Sejumlah akun jejaring sosial milik Wakil Perdana Menteri Israel, Silvan
Shalom, dibajak hacker dan dijejali dengan pesan-pesan bernada pro
Palestina. Hacker bernama ZCompanyHackingCrew mengklaim mereka-lah yang
melakukan aksi pembobolan tersebut.
Selain membajak akun
Facebook, Twitter, LinkedIn dan YouTube, kelompok hacker ini juga
mengklaim telah meng-hack email Shalom dan mengekstrak sejumlah email
pribadi, data kontak, dan dokumen. Data-data tersebut rencananya akan
dirilis dalam waktu dekat.
mukmin.in - Media yang cukup representatif di Amerika – The New York Times,
ternyata selama ini melakukan pembohongan publik terhadap rakyat
Amerika, khususnya mengenai kejahatan-kejahatan dan kekejeman yang
dilakukan oleh zionist israel.
Menurut sudut pandang media The New York Times, tidak ada yang namanya
pengepungan diwilayah Gaza, tidak ada pendudukan di Tepi Barat, dan
bahkan tidak pernah terjadi Nakba (pembunuhan besar-besaran terhadap
warga Palestina di tahun 1948). Media ini tidak pernah memberitakan dan
mencatat peristiwa-peristiwa ini.
Pada tanggal 13 Desember 2012 lalu, The New York Times menerbitkan
artikel yang ditulis oleh Steven Erlanger, artikel ini membahas tuntas
tentang meningkatnya angka kemiskinan di Gaza, namun didalam artikel ini
sama sekali tidak menyebutkan adanya blokade terhadap Gaza oleh israel,
padahal blokade inilah yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan
di Gaza.
Semua serangan yang dilakukan Israel terhadap Gaza dianggap sebagai
balasan terhadap roket Hamas, bahkan Erlanger memutar balikan fakta
bahwa semua ketidak-beruntungan dan kemiskinan warga Gaza adalah
dikarenakan “pengepungan” yang dilakukan oleh HAMAS terhadap warganya
sendiri, dalam artikel ini menyebutkan bahwa HAMAS telah menyebabkan
warga Gaza semakin miskin karena tidak sanggup menjalankan roda
pemerintahan di Gaza, sehingga angka pengangguran semakin meningkat.
Artikel-artikel maupun berita yang dibuat The New York Times tentang
Palestina jauh sekali dari fakta sebenarnya, dan sangat menyesatkan bagi
pembaca khususnya warga Amerika, The New York Times melindungi
kepentingan-kepentingan israel dengan cara memberikan rakyat Amerika
berita-berita yang penuh khayalan bahwa israel berada dipihak yang
benar.
Mungkin karena itulah, mengapa warga Amerika buta terhadap persoalan
yang terjadi di Timur Tengah, khususnya konflik israel – Palestina.
Mereka tidak memahami catatan historis, geografi, dan realita-realita
politik yang sebenarnya terjadi.
Jadi, menurut The New York Times, HAMAS lah yang bertanggung jawab
terhadap persoalan yang terjadi di Gaza; dan israel sama sekali tidak
ada hubungannya terhadap masalah yang dialami warga Gaza.
Undergroundtauhid.com Electronicintifada.net Red : Catalyst Fist
Nama Israel sudah
populer di semua kalangan. Hampir seluruh media massa di dunia menyebut
sebuah negara penjajah yang menguasai Palestina saat ini sebagai “negara
Israel”. Padahal jika dijelusuri secara historis, istilah Israel dalam
hal ini tidak tepat. Ini adalah bagian dari “perang terminologi”. Tanpa
sadar, hampir keseluruhan umat Islam dengan mudah mengucapkan kata
“Israel” bahkan diikuti dengan kata atau doa yang buruk serta laknat
terhadap mereka. Padahal, nama Israel adalah nama Nabi Ya’qub
alaihisalam.
Yahudi memanfaatkan nama “Israel” saat mereka
membangun kekuatannya di era modern ini. Dengan nama itu, mereka
mengklaim terikat dengan dengan Nabi Allah Israil alaihissalam,
mengikuti agamanya, pewarisnya, keturunannya. Dan seakan Allah meridlai
mereka.
Tatkala Yahudi menduduki Palestina dan mendirikan negara
mereka di sana, mereka menamakannya dengan “negara Israel”. Lembaga dan
instansi yang ada juga atas nama Israel; Bank Israel, bendera Israel,
tanah Israel, suara Israel, tentara pertahanan Israel, kementerian luar
negeri Israel dan seterusnya.
