Ke-3, Asy-Syamilah)Hanya berdzikir mengingat Allah hati kita menjadi tenang, jika masih saja tidak tenang padahal sudah berdzikir, ketahuilah hati kita mungkin sedang sakit, sehingga perlu keseriusan dan terus menerus berdzikir.
Allah Ta’ala berfirman,
الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi
tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati
Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Hendaklah kita bijak menggunakan waktu kita yang sangat mahal, seorang ulama berkata kepada mereka yang sedang duduk-duduk [sekedar nongkrong] bahwa ia ingin sekali membeli waktunya. Belum lagi para ulama yang tidur sehari hanya sekitar empat jam saja. Karena tugas kita sangat banyak dalam dakwah maka hendaknya menjual mahal terhadap waktu.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ
“Dua kenikmatan yang sering dilalaikan oleh sebagian besar manusia yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu luang”. (HR. Bukhari no.6412)Semoga bermanfaat bagi kaum muslimin. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Disempurnakan di Lombok, pulau seribu masjid, 26 Syawwal 1432 H.
Semoga Allah meluruskan niat kami dalam menulis
—
Penulis: Raehanul Bahraen
Muroja’ah: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Muslim.Or.Id
Dari artikel 'Istighfar vs Jejaring Sosial — Muslim.Or.Id'
mukmin.in - Seolah tak ada habisnya, berbagai bencana terus melanda negeri ini,
banjir,tanah longsor, gempa bumi dan tsunami, atau pun letusan gunung
berapi.
Tanggapan manusia pun bermacam-macam. Para pakar geologi mengatakan hal ini adalah fenomena alam. Paranormal mengambinghitamkan makhluk-makhluk halus penunggu tempat-tempat yang dilanda bencana. Dan sangat sedikit yang mengaitkannya dengan dosa-dosa manusia.
Fenomena Alam atau Teguran?
Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman, artinya, "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rûm: 41).
"Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat." (QS. An-Nahl: 112).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah bersabda, "Wahai, Kaum Muhajirin! Sesungguhnya ada lima perkara yang aku berlindung kepada Allah agar kalian tidak menemuinya.
(1) Tidaklah muncul perbuatan keji (zina) pada suatu kaum hingga mereka melakukannya secara terang-terangan, kecuali Allah akan menimpakan kepada mereka wabah dan pelbagai penyakit (thâ'ûn) yang belum pernah menimpa kepada orang-orang sebelum mereka.
(2) Tidaklah suatu kaum mengurangi takaran dan timbangannya, kecuali niscaya mereka akan ditimpa dengan tandusnya tanah, paceklik sepanjang tahun, serta berkuasanya penguasa-penguasa yang zhalim.
(3) Dan tidaklah suatu kaum enggan mengeluarkan zakat hartanya, kecuali Allah akan menimpakan kepada mereka bencana dengan tidak diturunkannya hujan dari atas langit kepada mereka. Dan kalaulah bukan karena binatang ternak, niscaya Allah akan menahan turunnya hujan selama-lamanya.
(4) Dan tidaklah suatu kaum mengingkari janji antara mereka dengan Allah dan Rasul-Nya, melainkan Allah akan mendatangkan musuh-musuh yang bukan dari golongan mereka, lalu merampas sebagian harta yang ada di tangan mereka.
(5) Dan selama pemimpin-pemimpin mereka tidak berhukum dengan Kitabullah dan tidak memilih yang terbaik dari apa yang Allah turunkan kecuali Allah turunkan kepada mereka kesengsaraan (perpecahan) di antara mereka." (HR. Ibnu Majah, no. 4019, dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani).
Kebanyakan orang memandang pelbagai macam musibah yang menimpa manusia hanya dengan logika berpikir yang bersifat rasional, terlepas dari tuntutan Wahyu Ilahi. Sehingga solusi yang diberikan tidak mengarah pada penghilangan sebab-sebab utama, yaitu kemaksiatan umat manusia kepada Allah Subhaanahu Wata’ala Sang Pencipta Jagat Raya, yang di tangan-Nyalah seluruh kebaikan, dan kepada-Nyalah dikembalikan segala urusan.
Antara Ketaatan dan Berkah Alam
Apabila penduduk suatu negeri taat kepada Allah Subhaanahu Wata’ala, maka keberkahan akan melimpah kepada mereka. Misalnya pada jaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, alam begitu bersahabat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan para sahabat, sehingga gunung-gunung sangat mencintai mereka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda ketika melihat bukit Uhud seraya menunjuk padanya, "Bukit ini mencintai kami dan kami pun mencintainya. " (HR. Bukhari dan Muslim).
Bahkan makanan yang dinikmati oleh para sahabat ikut bertasbih sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, "Kami pernah mendengarkan tasbih dari makanan yang sedang dimakan." (HR. Bukhari).
Dalam riwayat Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu juga disebutkan bahwa para sahabat mendengarkan tasbih batu-batu kerikil di tangan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Demikian pula dengan batang kayu yang pernah dijadikan mimbar oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menangis ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam meninggalkannya.
Demikianlah beberapa contoh respon yang diberikan oleh alam kepada orang-orang yang taat kepada Allah Subhaanahu Wata’ala. Sangat berbeda dengan perlakuan yang diberikan kepada orang-orang yang durhaka. Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman, artinya, "Maka langit dan bumi tidak menangisi (kepergian) mereka dan mereka pun tidak diberi tangguh." (QS. Ad-Dukhân: 29).
Sebaliknya, kata Ibnu Abbas—رضي الله عنهما, orang mukmin kepergiannya ditangisi oleh langit dan bumi. Ditangisi oleh langit, karena orang yang melakukan amal shaleh, maka amalannya akan naik ke langit dan akan diterima oleh langit. Sebagaimana bumi pun menangis ketika ditinggalkan oleh orang-orang yang shaleh karena tidak dipijak lagi untuk melakukan ketaatan. (lihat Tafsir Ibnu Katsir)
Pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, kaum Muslimin memberikan suasana bersahabat dengan alam, maka alam pun memberikan sikap yang sama, memberikan rahmat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan kepada para sahabatnya. Sebaliknya, jika penduduk suatu negeri tidak taat kepada Allah, maka alam ini bisa menjadi tentara-tentara Allah untuk membinasakan penduduknya. Sebagaimana pada zaman Fir'aun, kutu, katak, bahkan hewan-hewan lemah pun bisa menjadi sebab untuk hancurnya pengikut-pengikut Fir'aun.
Jangan Merasa Aman!
Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman, Artinya, "Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu dhuha ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi." (QS. Al A'râf: 97-99).
Inilah peringatan bagi mereka yang masih terus bergelimang dengan kemaksiatan, yang tidak lagi memiliki rasa malu bahkan bangga dengan dosa-dosanya, yang membusungkan dada menantang datangnya adzab Allah, bahwasanya tak seorang pun di antara kita yang patut merasa aman dari adzab Allah yang teramat pedih.
Pelajaran dari Umat-umat Terdahulu
Karena maksiatlah, Allah menumpahkan air dari langit, memuntahkannya ke bumi, hingga mereka, umat Nabi Nuh Alaihissalam nyang kafir dan durhaka itu ditenggelamkan dan binasa (lihat QS. Al A’râf: 63-64).
Karena maksiatlah, Allah menghancurkan kaum Nabi Hud Alaihissalam. Ditumpas habis tanpa sisa (lihat QS. Asy-Syu'arâ': 139).
Kalau bukan karena maksiat, kaum Tsamud tidak akan menelan mentah-mentah adzab yang sangat pedih (ihat QS. Al A'râf: 77-78).
Karena maksiat pulalah, kaum Nabi Luth Alaihissalam beserta tujuh kotanya hancur berkeping-keping. Kota mereka diangkat setinggi-tingginya ke atas langit dengan cepat, lantas dibenturkan ke bumi dalam keadaan yang di atas ke bawah (dibalik) lalu dihujani bebatuan dari sijjîl (lihat QS. Hud: 82-83).
Negeri Fir'aun dilanda topan kencang, hama belalang, tersebarnya kutu, merajalelanya kodok dan menyebarnya darah; pun karena maksiat. Lalu karena mereka tidak mengubah sikapnya, Allah Subhaanahu Wata’ala menenggelamkan mereka di lautan (lihat QS. Al A'râf: 133-136).
Bangsa Yahudi bertubi-tubi mendapatkan laknat dan adzab. Mereka menyakiti, bahkan membunuh beberapa nabi mereka, maka pantas sekali kalau Allah mengubah mereka menjadi binatang yang paling keji di dunia, mereka diubah menjadi kera dan babi, karena tabiat mereka memang seperti kera dan babi.
Kaum-kaum terdahulu Allah hancurkan dan luluhlantakkan disebabkan oleh satu dua jenis kemungkaran yang dikepalai oleh dosa kesyirikan. Sekarang, bagaimana dengan kita? Apa yang kita saksikan dan alami sekarang ini di tempat kita, di lingkungan kita, di kota kita, dan bahkan di seantero negeri kita? Kesyirikan yang merupakan biang malapetaka dunia dan akhirat kini seolah telah menjadi kebutuhan. Berapa banyak kita dapati media massa yang menjajakan kesyirikan, ulama-ulama sesat menyeru umat kepada perbuatan syirik dengan dibungkus sedemikian rupa untuk menyesatkan umat. Demikian pula dengan bid'ah dan maksiat, terjadi di mana-mana.
Bencana, Untuk Semua
Muncul pertanyaan, "Mengapa harus daerah ini, atau kota ini, atau negara ini yang ditimpa musibah, padahal masih banyak daerah-daerah lain yang lebih pantas untuk diadzab oleh Allah? Bukankah di sana ada orang-orang shaleh dan anak-anak kecil yang tidak berdosa?
Jawabannya: Allah Subhaanahu Wata’ala telah mengingatkan bahwa adzab-Nya tidak khusus menimpa orang-orang zhalim di antara kita. Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman, artinya, "Dan peliharalah dirimu dari siksa yang tidak khusus menimpa orang-orang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksa-Nya." (QS. Al Anfâl: 25).
Ummu Salamah—radhiyallahu 'anha—menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, "Jika timbul maksiat pada umatku, maka Allah akan menyebarkan adzab kepada mereka. Aku berkata, "Wahai Rasulullah! Apakah tidak ada waktu itu orang-orang shaleh?" Beliau menjawab, "Ada." Aku bertanya lagi, "Apa yang Allah akan perbuat kepada mereka?" Beliau menjawab, "Allah akan menimpakan kepada mereka adzab sebagaimana ditimpakan kepada orang-orang yang melakukan maksiat, kemudian mereka akan mendapatkan ampunan dan keridhaan dari Rabb-nya." (HR. Ahmad, Al Haitsami mengatakan bahwa semua perawi hadits ini terpercaya).
Ke Mana Mengadu?
Orang-orang musyrik pada zaman dulu yang terkenal dengan pembangkangan mereka kepada Allah, ketika ditimpa suatu musibah, maka mereka memurnikan ketaatan mereka kepada Allah Subhaanahu Wata’ala. Meskipun ketika musibah tersebut berlalu, mereka kembali ingkar dan kembali kepada kesyirikan mereka. Sebagaimana digambarkan oleh Allah Subhaanahu Wata’ala, artinya, "Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) menyekutukan (Allah)." (QS. Al 'Ankabût: 65).
Itu kondisi orang-orang jaihiliyah tempo dulu. Bandingkan dengan keadaan manusia "modern" sekarang ini, ketika mereka merasa akan ditimpa suatu bencana, maka bukannya mengikhlaskan ketaatan kepada Allah Subhaanahu Wata’ala, justru mereka semakin tenggelam dalam kesyirikan dengan meminta bantuan kepada para pawang, dukun-dukun, makhluk-makhluk halus, penunggu-penunggu tempat keramat dan benda-benda lain yang disakralkan. Sejatinya bertobat dan meminta perlindungan kepada Allah Subhaanahu Wata’ala, malah meminta kepada makhluk yang untuk menolong diri mereka sendiri pun, mereka tidak mampu.
