mukmin.in - Banyak opini yang berkembang tentang keberadaan kedokteran Islam,
namun kebanyakan opini tersebut menyempit menjadi opini yang
menyederhanakan kedokteran Islam menjadi kedokteran nabi (thibbun nabi).
Empat
hal yang disebut-sebut berkaitan dengan kedokteran Islam
(1) kebiasaan
sehat Rasulullah seperti puasa sunah, tidak makan sebelum lapar,
berhenti sebelum kenyang, dll;
(2) mengkonsumsi madu atau habatussaudah
(3) bila sampai sakit, terapinya adalah bekam;
(4) untuk penyakit karena
pengaruh sihir dilakukan ruqyah syar’iyah. [1]
Ilmu kedokteran
Islam didefinisikan sebagai ilmu pengobatan yang model dasar, konsep,
nilai, dan prosedur- prosedurnya sesuai atau tidak berlawanan dengan
Al-Qur’an dan As-Sunnah. Prosedur medis atau alat pengobatan yang
digunakan tidak spesifik pada tempat atau waktu tertentu. Ilmu
kedokteran Islam itu universal, mencakup semua aspek, fleksibel, dan
mengizinkan pertumbuhan serta perkembangan berbagai metode investigasi
dan pengobatan penyakit. [2]
Tampilkan postingan dengan label Dakwatuna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwatuna. Tampilkan semua postingan
mukmin.in - Semua orang setuju kalau dikatakan bahwa zaman
sekarang itu zamannya informasi bebas. Di mana dengan kemajuan teknologi
dewasa ini semua bisa kita tahu hanya dengan sekali klik, dan tidak
harus menunggu waktu yang lama. Bahkan kurang dari satu menit pun kita
bisa tahu apa yang sedang terjadi di pojokan “Suriname” sana.
Rasanya sulit dipercaya kalau ada di antara kita yang tangannya masih kosong dari gadget. Semua orang memegang “batangan besi” idiot tersebut, dengan segala macam merek, bentuk dan manfaatnya. Ya minimal sebuah ponsel pasti lah dimiliki, walaupun yang kelasnya baru bisa sms dan telepon saja.
Dunia ini rasanya sudah tidak mempunyai tembok penghalang lagi, semua serba mudah. Orang di Indonesia dengan mudah bisa berbincang dan saling memandang dengan ia yang ada nun jauh di seberang samudera sana, semuanya teknologi yang membantu. “Connecting without walls” begitu istilahnya; bisa berkomunikasi tanpa ada tembok penghalang.
Yang hebatnya lagi bahwa kemajuan ini benar-benar masif dan masuk ke daerah-daerah terpencil, gang-gang sempit, serta jalan-jalan becek. Artinya memang semua kalangan sudah bisa mengakses fasilitas itu semua. Tanpa harus melihat umur, status sosial, apalagi status martial. Entah itu melalui sebuah papan besi berukuran 14, 12 dan 10 inch, atau juga melalui batangan besi yang bertombol (ponsel pintar). Semua benar-benar mudah!
“Mendekatkan yang jauh”, begitu kata orang-orang! Ya karena memang semua jarak menjadi nihil dengan adanya ini semua! Tapi sadar atau tidak, justru semua kemajuan teknologi ini bisa (dan memang sudah terjadi) MENJAUHKAN YANG DEKAT.
Ditempat-tempat umum kita bisa dengan mudah menemukan itu semua. Di busway kan, kereta, bus, bahkan angkot pun, semua yang dekat menjadi jauh. Dua orang yang duduk bersampingan saling sibuk berjempol ria dan khusyu’ memandang layar berukuran 3-5 inch nya sambil tersenyum dan terkadang juga terbahak-bahak, tapi tidak jarang juga yang memasang tampang “sewot”. Dan dia sudah benar-benar tidak peduli siapa dan apa yang di samping kiri dan kanannya.