Agar diterima oleh masyarakat
dunia, Yahudi memberikan imbuhan dan kesan dimensi agama dalam entitas
dan eksistensi mereka di tanah Palestina. Ini mereka lakukan agar
masyarakat internasional simpati agamis dan kalangan yahudi dunia sudi
eksodus ke negara Yahudi, mengerahkan seluruh energi dan potensi yang
mereka milik untuk negara penjajah ini.
Selain itu, dengan
menamakan diri sebagai “negara Israel” cara seperti ini, Yahudi ingin
mempengaruhi kalangan Kristen dunia dan mendapatkan dukungan. Sebab
kalangan ini juga mengklaim beriman kepada Injil (Bibel) dan Taurat
juga. Taurat adalah Perjanjian Lama dan Bibel adalah Perjanjian Baru.
Keduanya diyakini kalangan Kristen sebagai kitab suci.
Yahudi
ingin memberikan entitas mereka di Palestina untuk kalangan Kristen
sebagai wujud nubuwat dalam perjanjian lama di dalam kita suci. Mereka
ingin menunjukkan seakan ini sebagai perwujudan janji Allah kepada
Ibrahim dan Israil (Yakqub). Mereka ingin memberikan pemahaman kepada
Kristen bahwa dukungan kepada ensitas Yahudi di Palestina adalah
konsekwensi keimanan Kristen kepada Injil (Bibel). Karenanya, sebagian
negara Kristen di barat terpengaruh kepada klaim Yahudi ini.
Israil adalah Nama Nabi
Israil adalah Nabi Allah yang mulia dan dicintai-Nya. Ia adalah Yakqub bin Ishak bin Ibrahim alaihimussalam. Allah berfirman,
“Mereka
itu adalah orang-orang yang Telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para
nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang kami angkat bersama
Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang
Telah kami beri petunjuk dan Telah kami pilih. apabila dibacakan
ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, Maka mereka menyungkur
dengan bersujud dan menangis.” (Maryam: 58)
Sementara Bani Israil
adalah anak dan keturunan Nabi Yakqub 12 orang, Yusuf dan
saudara-saudaranya. Dari 12 orang inilah berkembang biak dan menjadi
Bani Israil saat mereka tinggal di Mesir bersama Yusuf. Ketika datang
Musa, mereka keluar bersamanya ke Gurun Sinai. Saat mereka kehausan Musa
memukulkan tongkatnya ke batu dan mengeluarkan mata air sebagi
mukjizat.
Nama Bani Israil digunakan sampai diutusnya Nabi
Muhammad. Ayat Al-Quran jelas menginformasikan tentang mereka, sejarah,
perbuatan, taklif Allah kepada mereka, kesalahan dan penyimpangan
mereka.
Yahudi atau Israel?
Al-Quran
menyebut Yahudi kepada Bani Israil setelah diutusnya Nabi Muhammad dan
setelah mereka kufur dan mengingkari kenabian beliau. Nama Yahudi adalah
bukan bahasa Arab namun digunakan untuk mengistilahkan bangsa kafir
yang dimurkai Allah. Nama Yahudi hanya disebutkan dalam ayat-ayat madani
(yang turun setelah hijrah ke Madinah) di delapan kali di surat;
Al-Baqarah, Al-Maidah, dan di At-Taubah semuanya dengan konteks celaan
atas mereka dan bukan pujian.
Beralihnya peristilahan Al-Quran
dari Bani Israil kepada Yahudi ini memberikan kesimpulan bahwa umat
Islam wajib mengikuti methode Al-Quran dalam membedakan antara Yahudi
dan Bani Israel.
Ketika Al-Quran mengganti istilah Bani Israel
menjadi Yahudi ini ingin menghilangkan mereka dari warisan hakiki
Ibrahim dan Israil. Meski mereka mungkin masih ada keturunan Nabi
Israil, namun mereka bukan pewarisnya karena mereka tidak mengikuti
agama beliau.