Wallâhul Musta'ân wa ilaihil musytaka
( Al Fikrah No.20 Tahun XI/20 Dzulqa'dah 1431 H)
Tabligh Akbar Sidrap: Ketika Allah Menurunkan Musibah, Siapa yang Salah?
Bersama
Ust. Iskandar Kato, MM (Sekjen DPP WI)
InsyaAllah,
Pada hari Sabtu, 19 Januari 2013
Pukul 16.00(Ba'da Ashar)
Pondok Pesantren Al Iman, Kel. Uluale.
Al-Iman,
Allah,
Baranti,
Hadirilah,
Kajian,
Kajian Islami,
Musibah,
Sidenreng Rappang,
Sidrap,
Sidrap Mukminin,
Tabligh Akbar
Bersama
Ust. Iskandar Kato, MM (Sekjen DPP WI)
InsyaAllah,
Pada hari Sabtu, 19 Januari 2013
Pukul 16.00(Ba'da Ashar)
Pondok Pesantren Al Iman, Kel. Uluale.
Yahudi memanfaatkan nama “Israel” saat mereka membangun kekuatannya di era modern ini. Dengan nama itu, mereka mengklaim terikat dengan dengan Nabi Allah Israil alaihissalam, mengikuti agamanya, pewarisnya, keturunannya. Dan seakan Allah meridlai mereka.
Tatkala Yahudi menduduki Palestina dan mendirikan negara mereka di sana, mereka menamakannya dengan “negara Israel”. Lembaga dan instansi yang ada juga atas nama Israel; Bank Israel, bendera Israel, tanah Israel, suara Israel, tentara pertahanan Israel, kementerian luar negeri Israel dan seterusnya.
Agar diterima oleh masyarakat dunia, Yahudi memberikan imbuhan dan kesan dimensi agama dalam entitas dan eksistensi mereka di tanah Palestina. Ini mereka lakukan agar masyarakat internasional simpati agamis dan kalangan yahudi dunia sudi eksodus ke negara Yahudi, mengerahkan seluruh energi dan potensi yang mereka milik untuk negara penjajah ini.
Selain itu, dengan menamakan diri sebagai “negara Israel” cara seperti ini, Yahudi ingin mempengaruhi kalangan Kristen dunia dan mendapatkan dukungan. Sebab kalangan ini juga mengklaim beriman kepada Injil (Bibel) dan Taurat juga. Taurat adalah Perjanjian Lama dan Bibel adalah Perjanjian Baru. Keduanya diyakini kalangan Kristen sebagai kitab suci.
Yahudi ingin memberikan entitas mereka di Palestina untuk kalangan Kristen sebagai wujud nubuwat dalam perjanjian lama di dalam kita suci. Mereka ingin menunjukkan seakan ini sebagai perwujudan janji Allah kepada Ibrahim dan Israil (Yakqub). Mereka ingin memberikan pemahaman kepada Kristen bahwa dukungan kepada ensitas Yahudi di Palestina adalah konsekwensi keimanan Kristen kepada Injil (Bibel). Karenanya, sebagian negara Kristen di barat terpengaruh kepada klaim Yahudi ini.
Israil adalah Nama Nabi
Israil adalah Nabi Allah yang mulia dan dicintai-Nya. Ia adalah Yakqub bin Ishak bin Ibrahim alaihimussalam. Allah berfirman,
“Mereka itu adalah orang-orang yang Telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang Telah kami beri petunjuk dan Telah kami pilih. apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, Maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (Maryam: 58)
Sementara Bani Israil adalah anak dan keturunan Nabi Yakqub 12 orang, Yusuf dan saudara-saudaranya. Dari 12 orang inilah berkembang biak dan menjadi Bani Israil saat mereka tinggal di Mesir bersama Yusuf. Ketika datang Musa, mereka keluar bersamanya ke Gurun Sinai. Saat mereka kehausan Musa memukulkan tongkatnya ke batu dan mengeluarkan mata air sebagi mukjizat.
Nama Bani Israil digunakan sampai diutusnya Nabi Muhammad. Ayat Al-Quran jelas menginformasikan tentang mereka, sejarah, perbuatan, taklif Allah kepada mereka, kesalahan dan penyimpangan mereka.
Yahudi atau Israel?
Al-Quran menyebut Yahudi kepada Bani Israil setelah diutusnya Nabi Muhammad dan setelah mereka kufur dan mengingkari kenabian beliau. Nama Yahudi adalah bukan bahasa Arab namun digunakan untuk mengistilahkan bangsa kafir yang dimurkai Allah. Nama Yahudi hanya disebutkan dalam ayat-ayat madani (yang turun setelah hijrah ke Madinah) di delapan kali di surat; Al-Baqarah, Al-Maidah, dan di At-Taubah semuanya dengan konteks celaan atas mereka dan bukan pujian.
Beralihnya peristilahan Al-Quran dari Bani Israil kepada Yahudi ini memberikan kesimpulan bahwa umat Islam wajib mengikuti methode Al-Quran dalam membedakan antara Yahudi dan Bani Israel.
Ketika Al-Quran mengganti istilah Bani Israel menjadi Yahudi ini ingin menghilangkan mereka dari warisan hakiki Ibrahim dan Israil. Meski mereka mungkin masih ada keturunan Nabi Israil, namun mereka bukan pewarisnya karena mereka tidak mengikuti agama beliau.
Karena itu untuk menunjuk kepada negara penjajah di Palestina saat ini yang benar adalah menyebutkan “negara penjajah zionis yahudi” dan bukan Israel. Zionis menunjuk kepada organisasi internasional jahat yang merancang berdirinya negara penjajah tersebut di Palestina. Sebab jika menggunakan Israel dikhawatirkan akan memberikan imbuhan laknat, celaan, cercaan kepada seorang Nabi Allah yakni Yakqub. Jika pun terpaksa menggunakannya karena tuntutan konteks jurnalistik maka menyebut itu dengan tanda petik ‘Israel’.(Pic)
Sumber: Islam Pos
Oleh: Tirmidzi Basyir
REPUBLIKA.CO.ID, TALLAHASSE -- Florida dikenal sebagai satu
titik kampanye negatif tentang Islam dan Muslim. Untuk itu, komunitas
Muslim Florida berinisiatif untuk terus mempromosikan ajaran Islam.
Bentuk implementasi pemikiran itu dimulai awal tahun ini melalui sebuah
kampanye yang diberi nama “Why Islam”.
Kampanye itu merupakan hasil kolaborasi antara Lingkar Islam Amerika Utara (ICNA), Yayasan Persatuan Muslim Amerika (UMF)dan Islamic Center Orlando (ICO). Nantinya, fokus dari kampanye ini adalah menyajikan gambaran yang akurat tentang Islam dan menciptakan peluang baru untuk dialog bersama masyarakat Amerika.
“Kami melihat itu sebagai bentuk tanggung jawab Muslim Amerika untuk memperkenalkan Islam dan mengklarifikasi kesalahpahaman tentang Muslim Amerika,” papar dia seperti dikutip dalam laman resmi ICNA, Rabu (2/1).
Guna memperkuat kampanye itu, akan dipasang 29 billboard, pembuatan linkvideo pada laman resmi ICNA dan siaran radio via jaringan AM. Selain itu,juga disediakan layanan call center 1 (877) Why Islam (949-47526). Bagi ICNA, kampanye ini bukanlah yang pertama kalinya.
Tahun lalu misalnya, ICNA memberikan mushaf Alquran dan pamflet tentang Islam dan Muslim di depan perpustakaan umum. Pamflet itu meliputi sejumlah mata pelajaran termasuk hubungan antara umat Islam dengan Kristen dan Yahudi, status perempuan, akhirat, ibadah dan pandangan Islam tentang terorisme.
Ketua UMF, Masuma Virji mengatakan pihaknya sangat tertarik menjadi bagian dari protek ini guna mendorong setiap orang untuk menelpon dan belajar lebih banyak tentang Islam. “Kami senang untuk memberikan kontribusi terhadap usaha mempromosikan ajaran Islam kepada masyarakat Amerika,” kata dia.
Sebelum ICNA, lebih dulu Dewan Hubungan Amerika Islam meluncurkan kampanye “MyJihad”. Kampanye ini bertujuan untuk berbagi makna yang tepat dari jihad. Serupa dengan “WhyIslam”, “MyJIhad” juga memanfaatkan ruang komersial dan medium komunikasi guna memperluas jangkauan.
Kampanye itu merupakan hasil kolaborasi antara Lingkar Islam Amerika Utara (ICNA), Yayasan Persatuan Muslim Amerika (UMF)dan Islamic Center Orlando (ICO). Nantinya, fokus dari kampanye ini adalah menyajikan gambaran yang akurat tentang Islam dan menciptakan peluang baru untuk dialog bersama masyarakat Amerika.
“Kami melihat itu sebagai bentuk tanggung jawab Muslim Amerika untuk memperkenalkan Islam dan mengklarifikasi kesalahpahaman tentang Muslim Amerika,” papar dia seperti dikutip dalam laman resmi ICNA, Rabu (2/1).
Guna memperkuat kampanye itu, akan dipasang 29 billboard, pembuatan linkvideo pada laman resmi ICNA dan siaran radio via jaringan AM. Selain itu,juga disediakan layanan call center 1 (877) Why Islam (949-47526). Bagi ICNA, kampanye ini bukanlah yang pertama kalinya.
Tahun lalu misalnya, ICNA memberikan mushaf Alquran dan pamflet tentang Islam dan Muslim di depan perpustakaan umum. Pamflet itu meliputi sejumlah mata pelajaran termasuk hubungan antara umat Islam dengan Kristen dan Yahudi, status perempuan, akhirat, ibadah dan pandangan Islam tentang terorisme.
Ketua UMF, Masuma Virji mengatakan pihaknya sangat tertarik menjadi bagian dari protek ini guna mendorong setiap orang untuk menelpon dan belajar lebih banyak tentang Islam. “Kami senang untuk memberikan kontribusi terhadap usaha mempromosikan ajaran Islam kepada masyarakat Amerika,” kata dia.
Sebelum ICNA, lebih dulu Dewan Hubungan Amerika Islam meluncurkan kampanye “MyJihad”. Kampanye ini bertujuan untuk berbagi makna yang tepat dari jihad. Serupa dengan “WhyIslam”, “MyJIhad” juga memanfaatkan ruang komersial dan medium komunikasi guna memperluas jangkauan.
Redaktur: Yudha Manggala P Putra
Reporter: Agung Sasongko
Islamedia
-Muslim Amerika Serikat meluncurkan kampanye iklan dan media sosial
dengan harapan untuk memulihkan citra kata "jihad" dari kelompok
ekstrim, yang dianggap sering terjebak mempersamakan laku spiritual itu
dengan terorisme.
Kampanye tersebut menampilkan gambar individu-individu Muslim yang menunjukkan perjuangan pribadi mereka -- sebagai makna Jihad -- di bus-bus, Twitter, Facebook, dan sebuah laman khusus: myjihad.org.
"Jihadku ialah menjalin persahabatan lintas batas," kata salah satu iklan yang menampilkan seorang pria Afro-Amerika bersandar ke bahu seorang teman Yahudinya, sebagaimana laporan AFP.
"Jihadku ialah untuk terus melangkah maju, walaupun kehilangan anak tercintaku," kata iklan yang lain, menampilkan potret seorang ibu dengan tiga orang anak yang tersisa. Sang Ibu kehilangan anaknya karena menderita Sindrom Hunter.