Di kelas-kelas belajar pun demikian, di jam istirahat ataupun ketika sang guru/dosen tak hadir. Semua peserta didik layaknya orang yang baru masuk kelas di hari pertama, semua tidak saling kenal dan tanpa sapa. Sebab mereka tenggelam dalam buaian laptop dan gadget mereka tanpa peduli ada teman-temannya di satu ruangan itu.
Keadaan yang terjadi di rumah-rumah pun tak jauh berbeda. Sibuk dengan dunia maya-nya, seorang pemuda tak tahu kalau tetangganya baru meninggal dunia malam hari, dia baru kaget ketika paginya banyak tamu di rumah tetangganya. Bukan cuma tetangga, bahkan orang tua nya pun seakan menjadi orang asing yang berada dalam satu rumah.
Ya benar-benar mendekatkan yang jauh, tapi buruknya, ia juga MENJAUHKAN YANG DEKAT.
Semaju apapun teknologi sekarang ini, status kita tetaplah sebagai seorang muslim yang punya ikatan kuat dengan syariah, dan itu tak mungkin terlepas. Syariat ini memang menganjurkan kita untuk terus menyambung silaturahim, tapi melakukan sebuah syariat bukan berarti harus mengabaikan kewajiban yang lain.
Sibuk dengan yang jauh tanpa tahu siapa yang ada di kiri dan kanan, itu bukan sikap ideal seorang muslim. Saling sapa dan lempar senyuman itu mestinya haruslah dilakukan kepada ia yang berada di samping bukan malah sibuk bersiul ria dengan mereka yang tidak nyata di dunia maya.
Sudah saatnya kita bersalaman dan memberi salam juga mengenal siapa yang duduk di kiri dan kanan kita.
Wallahu A’lam.
Sumber: Dakwatuna.com
Dakwatuna,
Dekat,
Facebook,
Gadget,
media,
Menjauhkan,
Mukmin,
Mukminin,
Sidrap Mukminin,
Twitter
Rasanya sulit dipercaya kalau ada di antara kita yang tangannya masih kosong dari gadget. Semua orang memegang “batangan besi” idiot tersebut, dengan segala macam merek, bentuk dan manfaatnya. Ya minimal sebuah ponsel pasti lah dimiliki, walaupun yang kelasnya baru bisa sms dan telepon saja.
Dunia ini rasanya sudah tidak mempunyai tembok penghalang lagi, semua serba mudah. Orang di Indonesia dengan mudah bisa berbincang dan saling memandang dengan ia yang ada nun jauh di seberang samudera sana, semuanya teknologi yang membantu. “Connecting without walls” begitu istilahnya; bisa berkomunikasi tanpa ada tembok penghalang.
Yang hebatnya lagi bahwa kemajuan ini benar-benar masif dan masuk ke daerah-daerah terpencil, gang-gang sempit, serta jalan-jalan becek. Artinya memang semua kalangan sudah bisa mengakses fasilitas itu semua. Tanpa harus melihat umur, status sosial, apalagi status martial. Entah itu melalui sebuah papan besi berukuran 14, 12 dan 10 inch, atau juga melalui batangan besi yang bertombol (ponsel pintar). Semua benar-benar mudah!
“Mendekatkan yang jauh”, begitu kata orang-orang! Ya karena memang semua jarak menjadi nihil dengan adanya ini semua! Tapi sadar atau tidak, justru semua kemajuan teknologi ini bisa (dan memang sudah terjadi) MENJAUHKAN YANG DEKAT.
Ditempat-tempat umum kita bisa dengan mudah menemukan itu semua. Di busway kan, kereta, bus, bahkan angkot pun, semua yang dekat menjadi jauh. Dua orang yang duduk bersampingan saling sibuk berjempol ria dan khusyu’ memandang layar berukuran 3-5 inch nya sambil tersenyum dan terkadang juga terbahak-bahak, tapi tidak jarang juga yang memasang tampang “sewot”. Dan dia sudah benar-benar tidak peduli siapa dan apa yang di samping kiri dan kanannya.