Karena itu untuk menunjuk kepada negara penjajah di
Palestina saat ini yang benar adalah menyebutkan “negara penjajah
zionis yahudi” dan bukan Israel. Zionis menunjuk kepada organisasi
internasional jahat yang merancang berdirinya negara penjajah tersebut
di Palestina. Sebab jika menggunakan Israel dikhawatirkan akan
memberikan imbuhan laknat, celaan, cercaan kepada seorang Nabi Allah
yakni Yakqub. Jika pun terpaksa menggunakannya karena tuntutan konteks
jurnalistik maka menyebut itu dengan tanda petik ‘Israel’.(Pic)
MukminIN BLOG. Masjidil
Aqsho adalah milik seluruh kaum muslimin secara historis; letaknya di
Palestina. Dia juga biasa disebut dengan “Masjid Baitul Maqdis”, atau
“Masjid Iliya”. Palestina dahulu pernah dihuni oleh dua suku Arab : suku
Finiqiyyun, dan Kan’aniyyun, lalu setelah itu orang-orang Yahudi datang
ke Palestina saat lari dari kejaran Fir’aun. Terakhir, Palestina
dikuasai oleh khilafah Islamiyyah di zaman khilafah Umar bin
Al-Khoththob -radhiyallahu ‘anhu- sampai zaman kita.
Kemudian berusaha dikuasai secara zholim oleh orang-orang Yahudi dari
berbagai negara, sebab mereka dahulu berpencar. Masjidil Aqsho yang
merupakan milik kaum muslimin adalah masjid yang memiliki keutamaan yang
banyak. Karenanya, kita perlu mengetahui
keutamaan-keutamaan itu sehingga kita bisa meraih keutamaan yang
terdapat di dalamnya, dan tetap berjuang meraihnya dari tangan Zionis
Yahudi. Diantara keutamaan Masjidil Aqsho:
Masjid Kedua di Dunia
Masjidil Aqsho adalah masjid kedua yang dibangun setelah Ka’bah
(Masjidil Haram) sebagaimana yang disebutkan dalam sebagian
hadits-hadits shohih dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Abu Dzar
-radhiyallahu ‘anhu- berkata, قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ أَيُّ مَسْجِدٍ
وُضِعَ فِي اْلأَرْضِ أَوَّلَ ؟ قَالَ : اَلْمَسْجِدُ الْحَرَامُ. قَالَ:
قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ: اَلْمَسْجِدُ اْلأَقْصَى. قُلْتُ: كَمْ كَانَ
بَيْنَهُمَا ؟ قَالَ:أَرْبَعُوْنَ سَنَةً, ثُمَّ أَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ
الصَّلاَةُ بَعْدُ, فَصَلِّهْ, فَإِنَّ الْفَضْلَ فِيْهِ
“Aku berkata, “Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama kali
dibangun di bumi?” Beliau bersabda, “Masjidil Haram”. Dia (Abu Dzar)
berkata, “Aku katakan, “Lalu setelah itu?” Beliau bersabda, “Masjidil
Aqsho”. Aku katakan, “Berapa jarak waktu antara (pembangunan) keduanya”.
Beliau besabda, “Jarak antara kedua adalah 40 tahun. Kemudian dimanapun
kau didapati waktu sholat setelah itu, maka sholatlah (disitu), karena
keutamaan ada padanya (yakni, sholat di awal waktu)”. [HR. Al-Bukhoriy
(3366 & 3425), Muslim (520) An-Nasa’iy (690), dan Ibnu Majah (753)]
Tempat Mencari Pahala dan Keutamaan
Di dalam Islam, Seorang tidak diperkenankan melakukan safar untuk
mengunjungi suatu tempat dalam rangka beribadah, mencari pahala, dan
keutamaan pada suatu tempat, kecuali menuju ke tiga masjid yang
disebutkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam sabdanya,
لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلىَ ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ
الْحَرَامِ وِمَسْجِدِ الرَّسُوْلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ
ومَسْجِدِ اْلأَقْصَى
“Tidak boleh bersafar, kecuali menuju tiga masjid: Masjidil Haram,
Masjid Rasul -Shollallahu ‘alaihi wasallam- (Masjid Nabawi), dan
Masjidil Aqsho”. [HR. Al-Bukhoriy (1189), dan Muslim (1397)] Jadi,
bersafar dalam rangka beribadah, mencari pahala, dan keutamaan, tidak
boleh dilakukan pada selain tiga tempat itu. Dari sini, kita tahu
kesalahan sebagian kaum muslimin yang melakukan safar untuk mengunjungi
kubur orang yang dianggap wali atau orang sholeh, seperti yang dilakukan
oleh orang-orang jahil di Jawa; mereka melakukan “Tour Keliling Wali
Songo”. Kekeliruan seperti ini juga mulai menjangkit ke Sulsel dengan
adanya sebagian orang-orang diantara mereka yang melakukan safar dari
tempat lain menuju kubur Syaikh Yusuf, Gowa. Ini jelas adalah kesalahan
yang menyalahi petunjuk Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam
hadits ini.