"Jihadku ialah tidak menghakimi orang dari penampilannya," kata iklan ketiga, menampilkan dua orang perempuan mengenakan kerudung.
Iklan kampanye muslim tersebut turut dipicu oleh merebaknya serangkaian iklan bermuatan kebencian yang menjuluki Muslim sebagai "kaum bengis" dan mendorong orang-orang untuk "mengalahkan jihad", iklan-iklan kebencian tadi ditempelkan di bus-bus dan kereta-kereta di New York, Chicago, dan San Fransisco.
Tetapi iklan kampanye balasan tersebut juga ditujukan kepada kalangan muslim, mengingat makin besarnya rasa kecewa karena pendistorsian dan pembusukan makna jihad sebagai keyakinan iman mereka yang mendasar.
"Jihad ialah sebuah istilah yang malangnya telah disalahtafsirkan secara luas oleh aksi-aksi kalangan ekstrim, dan oleh usaha-usaha indoktrinasi masyarakat yang datang dari kelompok-kelompok Islamofobik yang mengklaim bahwa ekstrimis minoritas itu benar dan muslim mayoritas itu keliru," kata Rehab, yang merupakan salah satu direktur eksekutif CAIR cabang Chicago.
"Kampanye MyJihad ialah untuk merebut ulang makna jihad dari penafsiran ekstrim anti-Muslim," lanjut Rahab.
Iklan-iklan tersebut ditempatkan di bus-bus di Chicago. Rehab mengharapkan dapat meningkatkan pendanaan untuk memperluas jangkauan kampanye hingga ke kota New Yok, Washington, San Francisco, Seattle, Houston, Dallas, dan Oklahoma City. Panitia penyelenggara juga sedang mempersiapkan agar iklan-iklan tersebut bisa tampil di bus-bus di Toronto, London, Manchester, Sydney, dan Melbourne. [iinanews]
Sumber: Islamedia
Amerika,
Baranti,
Berita,
Blog,
Facebook,
Islamedia.Web.Id,
Jihad,
Kampanye,
Luruskan,
Makna Jihad,
media,
media dakwah,
Mukmin,
Mukminin,
Muslim,
MyJihad.Org,
Sidrap,
Sidrap Mukminin,
Twitter
Kampanye tersebut menampilkan gambar individu-individu Muslim yang menunjukkan perjuangan pribadi mereka -- sebagai makna Jihad -- di bus-bus, Twitter, Facebook, dan sebuah laman khusus: myjihad.org.
"Jihadku ialah menjalin persahabatan lintas batas," kata salah satu iklan yang menampilkan seorang pria Afro-Amerika bersandar ke bahu seorang teman Yahudinya, sebagaimana laporan AFP.
"Jihadku ialah untuk terus melangkah maju, walaupun kehilangan anak tercintaku," kata iklan yang lain, menampilkan potret seorang ibu dengan tiga orang anak yang tersisa. Sang Ibu kehilangan anaknya karena menderita Sindrom Hunter.
"Jihadku ialah tidak menghakimi orang dari penampilannya," kata iklan ketiga, menampilkan dua orang perempuan mengenakan kerudung.
Iklan kampanye muslim tersebut turut dipicu oleh merebaknya serangkaian iklan bermuatan kebencian yang menjuluki Muslim sebagai "kaum bengis" dan mendorong orang-orang untuk "mengalahkan jihad", iklan-iklan kebencian tadi ditempelkan di bus-bus dan kereta-kereta di New York, Chicago, dan San Fransisco.
Tetapi iklan kampanye balasan tersebut juga ditujukan kepada kalangan muslim, mengingat makin besarnya rasa kecewa karena pendistorsian dan pembusukan makna jihad sebagai keyakinan iman mereka yang mendasar.
"Jihad ialah sebuah istilah yang malangnya telah disalahtafsirkan secara luas oleh aksi-aksi kalangan ekstrim, dan oleh usaha-usaha indoktrinasi masyarakat yang datang dari kelompok-kelompok Islamofobik yang mengklaim bahwa ekstrimis minoritas itu benar dan muslim mayoritas itu keliru," kata Rehab, yang merupakan salah satu direktur eksekutif CAIR cabang Chicago.
"Kampanye MyJihad ialah untuk merebut ulang makna jihad dari penafsiran ekstrim anti-Muslim," lanjut Rahab.
Iklan-iklan tersebut ditempatkan di bus-bus di Chicago. Rehab mengharapkan dapat meningkatkan pendanaan untuk memperluas jangkauan kampanye hingga ke kota New Yok, Washington, San Francisco, Seattle, Houston, Dallas, dan Oklahoma City. Panitia penyelenggara juga sedang mempersiapkan agar iklan-iklan tersebut bisa tampil di bus-bus di Toronto, London, Manchester, Sydney, dan Melbourne. [iinanews]
Sumber: Islamedia
Salah satu masjid di Turki melakukan cara unik untuk mengajak anak-anak mencintai masjid dan rajin shalat di dalamnya.
Situs Hurriyet mengabarkan (2/1), bagi anak-anak yang rutin hadir 180 kali untuk shalat ke masjid akan mendapat tablet PC, seperti dikatakan Cebrail Öztürk, Imam masjid Dayili di Central Anatolia distrik Yozgat.
“Kami berusaha mencari perhatian anak-anak dan mendorong mereka untuk shalat ke masjid dengan memanfaatkan antusiasme mereka terhadap teknologi dan internet,” kata Öztürk.
Masjid ini berencana membagikan tablet PC kepada anak-anak yang datang ke masjid sebanyak 180 kali dalam waktu dua bulan berturut-turut.
“Anak-anak dapat mengumpulkan kupon yang akan kami bagikan setiap selesai shalat,” ujarnya.
Pemberian hadiah ini dibiayai dari hasil kontribusi warga desa dan warga Turki yang tinggal di Eropa.
Reporter: Sarah Attar
Redaktur: Farid Zakaria
Sumber: Islampos
Anak,
Anak-anak,
Baranti,
Berita,
Central Anatolia,
Hadiah,
Hurriyet,
ISLAMPOS,
Masjid,
media,
Rajin,
Sidrap,
Tablet PC,
Turki
Situs Hurriyet mengabarkan (2/1), bagi anak-anak yang rutin hadir 180 kali untuk shalat ke masjid akan mendapat tablet PC, seperti dikatakan Cebrail Öztürk, Imam masjid Dayili di Central Anatolia distrik Yozgat.
“Kami berusaha mencari perhatian anak-anak dan mendorong mereka untuk shalat ke masjid dengan memanfaatkan antusiasme mereka terhadap teknologi dan internet,” kata Öztürk.
Masjid ini berencana membagikan tablet PC kepada anak-anak yang datang ke masjid sebanyak 180 kali dalam waktu dua bulan berturut-turut.
“Anak-anak dapat mengumpulkan kupon yang akan kami bagikan setiap selesai shalat,” ujarnya.
Pemberian hadiah ini dibiayai dari hasil kontribusi warga desa dan warga Turki yang tinggal di Eropa.
Reporter: Sarah Attar
Redaktur: Farid Zakaria
Sumber: Islampos
ORLANDO .Media cetak maupun online adalah salah satu sarana yang kini banyak
dimanfaatkan oleh kaum Muslimin untuk berdakwah. Di Orlando, Florida,
Amerika Serikat, organisasi Muslim lokal telah memulai kampanye media
yang menekankan bahwa semua Nabi yang diutus Allah membawa pesan yang
sama, yaitu Tauhid.
Ormas Islam Orlando memasang papan iklan yang menyatakan "Same family, Same message" (Keluarga yang sama, Pesan yang sama) dengan menyebut nama Nabi Ibrahim ('alaihissalam), Musa ('alaihissalam), Isa ('alaihissalam), dan Muhammad (shalallahu 'alaihi wa sallam), yang telah terpasang di seluruh daerah Orlando dan Pantai Daytona. Iklan ini disponsori oleh American Muslim Community Centers, Islamic Center Orlando dan United Muslim Foundation di Lake Mary.
Ide ini bertujuan untuk menyebarkan pesan bahwa pada dasarnya semua Nabi, terkhusus Nabi dan Rasul tersebut, diutus untuk menyampaikan pesan yang sama, yaitu memerintahkan manusia agar hanya menyembah Allah yang satu dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun.
Iklan ini juga memiliki beberapa slogan yang berbeda, menurut situs yang mensponsori program ini whyislam.org
yang berbasis di New York. Kampanye yang bertema "Why Islam" ini
bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan meluruskan kesalahpahaman
terhadap Islam di mata orang-orang Amerika.
Kampanye iklan dakwah ini juga merupakan balasan bagi orang-orang anti-Islam yang menyebarkan iklan berisi pesan-pesan anti-Islam.
(siraaj/arrahmah.com)
Arrahmah.com,
Baranti,
Berita,
Blog,
dakwah,
Florida,
Iklan,
Islam,
media,
media dakwah,
Muslim,
Nabi,
Orlando,
Pesan,
Sidrap,
Tauhid
Ormas Islam Orlando memasang papan iklan yang menyatakan "Same family, Same message" (Keluarga yang sama, Pesan yang sama) dengan menyebut nama Nabi Ibrahim ('alaihissalam), Musa ('alaihissalam), Isa ('alaihissalam), dan Muhammad (shalallahu 'alaihi wa sallam), yang telah terpasang di seluruh daerah Orlando dan Pantai Daytona. Iklan ini disponsori oleh American Muslim Community Centers, Islamic Center Orlando dan United Muslim Foundation di Lake Mary.
Ide ini bertujuan untuk menyebarkan pesan bahwa pada dasarnya semua Nabi, terkhusus Nabi dan Rasul tersebut, diutus untuk menyampaikan pesan yang sama, yaitu memerintahkan manusia agar hanya menyembah Allah yang satu dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun.
Kampanye iklan dakwah ini juga merupakan balasan bagi orang-orang anti-Islam yang menyebarkan iklan berisi pesan-pesan anti-Islam.
