Tampilkan postingan dengan label Facebook. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Facebook. Tampilkan semua postingan

mukmin.in - Syaikh Al-Arify pernah bercerita dalam kajian di channel Al-Khalijiyyah, berjudul Al-Jahlu bi Ad-Diin (kebodohan akan perkara agama). Suatu hari beliau diundang ceramah di suatu kampus di Timur Tengah. Beliau pun menjawabnya dan datang di waktu yang tepatnya ditentukan.

Ternyata, kelakuan para hadirin, yaitu para mahasiswa kampus tersebut, mengecewakan beliau. Tersebab ketika beliau menjajakan ilmu bermanfaat, banyak dari mereka saling 'berkicau'. Adab majelis hilang. Sebagian hadirin pun perhatiannya sungguh kurang. Syaikh Al-Arify pulang dengan kekecewaan. Ia merasa belum pernah ada kajian seburuk itu dan berharap tak terulang. Namun, beliau berusaha meredam kekecewaan dan mendoakan yang terbaik.

Setahun kemudian, beliau ditelepon oleh pihak kampus. Mereka hendak lagi mengundang beliau untuk mengisi kajian. Mendengar nama kampus tersebut, beliau merasa menjawabnya tidak harus. Namun, bagaimanapun ia tidak bisa mencari alasan untuk kabur dari permintaan.

, , , , , , , , , ,

mukmin.in - Semua orang setuju kalau dikatakan bahwa zaman sekarang itu zamannya informasi bebas. Di mana dengan kemajuan teknologi dewasa ini semua bisa kita tahu hanya dengan sekali klik, dan tidak harus menunggu waktu yang lama. Bahkan kurang dari satu menit pun kita bisa tahu apa yang sedang terjadi di pojokan “Suriname” sana.

Rasanya sulit dipercaya kalau ada di antara kita yang tangannya masih kosong dari gadget. Semua orang memegang “batangan besi” idiot tersebut, dengan segala macam merek, bentuk dan manfaatnya. Ya minimal sebuah ponsel pasti lah dimiliki, walaupun yang kelasnya baru bisa sms dan telepon saja.
Dunia ini rasanya sudah tidak mempunyai tembok penghalang lagi, semua serba mudah. Orang di Indonesia dengan mudah bisa berbincang dan saling memandang dengan ia yang ada nun jauh di seberang samudera sana, semuanya teknologi yang membantu. “Connecting without walls” begitu istilahnya; bisa berkomunikasi tanpa ada tembok penghalang.

Yang hebatnya lagi bahwa kemajuan ini benar-benar masif dan masuk ke daerah-daerah terpencil, gang-gang sempit, serta jalan-jalan becek. Artinya memang semua kalangan sudah bisa mengakses fasilitas itu semua. Tanpa harus melihat umur, status sosial, apalagi status martial. Entah itu melalui sebuah papan besi berukuran 14, 12 dan 10 inch, atau juga melalui batangan besi yang bertombol (ponsel pintar). Semua benar-benar mudah!
“Mendekatkan yang jauh”, begitu kata orang-orang! Ya karena memang semua jarak menjadi nihil dengan adanya ini semua! Tapi sadar atau tidak, justru semua kemajuan teknologi ini bisa (dan memang sudah terjadi) MENJAUHKAN YANG DEKAT.

Ditempat-tempat umum kita bisa dengan mudah menemukan itu semua. Di busway kan, kereta, bus, bahkan angkot pun, semua yang dekat menjadi jauh. Dua orang yang duduk bersampingan saling sibuk berjempol ria dan khusyu’ memandang layar berukuran 3-5 inch nya sambil tersenyum dan terkadang juga terbahak-bahak, tapi tidak jarang juga yang memasang tampang “sewot”. Dan dia sudah benar-benar tidak peduli siapa dan apa yang di samping kiri dan kanannya.

Di kelas-kelas belajar pun demikian, di jam istirahat ataupun ketika sang guru/dosen tak hadir. Semua peserta didik layaknya orang yang baru masuk kelas di hari pertama, semua tidak saling kenal dan tanpa sapa. Sebab mereka tenggelam dalam buaian laptop dan gadget mereka tanpa peduli ada teman-temannya di satu ruangan itu.