Keutamaan Sholat di Masjidil Aqsho
Diantara keutamaan Masjidil Aqsho, Allah akan mengampuni dosa orang
yang shalat di dalamnya, sedang tak ada yang mendorongnya ke Masjidil
Aqsho, selain ia mau sholat di dalamnya. Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi
wa sallam- bersabda,
أَنَّ سُلَيْمَانَ بْنَ دَاوُدَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا
بَنَى بَيْتَ الْمَقْدِسِ سَأَلَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ خِلاَلاً ثَلاَثَةً
سَأَلَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حُكْمًا يُصَادِفُ حُكْمَهُ فَأُوْتِيَهُ
وَسَأَلَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ مُلْكًا لاَ يَنْبَغِيْ لأَحَدٍ مِنْ
بَعْدِهِ فَأُوْتِيَهُ وَسَأَلَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حِيْنَ فَرَغَ مِنْ
بِنَاءِ الْمَسْجِدِ أَنْ لاَ يَأْتِيَهُ أَحَدٌ لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ
الصَّلاَةُ فِيْهِ أَنْ يُخْرِجَهُ مِنْ خَطِيْئَتِهِ كِيَوْمِ وَلَدَتْهُ
أُمُّهُ
“Sesungguhnya Sulaiman bin Dawud -Shollallahu ‘alaihi wasallam-,
tatkala ingin membangun (memugar) Masjid Baitul Masjid, maka ia meminta
kepada Allah ( Azza wa Jalla ) tentang tiga hal: Dia meminta kepada Allah ( Azza wa Jalla ) hukum (keputusan) yang mencocoki hukum-Nya, lalu ia pun diberi; dia meminta kepada Allah ( Azza wa Jalla ) suatu kekuasaan yang tak pantas bagi seorangpun setelah Sulaiman, lalu ia pun diberi; Dia meminta kepada Allah ( Azza wa Jalla )
setelah usai memugar Masjidil Aqsho agar tak ada seorang pun yang
datang, sedang tak ada yang mendorongnya (untuk datang), selain sholat
di dalamnya agar orang itu dikeluarkan dari kesalahan (dosa)nya, seperti
hari ia dilahirkan oleh ibunya”. [HR. An-Nasa’iy dalam Sunan-nya (693),
dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (1408). Hadits ini di-shohih-kan oleh
Syaikh Al-Albaniy Al-Atsariy dalam Ats-Tsamr Al-Mustathob (1/545)] Jadi,
sholat di masjidil Aqsho akan menjadi sebab Allah mengampuni dosa
seorang hamba. Ini adalah keutamaan besar yang Allah berikan kepada
orang melaksanakan sholat di Masjidil Aqsho
Perbandingan kebaikan sholat di Masjid Nabawi dengan sholat di Masjid
Baitul Maqdis, empat banding satu. Maksudnya jika sholat di masjid
Nabawi satu kali, lalu seorang akan mendapatkan pahala 1000 sholat atau
lebih baik lagi, maka sholat di Masjidil Aqsho, seorang akan mendapatkan
250 pahala Abu Dzar -radhiyallahu ‘anhu- berkata,
تَذَاكَرْنَا وَ نَحْنُ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ
سَلَّمَ: أَيُّهُمَا أَفْضَلُ, مَسْجِدُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أو مَسْجِدُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : صلاة في مَسْجِدِيْ هذا أَفْضَلُ
مِنْ أَرْبَعِ صَلَوَاتٍ فِيْهِ وَ لَنِعْمَ الْمُصَلَّى وَ لَيُوُشِكَنَّ
أَنْ لاَ يَكُوْنَ لِلَّرَجُلِ مِثْلُ شَطَنِ فَرَسِهِ مِنَ اْلأَرْضِ
حَيْثُ يُرَى مِنْهُ بَيْتُ الْمَقْدِسِ خَيْرٌ لَهُ مِنَ الدُّنْيَا
جَمِيْعًا أَوْ قَالَ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَ مَا فِيْهَا .