Di kelas-kelas belajar pun demikian, di jam istirahat ataupun ketika sang guru/dosen tak hadir. Semua peserta didik layaknya orang yang baru masuk kelas di hari pertama, semua tidak saling kenal dan tanpa sapa. Sebab mereka tenggelam dalam buaian laptop dan gadget mereka tanpa peduli ada teman-temannya di satu ruangan itu.
Keadaan yang terjadi di rumah-rumah pun tak jauh berbeda. Sibuk dengan dunia maya-nya, seorang pemuda tak tahu kalau tetangganya baru meninggal dunia malam hari, dia baru kaget ketika paginya banyak tamu di rumah tetangganya. Bukan cuma tetangga, bahkan orang tua nya pun seakan menjadi orang asing yang berada dalam satu rumah.
Ya benar-benar mendekatkan yang jauh, tapi buruknya, ia juga MENJAUHKAN YANG DEKAT.
Semaju apapun teknologi sekarang ini, status kita tetaplah sebagai seorang muslim yang punya ikatan kuat dengan syariah, dan itu tak mungkin terlepas. Syariat ini memang menganjurkan kita untuk terus menyambung silaturahim, tapi melakukan sebuah syariat bukan berarti harus mengabaikan kewajiban yang lain.
Sibuk dengan yang jauh tanpa tahu siapa yang ada di kiri dan kanan, itu bukan sikap ideal seorang muslim. Saling sapa dan lempar senyuman itu mestinya haruslah dilakukan kepada ia yang berada di samping bukan malah sibuk bersiul ria dengan mereka yang tidak nyata di dunia maya.
Sudah saatnya kita bersalaman dan memberi salam juga mengenal siapa yang duduk di kiri dan kanan kita.
Wallahu A’lam.
Sumber: Dakwatuna.com
DAKWATUNA - Hari Ibu mempunyai sejarah yang
berbeda untuk setiap negara dan tanggal pelaksanaannya pun berbeda. Di
Bangladesh, Hari Ibu diselenggarakan pada minggu kedua bulan Mei.
Beberapa ibu diberi “Ratnagarwa Ma Award“ yang ditujukan untuk mengakui
seorang ibu dan peran penting yang mereka mainkan di masyarakat
Bangladesh. Di Inggris dan Irlandia, Hari Ibu disebut dengan istilah Mothering Sunday
yang jatuh pada minggu ke empat bulan Lent, tepatnya 3 minggu sebelum
hari Paskah. Negara Afrika mengadopsi konsep Hari Ibu dari tradisi
orang-orang Inggris. Sedangkan untuk Indonesia sendiri, Hari Ibu
dirayakan pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan
nasional.
Sejarah Hari Ibu di Indonesia diawali dari pertemuan para pejuang wanita, dengan mengadakan Kongres Perempuan yang diselenggarakan di Yogyakarta pada tanggal 22-25 Desember 1928. (tahun yang sama dengan Sumpah Pemuda). Pada tanggal 22 Desember 1928 organisasi-organisasi perempuan (didirikan tahun 1912 yang diilhami oleh para pahlawan wanita abad-19 seperti Cut Nyak Dien, Cut Mutiah, R.A Kartini, dkk), membentuk Kongres Perempuan yang dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Kongres ini bisa dikatakan merupakan imbas dari peristiwa Sumpah Pemuda kepada kalangan perempuan, terjadi hanya sekitar 2 bulan setelahnya. Ada semacam semangat dan tanggung jawab untuk menyamakan derap agar dapat berkontribusi untuk bangsa dan negara. Presiden Soekarno kemudian menetapkannya melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959, bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini.
Hari ibu di Indonesia adalah sebuah peringatan tentang semangat dan perjuangan perempuan-perempuan Indonesia, apakah ia seorang ibu, seorang istri, atau yang belum menjadi ibu, tidak akan pernah menjadi ibu, dan bukan seorang istri, dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini.