(siraaj/arrahmah.com)
(Fatwa Syaikh Al Albany , Ibnu Baaz , Ibnu Utsaimin rahimahumullah serta Fatwa Lajnah Daimah KSA)
artikel,
Baranti,
Fatwa,
Islam,
kerja sama,
Mukmin,
Mukminin,
Organisasi,
Sidrap,
Syaikh Al Albany,
tolong menolong
1.Syaih Al Albany rahimahullah
1 - Syaikh Al Albany rahimahullah
ditanya tentang Jam’iyah AlHikmah AlYamaniyah (Organisasi AlHikmah dari
Yaman),,beliaupun menjawab :
“Setiap jam’iyyah/organisasi yang
dibentuk diatas dasar islam yang benar yang mana hukum-hukumnya
disimpulkan dari Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah serta berada diatas
manhaj para salafushshalih,,setiap organisasi yang didirikan atas dasar
ini maka tidak ada alasan untuk diingkari dan dituduh sebagai
hizbiyah,karena hal tersebut termasuk dalam firman Allah ta’ala : “Dan saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan takwa”….Saling
tolong menolong merupakan perkara yang syar’i dan wasilahnya/sarananya
kadang berbeda antara satu zaman dengan zaman lainnya dan antara satu
tempat dengan tempat lainnya dan juga antara satu negara dengan negara
lainnya,,oleh karena itu menebarkan tuduhan
terhadap oraganisasi yang berdiri diatas dasar ini (AlQuran dan Sunnah)
dengan label “Hizbiyyah” atau “Bid’iyyah”, maka ini adalah klaim yang
tidak boleh seorangpun berpendapat dengannya sebab hal ini menyelisihi
apa yang telah ditetapkan oleh para ulama berupa pembedaan antara bid’ah
yang disifati dengan kesesatan secara umum dan sunnah hasanah.Sunnah
hasanah merupakan suatu metode yang dibuat dan diadakan sebagai
wasilah/sarana yang bisa mengantarkan kaum muslimin pada suatu
maksud/tujuan dan masyru’ secara nash.Jadi,organisasi-organisasi yang
ada dizaman ini tidaklah berbeda dengan semua jenis sarana yang ada pada
zaman ini yang bertujuan untuk mengantarkan kaum muslimin pada
tujuan-tujuan syar’i,,Dan apa yang ada dalam majelis kita ini berupa
penggunaan alat rekam dengan ragam jenisnya,adalah bagian dari masalah
ini (sarana yang dibolehkan -pent)…Ia adalah wasilah yang dibuat
baru,jika digunakan untuk mewujudkan tujuan yang syar’i,maka ia
merupakan wasilah yang syar’i,dan jika digunakan untuk tujuan yang tidak
syar’i,maka ia bukan wasilah yang syar’i..demikian pula sarana
transportasi yang beragam hari ini berupa mobil,pesawat dan
selainnya,semuanya merupakan wasilah,jika digunakan untuk tujuan syar’i
maka ia adalah wasilah yang syar’I,jika tidak maka ia bukan wasilah
syar’i. (Silsilah Al Huda wa An Nur ,kaset no.590 )
2 – Beliau juga ditanya tentang
hukum organisasi sosial yang memberikan bantuan terhadap fakir miskin
serta melaksanakan amalan-amalan sosial,beliau lalu menjawab :
“Jika organisasi-organisasi sosial
tersebut melaksanakan seperti apa yang telah engkau sebutkan,maka ini
kembali kepada kita untuk menyatakan bahwa disetiap negeri islam
problemnya adalah sama,,jika kalian memiliki organisasi-organisasi
sosial dan kami juga mungkin saja memiliki lebih dari satu organisasi
sosial,atau di Surya juga demikian dan seterusnya…maka jawaban ini
adalah mencakup semua organisasi yang ada disemua negara,khususnya
orang-orang yang hidup dinegeri-negeri kafir,seperti di Eropa,Amerika
dan sebagainya…jika organisasi sosial ini berdiri diatas hukum
syar’i,maka dibolehkan karena termasuk dalam keumuman firman Allah
ta’ala “Tidakkah engkau melihat orang yang mendustakan agama ?” kemudian Dia menyebutkan diantaranya ”Dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin” Ayat ini selalu kita baca,kalau begitu memberi makan orang miskin adalah perkara yang masyru’. (Silsilah Al Huda wa An Nur ,kaset no.358 )
3 - Beliau juga berkata : “Jika
mereka (pemilik organisasi) ingin menggunakan organisasi mereka bukan
untuk dakwah misalnya hanya untuk mengumpulkan harta dan membantu
orang-orang fakir dan miskin maka organisasi sosial ini juga adalah baik
karena ia merupakan makna dari firman Allah ta’ala Dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin”,
Pemberian
ini merupakan perkara yang baik,sangat dianjurkan dalam AlQuran ,ini
adalah amalan sosial yang baik jika organisasi ini tidak memusuhi para
da’I yang menyeru kembalinya umat ini kepada manhajnya salafushsholih
baik dari segi aqidah,fiqh,akhlak dan sebagainya…(Al As-ilah Asy Syaamiyah 29-30)
2.Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah
1-Ibnu Baaz rahimahullah berkata :
“Dan jika Organisasi semakin banyak dalam suatu negeri islam yang
semuanya dibentuk dengan tujuan kebaikan,pemberian bantuan,dan saling
tolong menolong dalam kebaikan dan takwa antara sesama kaum muslimin
tanpa adanya perselisihan hawa nafsu antara pemilik-pemiliknya,maka ia
merupakan hal yang baik lagi berkah,dan manfaatnyapun sangatlah
besar,,adapun jika suatu organisasi menyesatkan organisasi lainnya serta
suka mengkritik kegiatan-kegiatannya (yang baik),maka bahaya yang akan
muncul darinya sangatlah besar dan akibatnya sangat merugikan.” (Majmu’
Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah 5/202-204)
2-Beliau juga berkata : Pada zaman
kita –walillahilhamdu- terdapat banyak jama’ah yang berdakwah kejalan
yang haq seperti yang ada di Jazirah Arab, Kerajaan Arab
Saudi,Yaman,Khalij (Teluk
Arab),Mesir,Syam,Afrika,Eropa,Amerika,India,Pakistan,dan negara-negara
lainnya diseluruh dunia,semuanya terdapat kelompok-kelompok
,organisasi-organisasi islam dan islamic-islamic centre yang berdakwah
kepada yang haq dan memperingatkan manusia dari yang batil.Maka bagi
seorang muslim yang mencari kebenaran dimanapun ia berada,hendaknya
mencari jama’ah-jama’ah islam ini,jika ia menemukan sebuah
kelompok,islamic centre atau organisasi yang menyeru kepada Kitab Allah
dan Sunnah RasulNya maka ia seharusnya mengikuti dan berkumpul dengan
mereka,seperti Organisasi Anshar As Sunnah di Mesir, Organisasi Ahli
Hadis di Pakistan dan India,dan selain mereka yang menyeru kepada Kitab
Allah dan Sunnah RasulNya,serta mengikhlaskan tauhid/ibadah hanya kepada
Allah saja,dan tidak berdoa kepada selainNya baik para ahli kubur
ataupun selainnya.
3.Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin rahimahullah
1- Ibnu Al ‘Utsaimin rahimahullah ditanya : “Assalaamu’alaikum
warahmatullah wabarakatuhu…amma ba’du…Sesungguhnya telah terjadi
perselisihan antara para pemuda dinegeri kami seputar bolehnya
mendirikan organisasi sosial yang membantu fakir miskin dan anak-anak
yatim,dan mengajarkan para pemuda AlQuran dengan cara membuat tempat/
suasana yang cocok dengan mereka agar bisa menghafal AlQuran AlKarim dan
Sunnah Nabi..Namun sebagian pemuda memandang bahwa hal ini adalah
bid’ah yang tidak boleh karena tidak ada dizaman Nabi shallallahu’alaihi
wasallam,dan juga tidak pernah ada pada zaman para sahabat
radhiyallahu’anhum,,bahkam perselisihan dalam masalah ini sampai-sampai
berujung pada sikap saling mencela,mencaci maki dan permusuhan antara
orang yang memiliki kerendahan ilmu yang mengatakan bahwa organisasi ini
menyelisihi ruh/hakikat islam,dan orang yang berusaha melarang adanya
perselisihan,permusuhan,dan saling memanggil dengan julukan yang
buruk.Kami sangat mengharap darimu wahai Syaikh yang mulia untuk
memberikan nasehat kepada para pemuda tersebut disertai dengan fatwa
syar’i,sebab nampak bagiku bahwa semua pemuda yang berselisih tersebut
mencintai anda,dan sangat percaya dengan keilmuan anda…semoga Allah
memberikan ganjaran kebaikan kepada anda serta senantiasa menjaga anda.”
Beliau menjawab :
“Bismillahirrahmanirrahim..wa’alaikumussalaam warahmatullahi
wabarakaatuhu…Tidak apa-apa membentuk suatu panitia untuk menampung
harta sedekah dan zakat dan selainnya yang berupa infak syar’i,karena
hal tersebut merupakan sebuah wasilah/sarana untuk mengatur
perkara-perkara ini baik ketika menampungnya ataupun ketika
membagikannya (pada yang membutuhkan).Ini adalah tujuan/maksud yang
syar’I,tidak mungkin bisa dicapai kecuali dengan adanya panitia-panitia
ini,dan setiap wasilah/sarana yang dimaksudkan untuk tujuan syar’I maka
ini dibolehkan selama tidak menganggap wasilah ini sebagai ibadah secara
dzatnya. (Dari : Majmu Fatawa wa Rasaail Syaikh Ibnu Utsaimin )
2 -Beliau juga ditanya : Dakwah
dinegeri kami secara khusus diatur oleh sebuah
tandzhim/organisasi,dengannya kami membagi-bagi (tugas) berdasarkan
daerah,ini secara khusus dilakukan oleh Jam’iyyah / Organisasi Ihya
Turots,yang mana kami terbagi-bagi dalam beberapa cabang,dan setiap
cabang memiliki satu pimpinan,dan pemimpin ini selalu merujuk pada
pimpinan yang lebih tinggi kedudukannya darinya seperti dalam hal
pengaturan dakwah dari segi kajian-kajian dan sebagainya.Apakah pemimpin
kami ini,wajib untuk ditaati ?
Beliau menjawab : Jika tandzhim ini
dibuat oleh pemerintah maka wajib untuk mentaati apa yang dikatakan
olehnya karena ia adalah wakilnya pemerintah yang wajib untuk ditaati
(perintahnya) kecuali kalau berkaitan dengan maksiat kepada Allah.Adapun
kalau hal itu hanyalah tandzhim/organisasi dalam negeri yang tidak ada
hubungannya dengan pemerintah,maka apabila mereka meridhainya sebagai
pemimpin mereka,maka taat kepadanya adalah suatu kewajiban,dan jika
tidak meridhainya sebagai pemimpin,maka ia tidak wajib mentaatinya. (Dari Al Liqa Al Maftuh )
4.Fatwa Lajnah Daimah Kerajaan Arab Saudi
Lajnah Daimah KSA ditanya :
Bolehkah mengumpulkan harta untuk kepentingan kegiatan-kegiatan
sosial,dan penjualan buku-buku islam di Masjid-masjid Prancis ?
Lajnah Daimah dibawah pimpinan Syaikh
Ibnu Baaz rahimahullah dan beranggotkan Syaikh Abdullah bin
Qu’ud,Abdullah bin Ghudyan,dan AbdurRazzaq ‘Afify rahimahumullah
menjawab : “ Boleh untuk mengumpulkan harta sumbangan dimasjid-masjid
untuk diserahkan kepada organisasi sosial karena hal tersebut termasuk
dalam tolong menolong dalam kebaikan,Allah ta’ala telah berfirman : “Dan saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan takwa” (Dari Fatawa Lajnah Daimah)
NB : Hendaknya
yang membaca fatwa ini menyebarkannya kepada ikhwah dan akhwat yang
lain,karena banyak diantara mereka yang belum mengetahui adanya fatwa
ini.jazaakumullah khairan.
Sumber : http://darul-anshar.com
- Prof Kasim Mathar: Dari sudut pandang Islam, aliran-aliran ini memang harus dibubarkan. Pertama, ia bisa secara sistemik merusak akidah orang-orang Islam.
- Ketua Komisi Fatwa MUI Makassar Ali Parman mengatakan, salah satu aliran yang menjadi perhatian MUI Makassar saat ini adalah aliran Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang merupakan wajah lain dari sebuah sekte sesat Al Qiyadah Al Islamiyah.
Aliran ini, kata dia, mengajarkan ajaran-ajaran yang bertentangan dengan syariat Islam.
Mulai dari tidak wajib mengerjakan salat hingga penilaian bahwa berhaji merupakan ibadah yang hanya menghamburkan uang.
Mulai dari tidak wajib mengerjakan salat hingga penilaian bahwa berhaji merupakan ibadah yang hanya menghamburkan uang.
- Abu Bakar Paka: Seringkali demokrasi dijadikan tameng untuk berlindung. “Ini yang harus diwaspadai. Banyak aliran dalam Islam yang sebenarnya lahir untuk menghancurkan Islam.”
- Aparat memegang peran paling penting. Aaparat dan lembaga-lembaga Islam seperti MUI bekerja lebih cepat dan bertindak tepat, agar masyarakat tidak mendahului mengambil tindakan-tindakan yang bertentangan dengan hukum.