“Kami pernah berbincang-bincang, sedang kami di sisi Rasulullah
-Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Manakah yang lebih afdhol (utama),
apakah Masjid Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- ataukah Masjid
Baitul Maqdis?” Maka Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-
bersabda, “Sholat di masjidku ini lebih afdhol dibandingkan empat kali
sholat di dalamnya (di dalam Masjidil Aqsho). Dia adalah sebaik-baik
tempat sholat. Hampir-hampir seorang tidak memiliki tanah senilai tali
kuda, dimana akan diperlihatkan Baitul Maqdis baginya dari tempat itu.
Itu (tanah sekecil itu) adalah lebih baik baginya dibandingkan dunia
seluruhnya”. –atau beliau bersabda-, “lebih baik dibandingkan dunia, dan
sesuatu yang ada di dalamnya”. [HR. Ibrohim bin Thohman Al-Khurosaniy
dalam Masyikhoh-nya (hal. 119), Ath-Thobroniy dalam Al-Ausath (6983
& 8230), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (8553), Al-Baihaqiy dalam
Syu’abul Iman (4145), dan lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh
Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (7/955)]
Syaikh Hisyam Al-Arif Al-Maqdisiy-hafizhahullah- berkata, “Hadits ini
seshohih-shohihnya sesuatu yang datang tentang pahala sholat di
Masjidil Aqsho. Hadits ini menunjukkan bahwa sholat di Masjid Nabi
-Shallallahu ‘alaihi wa sallam- (Masjid Nabawi) seperti empat kali
sholat di Masjidil Aqsho, yakni sholat di Masjidil Aqsho seperti 250
kali sholat dalam hal pahala”. [Lihat Majalah Al-Asholah (Edisi 30/15
Syawwal 1421 H)]
I’tikaf yang Paling Utama
I’tikaf yang paling utama dilakukan oleh seseorang, i’tikaf di salah
satu dari tiga masjid itu (Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil
Aqsho), walaupun harus bersafar. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-
bersabda,
لاَ اعْتِكَافَ إِلاَّ فِيْ هَذِهِ الْمَسَاجِدِ الثَّلاِثَةِ : مَسْجِدِ الْمَدِيْنَةِ وَمَسْجِدِ مَكَّةَ وَمَسْجِدِ إِيْلِيَا
“Tak ada i’tikaf (yang sempurna, pent-), kecuali di tiga masjid:
Masjid Madinah (Masjid Nabawi), Masjid Makkah (Masjidil Haram), dan
Masjid Iliya (Masjidil Aqsho)”. [HR. Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (8357),
Ath-Thobroniy dalam dalam Al-Kabir (9511), dan lainnya. Hadits ini
di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- dalam Ash-Shohihah
(2786)]
Pembangunan Baitul Maqdis
Pembangunan Baitul Maqdis Allah -Ta’ala- telah menetapkan ajal bagi
semua makhluk-Nya; ada yang jaya, dan ada yang binasa. Nabi -Shallallahu
‘alaihi wa sallam- pernah bersabda menceritakan silsilah kejadian akhir
zaman,
عِمْرَانُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ خَرَابُ يَثْرِبَ, وَخَرَابُ يَثْرِبَ
خُرُوْجُ الْمَلْحَمَةِ, وَخُرُوْجُ الْمَلْحَمَةِ فَتْحُ
قَسْطَنْطِيْنِيَّةَ, وفَتْحُ قَسْطَنْطِيْنِيَّةَ خُرُوْجُ الدَّجَّالِ
“Pembangunan Baitul Maqdis adalah (waktu) hancurnya kota Madinah.
Hancurnya kota Madinah adalah (waktu) munculnya perang besar. Munculnya
perang besar adalah (waktu) direbutnya Qostantiniyah (kerajaan Romawi).
Direbutnya Qostantiniyah (kerajaan Romawi) adalah (waktu) keluarnya
Dajjal”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4294), Ahmad dalam Musnad-nya
(22076 & 22174), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (8297), Ath-Thobroniy
dalam Al-Kabir (214), dan lainnya. Hadits ini di-hasan-kan oleh
Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (5424)] Al-Allamah Syamsul Haq
Al-Azhim Abadi-rahimahullah- berkata dalam menegaskan makna hadits ini,
“Pendapat yang paling benar, Yang dimaksud dengan pembangunan Baitul
Maqdis adalah kesempurnaan dalam hal pembangunan, yaitu pembangunan
baitul Maqdis secara sempurna lagi melebihi batas, saat hancurnya kota
Madinah, karena Baitul Maqdis tak akan hancur”. [Lihat Aunul Ma’bud
(11/270)]
Masjidil Aqsho tak akan Dimasuki Dajjal
Masjidil Aqsho tak akan Dimasuki Dajjal Allah -Ta’ala- telah
memberikan keutamaan kepada Masjidil Aqsho sebagaimana Makkah, Madinah,
serta Thur; Dajjal tak akan masuk ke tempat-tempat ini sebagaimana yang
dikabarkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-.
