mukmin.in - Media yang cukup representatif di Amerika – The New York Times,
ternyata selama ini melakukan pembohongan publik terhadap rakyat
Amerika, khususnya mengenai kejahatan-kejahatan dan kekejeman yang
dilakukan oleh zionist israel.
Menurut sudut pandang media The New York Times, tidak ada yang namanya
pengepungan diwilayah Gaza, tidak ada pendudukan di Tepi Barat, dan
bahkan tidak pernah terjadi Nakba (pembunuhan besar-besaran terhadap
warga Palestina di tahun 1948). Media ini tidak pernah memberitakan dan
mencatat peristiwa-peristiwa ini.
Pada tanggal 13 Desember 2012 lalu, The New York Times menerbitkan
artikel yang ditulis oleh Steven Erlanger, artikel ini membahas tuntas
tentang meningkatnya angka kemiskinan di Gaza, namun didalam artikel ini
sama sekali tidak menyebutkan adanya blokade terhadap Gaza oleh israel,
padahal blokade inilah yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan
di Gaza.
Semua serangan yang dilakukan Israel terhadap Gaza dianggap sebagai
balasan terhadap roket Hamas, bahkan Erlanger memutar balikan fakta
bahwa semua ketidak-beruntungan dan kemiskinan warga Gaza adalah
dikarenakan “pengepungan” yang dilakukan oleh HAMAS terhadap warganya
sendiri, dalam artikel ini menyebutkan bahwa HAMAS telah menyebabkan
warga Gaza semakin miskin karena tidak sanggup menjalankan roda
pemerintahan di Gaza, sehingga angka pengangguran semakin meningkat.
Artikel-artikel maupun berita yang dibuat The New York Times tentang
Palestina jauh sekali dari fakta sebenarnya, dan sangat menyesatkan bagi
pembaca khususnya warga Amerika, The New York Times melindungi
kepentingan-kepentingan israel dengan cara memberikan rakyat Amerika
berita-berita yang penuh khayalan bahwa israel berada dipihak yang
benar.
Mungkin karena itulah, mengapa warga Amerika buta terhadap persoalan
yang terjadi di Timur Tengah, khususnya konflik israel – Palestina.
Mereka tidak memahami catatan historis, geografi, dan realita-realita
politik yang sebenarnya terjadi.
Jadi, menurut The New York Times, HAMAS lah yang bertanggung jawab
terhadap persoalan yang terjadi di Gaza; dan israel sama sekali tidak
ada hubungannya terhadap masalah yang dialami warga Gaza.
Undergroundtauhid.com
Electronicintifada.net
Red : Catalyst Fist
Tampilkan postingan dengan label Zionis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zionis. Tampilkan semua postingan
Yahudi memanfaatkan nama “Israel” saat mereka membangun kekuatannya di era modern ini. Dengan nama itu, mereka mengklaim terikat dengan dengan Nabi Allah Israil alaihissalam, mengikuti agamanya, pewarisnya, keturunannya. Dan seakan Allah meridlai mereka.
Tatkala Yahudi menduduki Palestina dan mendirikan negara mereka di sana, mereka menamakannya dengan “negara Israel”. Lembaga dan instansi yang ada juga atas nama Israel; Bank Israel, bendera Israel, tanah Israel, suara Israel, tentara pertahanan Israel, kementerian luar negeri Israel dan seterusnya.
Agar diterima oleh masyarakat dunia, Yahudi memberikan imbuhan dan kesan dimensi agama dalam entitas dan eksistensi mereka di tanah Palestina. Ini mereka lakukan agar masyarakat internasional simpati agamis dan kalangan yahudi dunia sudi eksodus ke negara Yahudi, mengerahkan seluruh energi dan potensi yang mereka milik untuk negara penjajah ini.
Selain itu, dengan menamakan diri sebagai “negara Israel” cara seperti ini, Yahudi ingin mempengaruhi kalangan Kristen dunia dan mendapatkan dukungan. Sebab kalangan ini juga mengklaim beriman kepada Injil (Bibel) dan Taurat juga. Taurat adalah Perjanjian Lama dan Bibel adalah Perjanjian Baru. Keduanya diyakini kalangan Kristen sebagai kitab suci.
Yahudi ingin memberikan entitas mereka di Palestina untuk kalangan Kristen sebagai wujud nubuwat dalam perjanjian lama di dalam kita suci. Mereka ingin menunjukkan seakan ini sebagai perwujudan janji Allah kepada Ibrahim dan Israil (Yakqub). Mereka ingin memberikan pemahaman kepada Kristen bahwa dukungan kepada ensitas Yahudi di Palestina adalah konsekwensi keimanan Kristen kepada Injil (Bibel). Karenanya, sebagian negara Kristen di barat terpengaruh kepada klaim Yahudi ini.
Israil adalah Nama Nabi
Israil adalah Nabi Allah yang mulia dan dicintai-Nya. Ia adalah Yakqub bin Ishak bin Ibrahim alaihimussalam. Allah berfirman,
“Mereka itu adalah orang-orang yang Telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang Telah kami beri petunjuk dan Telah kami pilih. apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, Maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (Maryam: 58)
Sementara Bani Israil adalah anak dan keturunan Nabi Yakqub 12 orang, Yusuf dan saudara-saudaranya. Dari 12 orang inilah berkembang biak dan menjadi Bani Israil saat mereka tinggal di Mesir bersama Yusuf. Ketika datang Musa, mereka keluar bersamanya ke Gurun Sinai. Saat mereka kehausan Musa memukulkan tongkatnya ke batu dan mengeluarkan mata air sebagi mukjizat.