- Abu Abdillah: Sudah banyak aliran yang sebenarnya nampak di depan mata bertentangan dengan akidah Islam. Diantaranya, sekarang ini ada aliran yang membolehkan nikah mut’ah.
Aliran
ini telah berkembang pesat di kampus-kampus dan banyak melibatkan
mahasiswa sebagai pengikutnya. Aliran tersebut akan semakin memperluas
pengaruhnya dan sedikit demi sedikit menggerogoti tatanan beragama di
masyarakat kita.
Inilah beritanya.
***
MUI Akan Rilis 11 Aliran Sesat di SulselMAKASSAR, FO – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Makassar, Minggu (16/12) merilis 10 kriteria aliran sesat yang diharamkan untuk diikuti. Kriteria ini dirilis secara terbuka di tengah tumbuh suburnya sejumlah aliran Islam sempalan yang dipandang berpotensi merusak akidah dan memicu gejolak sosial.Kriteria tersebut diantaranta, mengingkari salah satu rukun iman dan Islam, meyakini atau mengikuti akidah yang tak sesuai Alquran dan sunnah, meyakini turunnya wahyu sesudah Alquran dan mengingkari keaslian dan atau kebenaran Alquran.
Kriteria lainnya, menafsirkan Alquran yang tidak berdasar kaedah tafsir, mengingkari kedudukan hadits Nabi Muhammad sebagai sumber ajaran Islam, menghina, melecehkan atau merendahkan nabi-nabi dan rasul, mengingkari Nabi Muhammad sebagai nabi atau rasul terakhir, serta mengubah, menambah dan mengurangi pokok-pokok ibadah seperti shalat fardu, puasa atau haji serta mengafirkan sesama Muslim, hanya karena bukan kelompoknya.Hal tersebut terkuak dalam acara seminar tentang fenomena munculnya aliran sesat dalam masyarakat Muslim Indonesia, di ruang rapat Gedung Muhammadiyah Cabang Sulsel, Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, Minggu (16/12).
Dalam acara tersebut, MUI juga merilis, terdapat 11 aliran sesat di Sulsel. Namun saja MUI belum bersedia merilis nama-nama aliran sesat tersebut. Lembaga para alim ulama ini, berjanji akan merilis 10 aliran sesat itu dalam waktu dekat.Seminar menampilkan pemateri Prof Kasim Mathar dan Abu Bakar Paka. Keduanya, membenarkan adanya 10 kriteria aliran yang harus dijauhi. Mereka bahkan merekomendasikan pembubaran aliran yang dinilai sempalan tersebut.“Saya kira memang harus dirilis terbuka, dan menjadi kewajiban aparat untuk membubarkannya. Karena ini bukan sekadar merusak akidah, tapi juga berpotensi memantik gejolak di masyarakat,” terang Kasim.Menurut Kasim, dari sudut pandang Islam, aliran-aliran ini memang harus dibubarkan. Pertama, ia bisa secara sistemik merusak akidah orang-orang Islam.Terbukti, banyak aliran sesat yang hadir di masyarakat, dengan mudah bisa menghimpun pengikut. Selanjutnya, dampak sosial adalah hal yang paling mengkhawatirkan.
Kasim menjelaskan, fenomena yang terjadi adalah ketika kelompok ini mampu menghimpun pengikut, maka yang timbul adalah kegoncangan di masyarakat. “Inilah yang sering memicu masyarakat bermain hakim sendiri. Nah, untuk mencegahnya, MUI harus bersikap bersama aparat,” katanya.Abu Bakar Paka menambahkan, aliran sesat adalah fenomena yang telah ada sejak dulu. Aliran ini datang dari berbagai latar belakang, motif serta ajaran.Mereka telah diperangi oleh Rasulullah dan para sahabat. Namun, tentu saja dewasa ini fenomenanya berbeda dari yang terdahulu.
Karena mereka berada di alam demokrasi, maka seringkali demokrasi dijadikan tameng untuk berlindung. “Ini yang harus diwaspadai. Banyak aliran dalam Islam yang sebenarnya lahir untuk menghancurkan Islam,” papar Abu Bakar.Aparat kata dia memegang peran paling penting. Abu Bakar berharap, aparat dan lembaga-lembaga Islam seperti MUI bekerja lebih cepat dan bertindak tepat, agar masyarakat tidak mendahului mengambil tindakan-tindakan yang bertentangan dengan hukum.
“Saya yakin kalau aparat kita bertindak cepat, masyarakat tidak perlu turun tangan. Yang kadang terjadi kalau aparat terlambat, masyarakat yang mengambil alih. Itu sangat berbahaya,” pintanya.Di tempat yang sama, Ketua Komisi Fatwa MUI Makassar Ali Parman mengatakan, salah satu aliran yang menjadi perhatian MUI Makassar saat ini adalah aliran Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang merupakan wajah lain dari sebuah sekte sesat Al Qiyadah Al Islamiyah.Aliran ini, kata dia, mengajarkan ajaran-ajaran yang bertentangan dengan syariat Islam.
Mulai dari tidak wajib mengerjakan salat hingga penilaian bahwa berhaji merupakan ibadah yang hanya menghamburkan uang.“Mereka juga membolehkan Muslimah mengenakan celana pendek,” katanya.Ali Parman menambahkan, keberadaan aliran Gafatar ini menjadi berbincangan hangat di kalangan petinggi MUI. Apa yang dilakukan oleh MUI ini demi menjaga ajaran Islam agar tetap pada kodratnya.Selain Gafatar, ada beberapa aliran yang juga sedang dicermati sepak terjangnya. Ajaran-ajaran itu secara umum tampak sama dengan Islam umumnya. Namun pada ajaran pokok akidahnya sangat bertentangan dengan Islam.“Bahkan menginjak-injak akidah Islam,” terang Ali.Abu Abdillah, pemerhati Islam yang dihubungi Berita Kota malam tadi, mengatakan, MUI adalah lembaga yang dipercaya publik Islam untuk memfilter hal-hal seperti ini. Jika sudah dipastikan ke-11 aliran ini bertentangan dengan akidah Islam, maka wajib bagi MUI berkoordinasi dengan kepolisian untuk membubarkannya.
*NAHIMUNKAR.COM“Saya kira itu jalan paling ideal. Jangan berlama-lama karena akan memberi ruang gerak yang lebih luas kepada mereka,” katanya.Menurut Abu Abdillah, sudah banyak aliran yang sebenarnya nampak di depan mata bertentangan dengan akidah Islam. Diantaranya, sekarang ini ada aliran yang membolehkan nikah mut’ah.Aliran ini telah berkembang pesat di kampus-kampus dan banyak melibatkan mahasiswa sebagai pengikutnya.
“Ini sudah sangat pesat perkembangannya. Dan tidak ada gerakan konkret dari MUI untuk mencegahnya,” ketusnya.MUI menurut dia, harus segera bersikap, karena jika tidak, bukan tidak mungkin aliran tersebut akan semakin memperluas pengaruhnya dan sedikit demi sedikit menggerogoti tatanan beragama di masyarakat kita.(bkm) Senin, 17 Desember 2012 | 15:13:47 WITA | fajar.co.id
Hukum Mengucapkan Selamat Tahun baru
Soal:
Apa
hukum ucapan selamat tahun baru yang dikerjakan oleh sebagian orang
seperti seseorang mengatakan kepada lainnya: Sepanjang tahun semoga
kalian dalam keadaan baik, dan semacamnya.
Jawab:
Ucapan
selamat pada awal tahun baru tidak dikenal bagi salaf (generasi
terdahulu dalam Islam), makanya lebih utama ditinggalkan, tetapi
seandainya seseorang mengucapi selamat kepada orang lain dalam bentuk
bahwa tahun yang telah lalu itu dihabiskan dalam ketaatan kepada Allah
‘Azza wa Jalla, lalu diucapi selamat karena panjang umurnya dalam
ketaatan kepada Allah, maka ini tidak mengapa. Karena sebaik-baik
manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya. Tetapi ucapan
selamat ini hanya khusus pada awal tahun Hijriyah. Adapaun awal tahun
Miladiyah (Masehi) maka sesesungguhnya tidak boleh mengucapi selamat
dengannya, karena ia bukan tahun syar’i, bahkan apabila orang-orang
kafir diucapi selamat dengannya atas hari rayanya maka orang ini dalam
keadaan bahaya besar kalau mengucapi selamat kepada mereka dengan
hari-hari raya kekafiran. Karena ucapan selamat dengan hari-hari raya
kekafiran itu berarti senang dengannya dan menambahi (kesenangan
mereka), sedangkan senang dengan hari-hari raya kekafiran itu bisa-bisa
mengeluarkan manusia dari lingkaran Islam, sebagaimana Ibnul Qayyim
rahimahullah telah menyebutkan hal itu dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah.
Ringkas
kata, ucapan selamat pada awal tahun Hijriyah, lebih baik ditinggalkan,
tak diragukan lagi. Karena hal itu bukan dari (kebiasaan) masa salaf
(dahulu). Kalau dikerjakan oleh seseorang maka tidak berdosa. Adapun
ucapan selamat pada awal tahun baru Miladiyah (Masehi) maka tidak boleh.
(الشيخ محمد بن صالح العثيمين, Syekh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin, Liqoatul Babil Maftuh, juz 112 halaman 6).
***
Teks fatwa komplitnya:
حكم التهنئة برأس العام الجديد:
______________
السؤال: ما حكم التهنئة لبداية السنة, بما يفعله الناس كأن يقول أحدهم للآخر: كل عام وأنتم بخير ونحو ذلك؟
______________
الجواب: التهنئة برأس العام الجديد ليست معروفة عند السلف, ولهذا تركها أولى, لكن لو أن الإنسان هنأ الإنسان بناءً على أنه في العام الذي مضى أفناه في طاعة الله عز وجل فيهنئه لطول عمره في طاعة الله فهذا لا بأس به, لأن خير الناس من طال عمره وحسن عمله, لكن هذه التهنئة إنما تكون على رأس العام الهجري, أما رأس العام الميلادي فإنه لا يجوز التهنئة به؛ لأنه ليس عاماً شرعياً بل إن هنئ به الكفار على أعيادهم، فهذا يكون الإنسان فيه على خطر عظيم أن يهنئهم بأعياد الكفر, لأن التهنئة بأعياد الكفر رضا بها وزيادة, والرضا بالأعياد الكفرية ربما يخرج الإنسان من دائرة الإسلام, كما ذكر ذلك ابن القيم رحمه الله في كتابه أحكام أهل الذمة. وخلاصة القول: أن التهنئة برأس العام الهجري تركها أولى بلا شك؛ لأنها ليست من عهد السلف, وإن فعلها الإنسان فلا يؤثم, وأما التهنئة برأس العام الميلادي فلا.
لقاءات الباب المفتوح – (ج 112 / ص 6)
Komisi Fatwa Saudi Arabia, Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ ditanya,
“Apakah boleh mengucapkan selamat tahun baru Masehi pada non muslim, atau selamat tahun baru Hijriyah atau selamat Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? ”
Al Lajnah Ad Daimah menjawab,
لا تجوز التهنئة بهذه المناسبات ؛ لأن الاحتفاء بها غير مشروع
“Tidak boleh mengucapkan selamat pada perayaan semacam itu karena perayaan tersebut adalah perayaan yang tidak masyru’ (tidak disyari’atkan).”
Wa billahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘alihi wa shohbihi wa sallam.
Yang menandatangani fatwa ini:
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Alu Syaikh selaku ketua; Syaikh
‘Abdullah bin Ghudayan, Syaikh Sholih Al Fauzan, Syaikh Bakr Abu Zaid
selaku anggota.