Mujahid -rahimahullah- berkata,
كُنَّا سِتَّ سِنِيْنَ عَلَيْنَا جُنَادَةُ بْنُ أَبِيْ أُمَيَّةَ,
فَقَامَ فَخَطَبَنَا فَقَالَ: أَتَيْنَا رَجُلاً مِنْ اْلأِنْصَارِ مِنْ
أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَدَخَلْنَا
عَلَيْهِ فَقُلْنَا: حَدِّثْنَا مَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَلاَ تُحَدِّثْنَا مَا سَمِعْتَ مِنْ النَّاسِ.
فَشَدَدْنَا عَلَيْهِ فَقَالَ: قَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِيْنَا فَقَالَ: أَنْذَرْتُكُمُ الْمَسِيْحَ وَهُوَ
مَمْسُوْحُ الْعَيْنَ –قَالَ: أَحْسَبُهُ قَالَ: اَلْيُسْرَى- يَسِيْرُ
مَعَهُ جِبَالُ الْخُبْزِ وَأَنْهَارُ الْمَاءِ, عَلاَمَتُهُ: يَمْكُثُ فِي
اْلأَرْضِ أَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا. يَبْلُغُ سُلْطَانُهُ كُلَّ مَنْهَلٍ
لاَ يَأْتِيْ أَرْبَعَةَ مَسَاجِدَ : اَلْكَعْبَةَ وَمَسْجِدِ الرَّسُوْلِ و
الْمَسْجِدَ اْلأَقْصَى والطورَ. وَمَهْمَا كَانَ مِنْ ذَلِكَ
فَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ بِأَعْوَرَ –وَقَالَ ابْنُ
عَوْنٍ: وَأَحْسَبُهُ قَدْ قَالَ:-يُسَلَّطُ عَلَى رَجُلٍ فَيَقْتُلُهُ,
ثُمَّ يُحْيِيْهِ وَلاَ يُسَلَّطُ عَلَى غَيْرِهِ
“Selama enam tahun, kami di bawah pimpinan Junadah bin Abi Umayyah.
Dia pernah berdiri memberikan khutbah kepada kami seraya berkata, “Kami
pernah mendatangi seorang Anshor (Ubadah bin Ash-Shomit, pent. ) dari
kalangan sahabat Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Kami pun
masuk menemuinya seraya berkata, “Ceritakanlah kepada kami sesuatu yang
pernah Anda dengar dari Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-,
jangan Anda ceritakan kepada kami sesuatu yang kau dengarkan dari
orang-orang”, lalu kamipun mendesaknya. Maka dia (Ubadah bin
Ash-Shomith) berkata, “Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah
berdiri di depan kami seraya bersabda, “Aku ingatkan kalian (bahaya)
Al-Masih (yakni, Dajjal).
Dia adalah seorang yang buta sebelah (picok) matanya –Rowi berkata,
“Aku yakin ia bersabda,”yang kiri”–. Akan berjalan bersamanya
gunung-gunung roti, dan sungai air. Tandanya, ia akan tinggal di bumi
selama 40 hari. Kekuasaannya akan mencapai semua tempat minum (telaga).
Dia tak akan mendatangi empat masjid: Masjid Ka’bah, Masjid Rasul, Masjidil Aqsho, dan Thur (Thursina’). Apapun yang terjadi, ketahuilah bahwa Allah ( Azza wa Jalla )
tidaklah buta sebelah. –Ibnu Aun (rawi) berkata,”Aku yakin ia
bersabda,– ditundukkan baginya seorang laki-laki; Dajjal pun
membunuhnya, lalu ia hidupkan, dan tidak ditundukkan selainnya”. [HR.
Ahmad (5/364). Di-shohih-kan oleh Al-Arna’uth dalam Takhrij Al-Musnad
(23139)] Inilah beberapa keutamaan Masjidil Aqsho, hak milik kaum
muslimin. Hak milik ini telah dirampas oleh tangan diktator Zionis
Yahudi dari kaum muslimin dengan menginjak-injak, dan menghinakan hak
asasi kaum muslimin di Palestina, bahkan kaum muslimin seluruh dunia.