Nama Bani Israil digunakan sampai diutusnya Nabi Muhammad. Ayat Al-Quran jelas menginformasikan tentang mereka, sejarah, perbuatan, taklif Allah kepada mereka, kesalahan dan penyimpangan mereka.
Yahudi atau Israel?
Al-Quran menyebut Yahudi kepada Bani Israil setelah diutusnya Nabi Muhammad dan setelah mereka kufur dan mengingkari kenabian beliau. Nama Yahudi adalah bukan bahasa Arab namun digunakan untuk mengistilahkan bangsa kafir yang dimurkai Allah. Nama Yahudi hanya disebutkan dalam ayat-ayat madani (yang turun setelah hijrah ke Madinah) di delapan kali di surat; Al-Baqarah, Al-Maidah, dan di At-Taubah semuanya dengan konteks celaan atas mereka dan bukan pujian.
Beralihnya peristilahan Al-Quran dari Bani Israil kepada Yahudi ini memberikan kesimpulan bahwa umat Islam wajib mengikuti methode Al-Quran dalam membedakan antara Yahudi dan Bani Israel.
Ketika Al-Quran mengganti istilah Bani Israel menjadi Yahudi ini ingin menghilangkan mereka dari warisan hakiki Ibrahim dan Israil. Meski mereka mungkin masih ada keturunan Nabi Israil, namun mereka bukan pewarisnya karena mereka tidak mengikuti agama beliau.
Karena itu untuk menunjuk kepada negara penjajah di Palestina saat ini yang benar adalah menyebutkan “negara penjajah zionis yahudi” dan bukan Israel. Zionis menunjuk kepada organisasi internasional jahat yang merancang berdirinya negara penjajah tersebut di Palestina. Sebab jika menggunakan Israel dikhawatirkan akan memberikan imbuhan laknat, celaan, cercaan kepada seorang Nabi Allah yakni Yakqub. Jika pun terpaksa menggunakannya karena tuntutan konteks jurnalistik maka menyebut itu dengan tanda petik ‘Israel’.(Pic)
Sumber: Islam Pos
Oleh: Tirmidzi Basyir
SIDRAP,AJPNews-- Mengecam Aksi tentara
Israel yang menyerang warga tak berdosa di Palestina mendapat dukungan
dari berbagai kalangan, bahkan dari para santri dan santriwati Pondok
Pesantren (Ponpes) Al Urwatul Wutsqa Kecamatan Baranti.
Sebagai bentuk kecaman terhadap serangan Israel itu, ratusan santri dan santriwati Ponpoes Al Urwatul Wutsqa itu menggelar Shalat Gaib dan doa bersama di Masjid Pesantren. Shalat Gaib dan Doa bersama itu dilaksanakan usai melaksanakan Shalat Isya secara berjamaah dipimpin Pimpinan Ponpes Al Urwatu Wutsqa, Ustaz H Imran Muin Yusuf. Masyarakat sekitar juga turut serta menggelar Shalat Gaib bersama para santri.
Pimpinan Ponpes Al Urwatu Wutsqa, Ustaz H Imran Muin Yusuf usai menggelar Shalat gaib dan Doa bersama berharap Pemerintah Indinesia bisa tegas untuk mendesak PBB untuk turun tangan menghentikan konflik tersebut, bukan hanya sekedar mengutuk saja.
Menurut H Imran Muin, sebagai umat beragama pasti mengecam apa yang dilakukan Israel terhadap Palestina, palagi kata dia itu merupakan tragedi kemanusiaan.
"Kami dari pihak pesantren hanya bisa berharap pemerintah kita lebih tegas memberikan tekanan diplomatik kepada Israel, karena untuk mengatasi masalah seperti ini, umumnya hanya melalui meja perundingan,"ungkapnya.
H Imran mengaku sangat berharap serangan Israel itu bisa segera berakhir, sehingga tidak ada lagi korban tak berdosa yang berjatuhan. ia menghaku sangat miris melihat anak-anak dan wanita tak berdosa yang harus jadi sasaran penembakan. (cha)
Editor Online : Ady Sanjaya
www.ajatapparengnews.com
Sebagai bentuk kecaman terhadap serangan Israel itu, ratusan santri dan santriwati Ponpoes Al Urwatul Wutsqa itu menggelar Shalat Gaib dan doa bersama di Masjid Pesantren. Shalat Gaib dan Doa bersama itu dilaksanakan usai melaksanakan Shalat Isya secara berjamaah dipimpin Pimpinan Ponpes Al Urwatu Wutsqa, Ustaz H Imran Muin Yusuf. Masyarakat sekitar juga turut serta menggelar Shalat Gaib bersama para santri.
Pimpinan Ponpes Al Urwatu Wutsqa, Ustaz H Imran Muin Yusuf usai menggelar Shalat gaib dan Doa bersama berharap Pemerintah Indinesia bisa tegas untuk mendesak PBB untuk turun tangan menghentikan konflik tersebut, bukan hanya sekedar mengutuk saja.
Menurut H Imran Muin, sebagai umat beragama pasti mengecam apa yang dilakukan Israel terhadap Palestina, palagi kata dia itu merupakan tragedi kemanusiaan.
"Kami dari pihak pesantren hanya bisa berharap pemerintah kita lebih tegas memberikan tekanan diplomatik kepada Israel, karena untuk mengatasi masalah seperti ini, umumnya hanya melalui meja perundingan,"ungkapnya.
H Imran mengaku sangat berharap serangan Israel itu bisa segera berakhir, sehingga tidak ada lagi korban tak berdosa yang berjatuhan. ia menghaku sangat miris melihat anak-anak dan wanita tak berdosa yang harus jadi sasaran penembakan. (cha)
Editor Online : Ady Sanjaya
www.ajatapparengnews.com