[Soal pertama dari Fatwa no. 20795][1]Sumber: Nahimunkar.com dan Rumaysho.com
Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah, Rabb yang memberikan
hidayah demi hidayah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad,
keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga
akhir zaman. Manusia di berbagai negeri sangat antusias menyambut
perhelatan yang hanya setahun sekali ini. Hingga walaupun sampai lembur
pun, mereka dengan rela dan sabar menunggu pergantian tahun. Namun
bagaimanakah pandangan Islam -agama yang hanif- mengenai perayaan
tersebut? Apakah mengikuti dan merayakannya diperbolehkan? Semoga
artikel yang singkat ini bisa menjawabnya.
Sejarah Tahun Baru Masehi
Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.[1]
Dari sini kita dapat menyaksikan bahwa perayaan tahun baru dimulai dari orang-orang kafir dan sama sekali bukan dari Islam. Perayaan tahun baru ini terjadi pada pergantian tahun kalender Gregorian yang sejak dulu telah dirayakan oleh orang-orang kafir.
Berikut adalah beberapa kerusakan akibat seorang muslim merayakan tahun baru.
Kerusakan Pertama: Merayakan Tahun Baru Berarti Merayakan ‘Ied (Perayaan) yang Haram
Perlu diketahui bahwa perayaan (‘ied) kaum muslimin ada dua yaitu ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha. Anas bin Malik mengatakan,
كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى
“Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.’”[2]
Namun setelah itu muncul berbagai perayaan (‘ied) di tengah kaum muslimin. Ada perayaan yang dimaksudkan untuk ibadah atau sekedar meniru-niru orang kafir. Di antara perayaan yang kami maksudkan di sini adalah perayaan tahun baru Masehi. Perayaan semacam ini berarti di luar perayaan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maksudkan sebagai perayaan yang lebih baik yang Allah ganti. Karena perayaan kaum muslimin hanyalah dua yang dikatakan baik yaitu Idul Fithri dan Idul Adha.
Perhatikan penjelasan Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta’, komisi fatwa di Saudi Arabia berikut ini:
Al Lajnah Ad Da-imah mengatakan, “Yang disebut ‘ied atau hari perayaan secara istilah adalah semua bentuk perkumpulan yang berulang secara periodik boleh jadi tahunan, bulanan, mingguan atau semisalnya. Jadi dalam ied terkumpul beberapa hal:
Hukum ied (perayaan) terbagi menjadi dua:
1. Ied yang tujuannya adalah beribadah, mendekatkan diri kepada Allah dan mengagungkan hari tersebut dalam rangka mendapat pahala, atau
2. Ied yang mengandung unsur menyerupai orang-orang jahiliah atau golongan-golongan orang kafir yang lain maka hukumnya adalah bid’ah yang terlarang karena tercakup dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa yang mengada-adakan amal dalam agama kami ini padahal bukanlah bagian dari agama maka amal tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Misalnya adalah peringatan maulid nabi, hari ibu dan hari kemerdekaan. Peringatan maulid nabi itu terlarang karena hal itu termasuk mengada-adakan ritual yang tidak pernah Allah izinkan di samping menyerupai orang-orang Nasrani dan golongan orang kafir yang lain. Sedangkan hari ibu dan hari kemerdekaan terlarang karena menyerupai orang kafir.”[3] -Demikian penjelasan Lajnah-
Begitu pula perayaan tahun baru termasuk perayaan yang terlarang karena menyerupai perayaan orang kafir.
Kerusakan Kedua: Merayakan Tahun Baru Berarti Tasyabbuh (Meniru-niru) Orang Kafir
Merayakan tahun baru termasuk meniru-niru orang kafir. Dan sejak dulu Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mewanti-wanti bahwa umat ini memang akan mengikuti jejak orang Persia, Romawi, Yahudi dan Nashrani. Kaum muslimin mengikuti mereka baik dalam berpakaian atau pun berhari raya.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ » . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ « وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ »
“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“[4]
Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ . قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang penuh lika-liku, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” [5]
An Nawawi -rahimahullah- ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziro’ (hasta) serta lubang dhob (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashroni. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal kekufuran. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini.”[6]
Lihatlah apa yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa yang beliau katakan memang benar-benar terjadi saat ini. Berbagai model pakaian orang barat diikuti oleh kaum muslimin, sampai pun yang setengah telanjang. Begitu pula berbagai perayaan pun diikuti, termasuk pula perayaan tahun baru ini.
Ingatlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara tegas telah melarang kita meniru-niru orang kafir (tasyabbuh).
Beliau bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” [7]
Menyerupai orang kafir (tasyabbuh) ini terjadi dalam hal pakaian, penampilan dan kebiasaan. Tasyabbuh di sini diharamkan berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama (ijma’).[8]
Kerusakan Ketiga: Merekayasa Amalan yang Tanpa Tuntunan di Malam Tahun Baru
Kita sudah ketahui bahwa perayaan tahun baru ini berasal dari orang kafir dan merupakan tradisi mereka. Namun sayangnya di antara orang-orang jahil ada yang mensyari’atkan amalan-amalan tertentu pada malam pergantian tahun. “Daripada waktu kaum muslimin sia-sia, mending malam tahun baru kita isi dengan dzikir berjama’ah di masjid. Itu tentu lebih manfaat daripada menunggu pergantian tahun tanpa ada manfaatnya”, demikian ungkapan sebagian orang. Ini sungguh aneh. Pensyariatan semacam ini berarti melakukan suatu amalan yang tanpa tuntunan. Perayaan tahun baru sendiri adalah bukan perayaan atau ritual kaum muslimin, lantas kenapa harus disyari’atkan amalan tertentu ketika itu? Apalagi menunggu pergantian tahun pun akan mengakibatkan meninggalkan berbagai kewajiban sebagaimana nanti akan kami utarakan.
Jika ada yang mengatakan, “Daripada menunggu tahun baru diisi dengan hal yang tidak bermanfaat, mending diisi dengan dzikir. Yang penting kan niat kita baik.”
Maka cukup kami sanggah niat baik semacam ini dengan perkataan Ibnu Mas’ud ketika dia melihat orang-orang yang berdzikir, namun tidak sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang melakukan dzikir yang tidak ada tuntunannya ini mengatakan pada Ibnu Mas’ud,
وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ.
“Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.”
Ibnu Mas’ud lantas berkata,
وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ
“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun mereka tidak mendapatkannya.” [9]
Jadi dalam melakukan suatu amalan, niat baik semata tidaklah cukup. Kita harus juga mengikuti contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baru amalan tersebut bisa diterima di sisi Allah.
Kerusakan Keempat: Terjerumus dalam Keharaman dengan Mengucapkan Selamat Tahun Baru
Kita telah ketahui bersama bahwa tahun baru adalah syiar orang kafir dan bukanlah syiar kaum muslimin. Jadi, tidak pantas seorang muslim memberi selamat dalam syiar orang kafir seperti ini. Bahkan hal ini tidak dibolehkan berdasarkan kesepakatan para ulama (ijma’).
Ibnul Qoyyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.
Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.”[10]
Kerusakan Kelima: Meninggalkan Perkara Wajib yaitu Shalat Lima Waktu
Betapa banyak kita saksikan, karena begadang semalam suntuk untuk menunggu detik-detik pergantian tahun, bahkan begadang seperti ini diteruskan lagi hingga jam 1, jam 2 malam atau bahkan hingga pagi hari, kebanyakan orang yang begadang seperti ini luput dari shalat Shubuh yang kita sudah sepakat tentang wajibnya. Di antara mereka ada yang tidak mengerjakan shalat Shubuh sama sekali karena sudah kelelahan di pagi hari. Akhirnya, mereka tidur hingga pertengahan siang dan berlalulah kewajiban tadi tanpa ditunaikan sama sekali. Na’udzu billahi min dzalik.
Ketahuilah bahwa meninggalkan satu saja dari shalat lima waktu bukanlah perkara sepele. Bahkan meningalkannya para ulama sepakat bahwa itu termasuk dosa besar.
Ibnul Qoyyim -rahimahullah- mengatakan, “Kaum muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja termasuk dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.”[11]
Adz Dzahabi –rahimahullah- juga mengatakan, “Orang yang mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya termasuk pelaku dosa besar. Dan yang meninggalkan shalat -yaitu satu shalat saja- dianggap seperti orang yang berzina dan mencuri. Karena meninggalkan shalat atau luput darinya termasuk dosa besar. Oleh karena itu, orang yang meninggalkannya sampai berkali-kali termasuk pelaku dosa besar sampai dia bertaubat. Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat termasuk orang yang merugi, celaka dan termasuk orang mujrim (yang berbuat dosa).”[12]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengancam dengan kekafiran bagi orang yang sengaja meninggalkan shalat lima waktu. Buraidah bin Al Hushoib Al Aslamiy berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.”[13] Oleh karenanya, seorang muslim tidak sepantasnya merayakan tahun baru sehingga membuat dirinya terjerumus dalam dosa besar.
Dengan merayakan tahun baru, seseorang dapat pula terluput dari amalan yang utama yaitu shalat malam. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
“Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.”[14] Shalat malam adalah sebaik-baik shalat dan shalat yang biasa digemari oleh orang-orang sholih. Seseorang pun bisa mendapatkan keutamaan karena bertemu dengan waktu yang mustajab untuk berdo’a yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Sungguh sia-sia jika seseorang mendapati malam tersebut namun ia menyia-nyiakannya. Melalaikan shalat malam disebabkan mengikuti budaya orang barat, sungguh adalah kerugian yang sangat besar.
Kerusakan Keenam: Begadang Tanpa Ada Hajat
Begadang tanpa ada kepentingan yang syar’i dibenci oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk di sini adalah menunggu detik-detik pergantian tahun yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.”[15]
Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!”[16] Apalagi dengan begadang, ini sampai melalaikan dari sesuatu yang lebih wajib (yaitu shalat Shubuh)?!
Kerusakan Ketujuh: Terjerumus dalam Zina
Jika kita lihat pada tingkah laku muda-mudi saat ini, perayaan tahun baru pada mereka tidaklah lepas dari ikhtilath (campur baur antara pria dan wanita) dan berkholwat (berdua-duan), bahkan mungkin lebih parah dari itu yaitu sampai terjerumus dalam zina dengan kemaluan. Inilah yang sering terjadi di malam tersebut dengan menerjang berbagai larangan Allah dalam bergaul dengan lawan jenis. Inilah yang terjadi di malam pergantian tahun dan ini riil terjadi di kalangan muda-mudi. Padahal dengan melakukan seperti pandangan, tangan dan bahkan kemaluan telah berzina. Ini berarti melakukan suatu yang haram.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ
“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.”[17]
Kerusakan Kedelapan: Mengganggu Kaum Muslimin
Merayakan tahun baru banyak diramaikan dengan suara mercon, petasan, terompet atau suara bising lainnya. Ketahuilah ini semua adalah suatu kemungkaran karena mengganggu muslim lainnya, bahkan sangat mengganggu orang-orang yang butuh istirahat seperti orang yang lagi sakit. Padahal mengganggu muslim lainnya adalah terlarang sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim adalah seseorang yang lisan dan tangannya tidak mengganggu orang lain.”[18]
Ibnu Baththol mengatakan, “Yang dimaksud dengan hadits ini adalah dorongan agar seorang muslim tidak menyakiti kaum muslimin lainnya dengan lisan, tangan dan seluruh bentuk menyakiti lainnya. Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Orang yang baik adalah orang yang tidak menyakiti walaupun itu hanya menyakiti seekor semut”.”[19] Perhatikanlah perkataan yang sangat bagus dari Al Hasan Al Basri. Seekor semut yang kecil saja dilarang disakiti, lantas bagaimana dengan manusia yang punya akal dan perasaan disakiti dengan suara bising atau mungkin lebih dari itu?!