Namun anehnya, kali ini para pejuang hak asasi manusia, terbungkam dan
diam seribu bahasa. Mana hak asasi manusia bagi kaum muslimin di
Palestina dan seluruh dunia??!! Semoga Allah memberikan jalan kepada
kaum muslimin untuk merebut kembali Masjidil Aqsho dari tangan
orang-orang Yahudi yang zholim lagi terlaknat agar ibadah kita kepada
Allah semakin sempurna dengan meraih segudang pahala dan ampunan di
Masjidil Aqsho.
(Arrahmah.com) JAKARTA - Ketua
Badan Pembinaan dan Pengembangan Tahfidzul Quran DPP Wahdah Islamiyah
(BP2TQ WI) Ustadz Harman Tajang, Lc bersama rombongan 15 ulama dunia
yang tergabung dalam Ikatan Ulama Islam Internasional (Muslim Scholars
Association/MSA) mengunjungi Gaza, Rabu (04/12) dan bertolak dari Gaza
ke Mesir, Jumat (07/12).
Putra kelahiran Kajang Bulukumba Sulsel ini didaulat warga Gaza untuk
menjadi Khatib Jumat di Masjid Umari Jabalia Jalur Gaza Utara, Jum'at
(07/12). Alumni STIBA Ma'had 'Aly al Wahdah ini merupakan orang
indonesia kedua yang dipercaya menjadi Khatib di Masjid ini. Di antara
Jamaah yang hadir dalam shalat jumat tersebut adalah 11 relawan Medical
Emergency Rescue Committee (MER-C) yang sedang melanjutkan pembangunan
Rumah Sakit Indonesia di Gaza.
Dalam khutbahnya, Hafidz yang sudah mendapat sanad hafalan ini mengutarakan akan pentingnya jihad fi sabilillah.
"Kita tak berkumpul karena dunia, melainkan karena Aqidah Islamiyah,
dan kami sampaikan amanat salam dari saudara-saudara Muslim di Indonesia
yang senantiasa mendoakan kalian," kata Ustadz Harman pada khutbah
Jum'at yang dihadiri ribuan jama'ah tersebut.
Lulusan Universitas Internasional Afrika Sudan itu juga merupakan
satu-satunya perwakilan Indonesia yang ikut dalam rombongan Ikatan Ulama
Islam Internasional (MSA).
Ustadz Harman Bertemu dengan PM Palestina
Bantuan Kemanusian dari Warga Makassar untuk rakyat Gaza, sudah
sampai di tangan pemerintah Palestina di Gaza. Sumbangan yang digalang
dari hasil Tabligh Akbar Peduli Palestina beberapa pekan lalu diantar
langsung oleh relawan Komat Palestina, Ustadz Harman Tajang, Lc.
Insya Allah Ustadz Harman Tajang akan kembali ke Makassar Rabu (12/12). Ulama lainnya yang ikut berasal dari berbagai negara.
Di antara ulama terkenal yang hadir adalah Syaikh Al-Amin Al-Haaj
(Ketua Rabithah) dari Sudan, Syaikh Prof. DR. Nashir Al-Umar (Sekjen),
Syaikh DR. Abdul Muhsin Al-Muthairy dari Kuwait, Syaikh DR. Abdul Wahhan
Al-Humaiqany dari Yaman, Syaikh DR. Ihsan Al-'Utaiby dari Jordania,
Syaikh DR. Abdul Azis At-Turky dari Saudi, Syaikh DR. Muhammad Abdul
Karim Al-Qari dari Sudan dan DR. Muhammad Yusri dari Mesir.
Pada kesempatan itu, Perdana Menteri Palestina memberikan sambutan
yang mengesankan dan menyampaikan apresiasi serta kebahagiaaan tak
terhingga, karena kunjungan para ulama yang merupakan delegasi ummat
menambah semangat mereka dalam berjuang mempertahankan bumi palestina
dan membebaskan Masjid al Aqsa.
Di akhir sambutannya, Perdana Menteri melantunkan sebuah bait syair
nasyid dan lantunan ayat suci Al Quran. Warga Gaza juga sangat respon
dan bahagia atas kunjungan ini. (bilal/arrahmah.com)