Semangat hari ibu di Indonesia sebenarnya lebih sarat dengan pesan pemberdayaan, dan bukan sebaliknya sekadar ungkapan cinta dan penghargaan kepada ibu yang sudah seharusnya dilakukan setiap saat, tidak harus menunggu momen yang datangnya hanya sekali dalam setahun, dengan simbolisasi penghargaan yang tidak sepadan pula.
Memang tidak ada yang salah dengan kemuliaan seorang Ibu. Islam, sejak keberadaannya dan sejak dibawa oleh Rasulullah, telah meletakkan posisi seorang ibu sangat tinggi. Ibu, ibu, ibu, baru kemudianlah seorang ayah, yang wajib dihormati oleh seorang anak, begitu hadits Rasulullah SAW yang sudah terkenal. Pemuliaan kepada seorang ibu terjadi setiap waktu, bukan hanya satu hari saja. Bahkan Allah SWT mengabadikan perintahnya dalam QS. Al Ahqaaf 46:15, ”Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula)…”.
Sebuah kalimat bijak yang mengungkap bahwa, ibu sebagai tiang berdirinya negara. Negara dapat tegak berdiri karena berdirinya sekelompok manusia yang semakin hari semakin banyak jumlahnya, dan bertebaran di berbagai belahan dunia. Jumlah kelompok yang banyak itu semuanya terlahir dari rahim kaum ibu.
Tugas keibuan sebenarnya adalah tugas yang full time, bukan berarti ayah sebagai pencari nafkah tak ikut serta bertanggung jawab. Tidak ada satu jenis pekerjaan pun yang dapat merampas seorang ibu dari tugas keibuannya, dan tidak ada seorang pun yang dapat mengambil alih tugas keibuan tersebut (Dr. A. Majid Katme). Pernyataan tersebut memuat penghargaan tentang peran ibu yang dinilai sebagai peran yang tak tergantikan. Mengapa peran ibu tak tergantikan? Karena ibu merupakan sekolah pertama bagi anak-anaknya. Pertumbuhan generasi suatu bangsa pertama kali berada di tangan ibu. Di tangan seorang ibu pulalah pendidikan anak ditanamkan dari usia dini.
Karena begitu pentingnya peran ibu dalam membentuk karakter serta menanamkan nilai-nilai sejak dini, maka diperlukan ibu yang cerdas. Proses pewarisan nilai kepada generasi baru senantiasa memerlukan keteladanan dari pelakunya. Artinya, untuk melahirkan sebuah generasi baru yang unggul dan berkualitas, memerlukan sosok ibu yang berkualitas dan cerdas. Para ibu inilah yang akan sanggup melakukan pewarisan nilai-nilai kebaikan secara generatif kepada anaknya.
Sosok ibu yang cerdas itu bukan hanya cerdas secara nilai-nilai akademis, namun juga diharapkan cerdas secara emosi, akhlak dan spiritual. Karena seorang ibu bukan hanya menghadirkan anak-anak yang cerdas saja, melainkan melahirkan anak-anak yang optimal dari berbagai segi: biofisik, psikososial, kultural dan ruhiyah.
Untuk menjadi ibu yang cerdas, diperlukan ilmu pengetahuan dan keterampilan. Selain dorongan dari ibu itu sendiri dan keluarga, peran pemerintah atau negara dalam memfasilitasinya sangat diperlukan, karena generasi yang berkualitas akan menjadi ujung tombak suatu negara. Tidak sedikit tokoh yang sukses karena peran seorang ibu yang cerdas di belakangnya. Mungkin nama para ibu ini tidak pernah tercatat dalam sejarah. Namun anak-anak mereka tercatat dengan tinta emas. Dan itu cukup menjadi bukti eksistensi ibu.
Dalam hal ini, pemerintah memiliki tugas penting, yaitu menjamin agar ibu bisa menjalankan peran keibuannya dengan sempurna. Bukan malah mendorong ibu untuk bekerja ke luar negeri dengan memberikan julukan pahlawan devisa. Itu sama artinya negara ini tengah menjual masa depannya.