Kerusakan Kesembilan: Meniru Perbuatan Setan dengan Melakukan Pemborosan
Perayaan malam tahun baru adalah pemborosan besar-besaran hanya dalam waktu satu malam. Jika kita perkirakan setiap orang menghabiskan uang pada malam tahun baru sebesar Rp.1000 untuk membeli mercon dan segala hal yang memeriahkan perayaan tersebut, lalu yang merayakan tahun baru sekitar 10 juta penduduk Indonesia, maka hitunglah berapa jumlah uang yang dihambur-hamburkan dalam waktu semalam? Itu baru perkiraan setiap orang menghabiskan Rp. 1000, bagaimana jika lebih dari itu?! Masya Allah sangat banyak sekali jumlah uang yang dibuang sia-sia. Itulah harta yang dihamburkan sia-sia dalam waktu semalam untuk membeli petasan, kembang api, mercon, atau untuk menyelenggarakan pentas musik, dsb. Padahal Allah Ta’ala telah berfirman,
وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (Qs. Al Isro’: 26-27)
Ibnu Katsir mengatakan, “Allah ingin membuat manusia menjauh sikap boros dengan mengatakan: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” Dikatakan demikian karena orang yang bersikap boros menyerupai setan dalam hal ini.
Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar.” Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Namun jika seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).” Qotadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.”[20]
Kerusakan Kesepuluh: Menyia-nyiakan Waktu yang Begitu Berharga
Merayakan tahun baru termasuk membuang-buang waktu. Padahal waktu sangatlah kita butuhkan untuk hal yang bermanfaat dan bukan untuk hal yang sia-sia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi nasehat mengenai tanda kebaikan Islam seseorang,
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” [21]
Ingatlah bahwa membuang-buang waktu itu hampir sama dengan kematian yaitu sama-sama memiliki sesuatu yang hilang. Namun sebenarnya membuang-buang waktu masih lebih jelek dari kematian.
Semoga kita merenungkan perkataan Ibnul Qoyyim, “(Ketahuilah bahwa) menyia-nyiakan waktu lebih jelek dari kematian. Menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu (membuatmu lalai) dari Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”[22]
Seharusnya seseorang bersyukur kepada Allah dengan nikmat waktu yang telah Dia berikan. Mensyukuri nikmat waktu bukanlah dengan merayakan tahun baru. Namun mensyukuri nikmat waktu adalah dengan melakukan ketaatan dan ibadah kepada Allah. Itulah hakekat syukur yang sebenarnya. Orang-orang yang menyia-nyiakan nikmat waktu seperti inilah yang Allah cela. Allah Ta’ala berfirman,
أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءكُمُ النَّذِيرُ
“Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?” (Qs. Fathir: 37). Qotadah mengatakan, “Beramallah karena umur yang panjang itu akan sebagai dalil yang bisa menjatuhkanmu. Marilah kita berlindung kepada Allah dari menyia-nyiakan umur yang panjang untuk hal yang sia-sia.”[23]
Inilah di antara beberapa kerusakan dalam perayaan tahun baru. Sebenarnya masih banyak kerusakan lainnya yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu dalam tulisan ini karena saking banyaknya. Seorang muslim tentu akan berpikir seribu kali sebelum melangkah karena sia-sianya merayakan tahun baru. Jika ingin menjadi baik di tahun mendatang bukanlah dengan merayakannya. Seseorang menjadi baik tentulah dengan banyak bersyukur atas nikmat waktu yang Allah berikan. Bersyukur yang sebenarnya adalah dengan melakukan ketaatan kepada Allah, bukan dengan berbuat maksiat dan bukan dengan membuang-buang waktu dengan sia-sia. Lalu yang harus kita pikirkan lagi adalah apakah hari ini kita lebih baik dari hari kemarin? Pikirkanlah apakah hari ini iman kita sudah semakin meningkat ataukah semakin anjlok! Itulah yang harus direnungkan seorang muslim setiap kali bergulirnya waktu.
Ya Allah, perbaikilah keadaan umat Islam saat ini. Perbaikilah keadaan saudara-saudara kami yang jauh dari aqidah Islam. Berilah petunjuk pada mereka agar mengenal agama Islam ini dengan benar.
“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (Qs. Hud: 88)
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Disempurnakan atas nikmat Allah di Pangukan-Sleman, 12 Muharram 1431 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel http://www.muslim.or.id
[1] Sumber bacaan: http://id.wikipedia.org/wiki/Tahun_baru
[2] HR. An Nasa-i no. 1556. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[3] Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta‘, 3/88-89, Fatwa no. 9403, Mawqi’ Al Ifta’.
[4] HR. Bukhari no. 7319, dari Abu Hurairah.
[5] HR. Muslim no. 2669, dari Abu Sa’id Al Khudri.
[6] Al Minhaj Syarh Shohih Muslim, Abu Zakariya Yahya bin Syarf An Nawawi, 16/220, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobiy, cetakan kedua, 1392.
[7] HR. Ahmad dan Abu Daud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ (1/269) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269.
[8] Lihat penukilan ijma’ (kesepakatan ulama) yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidho’ Ash Shirotil Mustaqim, 1/363, Wazarotu Asy Syu-un Al Islamiyah, cetakan ketujuh, tahun 1417 H.
[9] HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid (bagus).
[10] Ahkam Ahli Dzimmah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/441, Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1418 H.
[11] Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 7, Dar Al Imam Ahmad
[12] Al Kaba’ir, hal. 26-27, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah.
[13] HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat Misykatul Mashobih no. 574
[14] HR. Muslim no. 1163
[15] HR. Bukhari no. 568
[16] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3/278, Asy Syamilah.
[17] HR. Muslim no. 6925
[18] HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 41
[19] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 1/38, Asy Syamilah
[20] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 5/69, pada tafsir surat Al Isro’ ayat 26-27
[21] HR. Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini shohih.
[22] Al Fawa’id, hal. 33
[23] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6/553, pada tafsir surat Fathir ayat 37.
10 Kerusakan Dalam Perayaan Tahun Baru,
2012,
2013,
Aqidah,
artikel,
Baranti,
Happy New Year,
hukum,
Islam,
Kristen,
Merayakan,
Miladiyah,
Mukmin,
Mukminin,
Muslim.Or.Id,
Nasrani,
Perayaan,
Sidrap,
Tahun Baru
Sejarah Tahun Baru Masehi
Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.[1]
Dari sini kita dapat menyaksikan bahwa perayaan tahun baru dimulai dari orang-orang kafir dan sama sekali bukan dari Islam. Perayaan tahun baru ini terjadi pada pergantian tahun kalender Gregorian yang sejak dulu telah dirayakan oleh orang-orang kafir.
Berikut adalah beberapa kerusakan akibat seorang muslim merayakan tahun baru.
Kerusakan Pertama: Merayakan Tahun Baru Berarti Merayakan ‘Ied (Perayaan) yang Haram
Perlu diketahui bahwa perayaan (‘ied) kaum muslimin ada dua yaitu ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha. Anas bin Malik mengatakan,
كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى
“Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.’”[2]
Namun setelah itu muncul berbagai perayaan (‘ied) di tengah kaum muslimin. Ada perayaan yang dimaksudkan untuk ibadah atau sekedar meniru-niru orang kafir. Di antara perayaan yang kami maksudkan di sini adalah perayaan tahun baru Masehi. Perayaan semacam ini berarti di luar perayaan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maksudkan sebagai perayaan yang lebih baik yang Allah ganti. Karena perayaan kaum muslimin hanyalah dua yang dikatakan baik yaitu Idul Fithri dan Idul Adha.
Perhatikan penjelasan Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta’, komisi fatwa di Saudi Arabia berikut ini:
Al Lajnah Ad Da-imah mengatakan, “Yang disebut ‘ied atau hari perayaan secara istilah adalah semua bentuk perkumpulan yang berulang secara periodik boleh jadi tahunan, bulanan, mingguan atau semisalnya. Jadi dalam ied terkumpul beberapa hal:
1. Hari yang berulang semisal idul fitri dan hari Jumat.
2. Berkumpulnya banyak orang pada hari tersebut.
3. Berbagai aktivitas yang dilakukan pada hari itu baik berupa ritual ibadah ataupun non ibadah.
Hukum ied (perayaan) terbagi menjadi dua:
1. Ied yang tujuannya adalah beribadah, mendekatkan diri kepada Allah dan mengagungkan hari tersebut dalam rangka mendapat pahala, atau
2. Ied yang mengandung unsur menyerupai orang-orang jahiliah atau golongan-golongan orang kafir yang lain maka hukumnya adalah bid’ah yang terlarang karena tercakup dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa yang mengada-adakan amal dalam agama kami ini padahal bukanlah bagian dari agama maka amal tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Misalnya adalah peringatan maulid nabi, hari ibu dan hari kemerdekaan. Peringatan maulid nabi itu terlarang karena hal itu termasuk mengada-adakan ritual yang tidak pernah Allah izinkan di samping menyerupai orang-orang Nasrani dan golongan orang kafir yang lain. Sedangkan hari ibu dan hari kemerdekaan terlarang karena menyerupai orang kafir.”[3] -Demikian penjelasan Lajnah-
Begitu pula perayaan tahun baru termasuk perayaan yang terlarang karena menyerupai perayaan orang kafir.
Kerusakan Kedua: Merayakan Tahun Baru Berarti Tasyabbuh (Meniru-niru) Orang Kafir
Merayakan tahun baru termasuk meniru-niru orang kafir. Dan sejak dulu Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mewanti-wanti bahwa umat ini memang akan mengikuti jejak orang Persia, Romawi, Yahudi dan Nashrani. Kaum muslimin mengikuti mereka baik dalam berpakaian atau pun berhari raya.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ » . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ « وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ »
“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“[4]
Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ . قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang penuh lika-liku, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” [5]
An Nawawi -rahimahullah- ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziro’ (hasta) serta lubang dhob (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashroni. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal kekufuran. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini.”[6]
Lihatlah apa yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa yang beliau katakan memang benar-benar terjadi saat ini. Berbagai model pakaian orang barat diikuti oleh kaum muslimin, sampai pun yang setengah telanjang. Begitu pula berbagai perayaan pun diikuti, termasuk pula perayaan tahun baru ini.
Ingatlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara tegas telah melarang kita meniru-niru orang kafir (tasyabbuh).
Beliau bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” [7]
Menyerupai orang kafir (tasyabbuh) ini terjadi dalam hal pakaian, penampilan dan kebiasaan. Tasyabbuh di sini diharamkan berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama (ijma’).[8]
Kerusakan Ketiga: Merekayasa Amalan yang Tanpa Tuntunan di Malam Tahun Baru
Kita sudah ketahui bahwa perayaan tahun baru ini berasal dari orang kafir dan merupakan tradisi mereka. Namun sayangnya di antara orang-orang jahil ada yang mensyari’atkan amalan-amalan tertentu pada malam pergantian tahun. “Daripada waktu kaum muslimin sia-sia, mending malam tahun baru kita isi dengan dzikir berjama’ah di masjid. Itu tentu lebih manfaat daripada menunggu pergantian tahun tanpa ada manfaatnya”, demikian ungkapan sebagian orang. Ini sungguh aneh. Pensyariatan semacam ini berarti melakukan suatu amalan yang tanpa tuntunan. Perayaan tahun baru sendiri adalah bukan perayaan atau ritual kaum muslimin, lantas kenapa harus disyari’atkan amalan tertentu ketika itu? Apalagi menunggu pergantian tahun pun akan mengakibatkan meninggalkan berbagai kewajiban sebagaimana nanti akan kami utarakan.
Jika ada yang mengatakan, “Daripada menunggu tahun baru diisi dengan hal yang tidak bermanfaat, mending diisi dengan dzikir. Yang penting kan niat kita baik.”