Keadaan yang terjadi di rumah-rumah pun tak jauh berbeda. Sibuk dengan dunia maya-nya, seorang pemuda tak tahu kalau tetangganya baru meninggal dunia malam hari, dia baru kaget ketika paginya banyak tamu di rumah tetangganya. Bukan cuma tetangga, bahkan orang tua nya pun seakan menjadi orang asing yang berada dalam satu rumah.

Ya benar-benar mendekatkan yang jauh, tapi buruknya, ia juga MENJAUHKAN YANG DEKAT.
Semaju apapun teknologi sekarang ini, status kita tetaplah sebagai seorang muslim yang punya ikatan kuat dengan syariah, dan itu tak mungkin terlepas. Syariat ini memang menganjurkan kita untuk terus menyambung silaturahim, tapi melakukan sebuah syariat bukan berarti harus mengabaikan kewajiban yang lain.
Sibuk dengan yang jauh tanpa tahu siapa yang ada di kiri dan kanan, itu bukan sikap ideal seorang muslim. Saling sapa dan lempar senyuman itu mestinya haruslah dilakukan kepada ia yang berada di samping bukan malah sibuk bersiul ria dengan mereka yang tidak nyata di dunia maya.
Sudah saatnya kita bersalaman dan memberi salam juga mengenal siapa yang duduk di kiri dan kanan kita.
Wallahu A’lam.

Sumber: Dakwatuna.com

, , , , , , , , ,

Islamedia -Muslim Amerika Serikat meluncurkan kampanye iklan dan media sosial dengan harapan untuk memulihkan citra kata "jihad" dari kelompok ekstrim, yang dianggap sering terjebak mempersamakan laku spiritual itu dengan terorisme.

Kampanye tersebut menampilkan gambar individu-individu Muslim yang menunjukkan perjuangan pribadi mereka -- sebagai makna Jihad -- di bus-bus, Twitter, Facebook, dan sebuah laman khusus: myjihad.org.

"Jihadku ialah menjalin persahabatan lintas batas," kata salah satu iklan yang menampilkan seorang pria Afro-Amerika bersandar ke bahu seorang teman Yahudinya, sebagaimana laporan AFP.

"Jihadku ialah untuk terus melangkah maju, walaupun kehilangan anak tercintaku," kata iklan yang lain, menampilkan potret seorang ibu dengan tiga orang anak yang tersisa. Sang Ibu kehilangan anaknya karena menderita Sindrom Hunter.

"Jihadku ialah tidak menghakimi orang dari penampilannya," kata iklan ketiga, menampilkan dua orang perempuan mengenakan kerudung.

Iklan kampanye muslim tersebut turut dipicu oleh merebaknya serangkaian iklan bermuatan kebencian yang menjuluki Muslim sebagai "kaum bengis" dan mendorong orang-orang untuk "mengalahkan jihad", iklan-iklan kebencian tadi ditempelkan di bus-bus dan kereta-kereta di New York, Chicago, dan San Fransisco.

Tetapi iklan kampanye balasan tersebut juga ditujukan kepada kalangan muslim, mengingat makin besarnya rasa kecewa karena pendistorsian dan pembusukan makna jihad sebagai keyakinan iman mereka yang mendasar.

"Jihad ialah sebuah istilah yang malangnya telah disalahtafsirkan secara luas oleh aksi-aksi kalangan ekstrim, dan oleh usaha-usaha indoktrinasi masyarakat yang datang dari kelompok-kelompok Islamofobik yang mengklaim bahwa ekstrimis minoritas itu benar dan muslim mayoritas itu keliru," kata Rehab, yang merupakan salah satu direktur eksekutif CAIR cabang Chicago.

"Kampanye MyJihad ialah untuk merebut ulang makna jihad dari penafsiran ekstrim anti-Muslim," lanjut Rahab.

Iklan-iklan tersebut ditempatkan di bus-bus di Chicago. Rehab mengharapkan dapat meningkatkan pendanaan untuk memperluas jangkauan kampanye hingga ke kota New Yok, Washington, San Francisco, Seattle, Houston, Dallas, dan Oklahoma City. Panitia penyelenggara juga sedang mempersiapkan agar iklan-iklan tersebut bisa tampil di bus-bus di Toronto, London, Manchester, Sydney, dan Melbourne. [iinanews]

Sumber: Islamedia

, , , , , , , , , , , , , , , , , ,