Tugas negara pula untuk menjamin pendidikan para ibu. Pendidikan dengan kurikulum yang tepat. Agar para ibu tidak hanya menjadikan materi sebagai orientasi hidupnya. Namun sesungguhnya, ibu punya tanggung jawab besar di pundaknya untuk masa depan bangsa. Maka, memang tidak salah kalau dikatakan perempuan adalah tiang negara. Bila tiang itu roboh, maka tunggulah waktu keruntuhan negara tersebut.
Bila harus menuliskan bagaimana kasih sayang ibu tercurah, mungkin perlu berjuta-juta kalimat. Itu sebabnya seluruh negara di dunia memiliki tanggal masing-masing untuk memperingati Hari Ibu. Namun, tidak perlu menunggu Hari Ibu untuk menyatakan rasa sayang pada ibu kita. Tidak perlu menunggu Hari Ibu tiba untuk memberi beliau hadiah. Tidak perlu menunggu Hari Ibu untuk merayakan Hari Ibu, karena setiap hari kita sudah merayakannya dengan mendoakannya (yang merupakan sebuah kado indah untuk ibu kita). Dan, tidak perlu menunggu hari Ibu tiba, untuk sekadar mengucapkan ‘I Love u, Mom…’.
Dakwatuna,
Hari Ibu
Sejarah Hari Ibu di Indonesia diawali dari pertemuan para pejuang wanita, dengan mengadakan Kongres Perempuan yang diselenggarakan di Yogyakarta pada tanggal 22-25 Desember 1928. (tahun yang sama dengan Sumpah Pemuda). Pada tanggal 22 Desember 1928 organisasi-organisasi perempuan (didirikan tahun 1912 yang diilhami oleh para pahlawan wanita abad-19 seperti Cut Nyak Dien, Cut Mutiah, R.A Kartini, dkk), membentuk Kongres Perempuan yang dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Kongres ini bisa dikatakan merupakan imbas dari peristiwa Sumpah Pemuda kepada kalangan perempuan, terjadi hanya sekitar 2 bulan setelahnya. Ada semacam semangat dan tanggung jawab untuk menyamakan derap agar dapat berkontribusi untuk bangsa dan negara. Presiden Soekarno kemudian menetapkannya melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959, bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini.
Hari ibu di Indonesia adalah sebuah peringatan tentang semangat dan perjuangan perempuan-perempuan Indonesia, apakah ia seorang ibu, seorang istri, atau yang belum menjadi ibu, tidak akan pernah menjadi ibu, dan bukan seorang istri, dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini.
Semangat hari ibu di Indonesia sebenarnya lebih sarat dengan pesan pemberdayaan, dan bukan sebaliknya sekadar ungkapan cinta dan penghargaan kepada ibu yang sudah seharusnya dilakukan setiap saat, tidak harus menunggu momen yang datangnya hanya sekali dalam setahun, dengan simbolisasi penghargaan yang tidak sepadan pula.
Memang tidak ada yang salah dengan kemuliaan seorang Ibu. Islam, sejak keberadaannya dan sejak dibawa oleh Rasulullah, telah meletakkan posisi seorang ibu sangat tinggi. Ibu, ibu, ibu, baru kemudianlah seorang ayah, yang wajib dihormati oleh seorang anak, begitu hadits Rasulullah SAW yang sudah terkenal. Pemuliaan kepada seorang ibu terjadi setiap waktu, bukan hanya satu hari saja. Bahkan Allah SWT mengabadikan perintahnya dalam QS. Al Ahqaaf 46:15, ”Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula)…”.
Sebuah kalimat bijak yang mengungkap bahwa, ibu sebagai tiang berdirinya negara. Negara dapat tegak berdiri karena berdirinya sekelompok manusia yang semakin hari semakin banyak jumlahnya, dan bertebaran di berbagai belahan dunia. Jumlah kelompok yang banyak itu semuanya terlahir dari rahim kaum ibu.