Maka cukup kami sanggah niat baik semacam ini dengan perkataan Ibnu Mas’ud ketika dia melihat orang-orang yang berdzikir, namun tidak sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang melakukan dzikir yang tidak ada tuntunannya ini mengatakan pada Ibnu Mas’ud,
وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ.
“Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.”
Ibnu Mas’ud lantas berkata,
وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ
“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun mereka tidak mendapatkannya.” [9]
Jadi dalam melakukan suatu amalan, niat baik semata tidaklah cukup. Kita harus juga mengikuti contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baru amalan tersebut bisa diterima di sisi Allah.
Kerusakan Keempat: Terjerumus dalam Keharaman dengan Mengucapkan Selamat Tahun Baru
Kita telah ketahui bersama bahwa tahun baru adalah syiar orang kafir dan bukanlah syiar kaum muslimin. Jadi, tidak pantas seorang muslim memberi selamat dalam syiar orang kafir seperti ini. Bahkan hal ini tidak dibolehkan berdasarkan kesepakatan para ulama (ijma’).
Ibnul Qoyyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.
Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.”[10]
Kerusakan Kelima: Meninggalkan Perkara Wajib yaitu Shalat Lima Waktu
Betapa banyak kita saksikan, karena begadang semalam suntuk untuk menunggu detik-detik pergantian tahun, bahkan begadang seperti ini diteruskan lagi hingga jam 1, jam 2 malam atau bahkan hingga pagi hari, kebanyakan orang yang begadang seperti ini luput dari shalat Shubuh yang kita sudah sepakat tentang wajibnya. Di antara mereka ada yang tidak mengerjakan shalat Shubuh sama sekali karena sudah kelelahan di pagi hari. Akhirnya, mereka tidur hingga pertengahan siang dan berlalulah kewajiban tadi tanpa ditunaikan sama sekali. Na’udzu billahi min dzalik.
Ketahuilah bahwa meninggalkan satu saja dari shalat lima waktu bukanlah perkara sepele. Bahkan meningalkannya para ulama sepakat bahwa itu termasuk dosa besar.
Ibnul Qoyyim -rahimahullah- mengatakan, “Kaum muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja termasuk dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.”[11]
Adz Dzahabi –rahimahullah- juga mengatakan, “Orang yang mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya termasuk pelaku dosa besar. Dan yang meninggalkan shalat -yaitu satu shalat saja- dianggap seperti orang yang berzina dan mencuri. Karena meninggalkan shalat atau luput darinya termasuk dosa besar. Oleh karena itu, orang yang meninggalkannya sampai berkali-kali termasuk pelaku dosa besar sampai dia bertaubat. Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat termasuk orang yang merugi, celaka dan termasuk orang mujrim (yang berbuat dosa).”[12]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengancam dengan kekafiran bagi orang yang sengaja meninggalkan shalat lima waktu. Buraidah bin Al Hushoib Al Aslamiy berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.”[13] Oleh karenanya, seorang muslim tidak sepantasnya merayakan tahun baru sehingga membuat dirinya terjerumus dalam dosa besar.
Dengan merayakan tahun baru, seseorang dapat pula terluput dari amalan yang utama yaitu shalat malam. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
“Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.”[14] Shalat malam adalah sebaik-baik shalat dan shalat yang biasa digemari oleh orang-orang sholih. Seseorang pun bisa mendapatkan keutamaan karena bertemu dengan waktu yang mustajab untuk berdo’a yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Sungguh sia-sia jika seseorang mendapati malam tersebut namun ia menyia-nyiakannya. Melalaikan shalat malam disebabkan mengikuti budaya orang barat, sungguh adalah kerugian yang sangat besar.
Kerusakan Keenam: Begadang Tanpa Ada Hajat
Begadang tanpa ada kepentingan yang syar’i dibenci oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk di sini adalah menunggu detik-detik pergantian tahun yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.”[15]
Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!”[16] Apalagi dengan begadang, ini sampai melalaikan dari sesuatu yang lebih wajib (yaitu shalat Shubuh)?!
Kerusakan Ketujuh: Terjerumus dalam Zina
Jika kita lihat pada tingkah laku muda-mudi saat ini, perayaan tahun baru pada mereka tidaklah lepas dari ikhtilath (campur baur antara pria dan wanita) dan berkholwat (berdua-duan), bahkan mungkin lebih parah dari itu yaitu sampai terjerumus dalam zina dengan kemaluan. Inilah yang sering terjadi di malam tersebut dengan menerjang berbagai larangan Allah dalam bergaul dengan lawan jenis. Inilah yang terjadi di malam pergantian tahun dan ini riil terjadi di kalangan muda-mudi. Padahal dengan melakukan seperti pandangan, tangan dan bahkan kemaluan telah berzina. Ini berarti melakukan suatu yang haram.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ
“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.”[17]
Kerusakan Kedelapan: Mengganggu Kaum Muslimin
Merayakan tahun baru banyak diramaikan dengan suara mercon, petasan, terompet atau suara bising lainnya. Ketahuilah ini semua adalah suatu kemungkaran karena mengganggu muslim lainnya, bahkan sangat mengganggu orang-orang yang butuh istirahat seperti orang yang lagi sakit. Padahal mengganggu muslim lainnya adalah terlarang sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim adalah seseorang yang lisan dan tangannya tidak mengganggu orang lain.”[18]
Ibnu Baththol mengatakan, “Yang dimaksud dengan hadits ini adalah dorongan agar seorang muslim tidak menyakiti kaum muslimin lainnya dengan lisan, tangan dan seluruh bentuk menyakiti lainnya. Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Orang yang baik adalah orang yang tidak menyakiti walaupun itu hanya menyakiti seekor semut”.”[19] Perhatikanlah perkataan yang sangat bagus dari Al Hasan Al Basri. Seekor semut yang kecil saja dilarang disakiti, lantas bagaimana dengan manusia yang punya akal dan perasaan disakiti dengan suara bising atau mungkin lebih dari itu?!
Kerusakan Kesembilan: Meniru Perbuatan Setan dengan Melakukan Pemborosan
Perayaan malam tahun baru adalah pemborosan besar-besaran hanya dalam waktu satu malam. Jika kita perkirakan setiap orang menghabiskan uang pada malam tahun baru sebesar Rp.1000 untuk membeli mercon dan segala hal yang memeriahkan perayaan tersebut, lalu yang merayakan tahun baru sekitar 10 juta penduduk Indonesia, maka hitunglah berapa jumlah uang yang dihambur-hamburkan dalam waktu semalam? Itu baru perkiraan setiap orang menghabiskan Rp. 1000, bagaimana jika lebih dari itu?! Masya Allah sangat banyak sekali jumlah uang yang dibuang sia-sia. Itulah harta yang dihamburkan sia-sia dalam waktu semalam untuk membeli petasan, kembang api, mercon, atau untuk menyelenggarakan pentas musik, dsb. Padahal Allah Ta’ala telah berfirman,
وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (Qs. Al Isro’: 26-27)
Ibnu Katsir mengatakan, “Allah ingin membuat manusia menjauh sikap boros dengan mengatakan: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” Dikatakan demikian karena orang yang bersikap boros menyerupai setan dalam hal ini.
Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar.” Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Namun jika seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).” Qotadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.”[20]
Kerusakan Kesepuluh: Menyia-nyiakan Waktu yang Begitu Berharga
Merayakan tahun baru termasuk membuang-buang waktu. Padahal waktu sangatlah kita butuhkan untuk hal yang bermanfaat dan bukan untuk hal yang sia-sia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi nasehat mengenai tanda kebaikan Islam seseorang,
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” [21]
Ingatlah bahwa membuang-buang waktu itu hampir sama dengan kematian yaitu sama-sama memiliki sesuatu yang hilang. Namun sebenarnya membuang-buang waktu masih lebih jelek dari kematian.
Semoga kita merenungkan perkataan Ibnul Qoyyim, “(Ketahuilah bahwa) menyia-nyiakan waktu lebih jelek dari kematian. Menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu (membuatmu lalai) dari Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”[22]
Seharusnya seseorang bersyukur kepada Allah dengan nikmat waktu yang telah Dia berikan. Mensyukuri nikmat waktu bukanlah dengan merayakan tahun baru. Namun mensyukuri nikmat waktu adalah dengan melakukan ketaatan dan ibadah kepada Allah. Itulah hakekat syukur yang sebenarnya. Orang-orang yang menyia-nyiakan nikmat waktu seperti inilah yang Allah cela. Allah Ta’ala berfirman,
أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءكُمُ النَّذِيرُ
“Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?” (Qs. Fathir: 37). Qotadah mengatakan, “Beramallah karena umur yang panjang itu akan sebagai dalil yang bisa menjatuhkanmu. Marilah kita berlindung kepada Allah dari menyia-nyiakan umur yang panjang untuk hal yang sia-sia.”[23]
Inilah di antara beberapa kerusakan dalam perayaan tahun baru. Sebenarnya masih banyak kerusakan lainnya yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu dalam tulisan ini karena saking banyaknya. Seorang muslim tentu akan berpikir seribu kali sebelum melangkah karena sia-sianya merayakan tahun baru. Jika ingin menjadi baik di tahun mendatang bukanlah dengan merayakannya. Seseorang menjadi baik tentulah dengan banyak bersyukur atas nikmat waktu yang Allah berikan. Bersyukur yang sebenarnya adalah dengan melakukan ketaatan kepada Allah, bukan dengan berbuat maksiat dan bukan dengan membuang-buang waktu dengan sia-sia. Lalu yang harus kita pikirkan lagi adalah apakah hari ini kita lebih baik dari hari kemarin? Pikirkanlah apakah hari ini iman kita sudah semakin meningkat ataukah semakin anjlok! Itulah yang harus direnungkan seorang muslim setiap kali bergulirnya waktu.
Ya Allah, perbaikilah keadaan umat Islam saat ini. Perbaikilah keadaan saudara-saudara kami yang jauh dari aqidah Islam. Berilah petunjuk pada mereka agar mengenal agama Islam ini dengan benar.
“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (Qs. Hud: 88)
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Disempurnakan atas nikmat Allah di Pangukan-Sleman, 12 Muharram 1431 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel http://www.muslim.or.id
[1] Sumber bacaan: http://id.wikipedia.org/wiki/Tahun_baru
[2] HR. An Nasa-i no. 1556. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[3] Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta‘, 3/88-89, Fatwa no. 9403, Mawqi’ Al Ifta’.
[4] HR. Bukhari no. 7319, dari Abu Hurairah.
[5] HR. Muslim no. 2669, dari Abu Sa’id Al Khudri.
[6] Al Minhaj Syarh Shohih Muslim, Abu Zakariya Yahya bin Syarf An Nawawi, 16/220, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobiy, cetakan kedua, 1392.
[7] HR. Ahmad dan Abu Daud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ (1/269) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269.
[8] Lihat penukilan ijma’ (kesepakatan ulama) yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidho’ Ash Shirotil Mustaqim, 1/363, Wazarotu Asy Syu-un Al Islamiyah, cetakan ketujuh, tahun 1417 H.
[9] HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid (bagus).
[10] Ahkam Ahli Dzimmah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/441, Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1418 H.
[11] Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 7, Dar Al Imam Ahmad
[12] Al Kaba’ir, hal. 26-27, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah.
[13] HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat Misykatul Mashobih no. 574
[14] HR. Muslim no. 1163
[15] HR. Bukhari no. 568
[16] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3/278, Asy Syamilah.
[17] HR. Muslim no. 6925
[18] HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 41
[19] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 1/38, Asy Syamilah
[20] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 5/69, pada tafsir surat Al Isro’ ayat 26-27
[21] HR. Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini shohih.
[22] Al Fawa’id, hal. 33
[23] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6/553, pada tafsir surat Fathir ayat 37.

