Tugas keibuan sebenarnya adalah tugas yang full time, bukan berarti ayah sebagai pencari nafkah tak ikut serta bertanggung jawab. Tidak ada satu jenis pekerjaan pun yang dapat merampas seorang ibu dari tugas keibuannya, dan tidak ada seorang pun yang dapat mengambil alih tugas keibuan tersebut (Dr. A. Majid Katme). Pernyataan tersebut memuat penghargaan tentang peran ibu yang dinilai sebagai peran yang tak tergantikan. Mengapa peran ibu tak tergantikan? Karena ibu merupakan sekolah pertama bagi anak-anaknya. Pertumbuhan generasi suatu bangsa pertama kali berada di tangan ibu. Di tangan seorang ibu pulalah pendidikan anak ditanamkan dari usia dini.
Karena begitu pentingnya peran ibu dalam membentuk karakter serta menanamkan nilai-nilai sejak dini, maka diperlukan ibu yang cerdas. Proses pewarisan nilai kepada generasi baru senantiasa memerlukan keteladanan dari pelakunya. Artinya, untuk melahirkan sebuah generasi baru yang unggul dan berkualitas, memerlukan sosok ibu yang berkualitas dan cerdas. Para ibu inilah yang akan sanggup melakukan pewarisan nilai-nilai kebaikan secara generatif kepada anaknya.
Sosok ibu yang cerdas itu bukan hanya cerdas secara nilai-nilai akademis, namun juga diharapkan cerdas secara emosi, akhlak dan spiritual. Karena seorang ibu bukan hanya menghadirkan anak-anak yang cerdas saja, melainkan melahirkan anak-anak yang optimal dari berbagai segi: biofisik, psikososial, kultural dan ruhiyah.
Untuk menjadi ibu yang cerdas, diperlukan ilmu pengetahuan dan keterampilan. Selain dorongan dari ibu itu sendiri dan keluarga, peran pemerintah atau negara dalam memfasilitasinya sangat diperlukan, karena generasi yang berkualitas akan menjadi ujung tombak suatu negara. Tidak sedikit tokoh yang sukses karena peran seorang ibu yang cerdas di belakangnya. Mungkin nama para ibu ini tidak pernah tercatat dalam sejarah. Namun anak-anak mereka tercatat dengan tinta emas. Dan itu cukup menjadi bukti eksistensi ibu.
Dalam hal ini, pemerintah memiliki tugas penting, yaitu menjamin agar ibu bisa menjalankan peran keibuannya dengan sempurna. Bukan malah mendorong ibu untuk bekerja ke luar negeri dengan memberikan julukan pahlawan devisa. Itu sama artinya negara ini tengah menjual masa depannya.
Tugas negara pula untuk menjamin pendidikan para ibu. Pendidikan dengan kurikulum yang tepat. Agar para ibu tidak hanya menjadikan materi sebagai orientasi hidupnya. Namun sesungguhnya, ibu punya tanggung jawab besar di pundaknya untuk masa depan bangsa. Maka, memang tidak salah kalau dikatakan perempuan adalah tiang negara. Bila tiang itu roboh, maka tunggulah waktu keruntuhan negara tersebut.
Bila harus menuliskan bagaimana kasih sayang ibu tercurah, mungkin perlu berjuta-juta kalimat. Itu sebabnya seluruh negara di dunia memiliki tanggal masing-masing untuk memperingati Hari Ibu. Namun, tidak perlu menunggu Hari Ibu untuk menyatakan rasa sayang pada ibu kita. Tidak perlu menunggu Hari Ibu tiba untuk memberi beliau hadiah. Tidak perlu menunggu Hari Ibu untuk merayakan Hari Ibu, karena setiap hari kita sudah merayakannya dengan mendoakannya (yang merupakan sebuah kado indah untuk ibu kita). Dan, tidak perlu menunggu hari Ibu tiba, untuk sekadar mengucapkan ‘I Love u, Mom…’.



