Tampilkan postingan dengan label yahudi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yahudi. Tampilkan semua postingan

DARI NASHIR AL-‘UMAR KEPADA NASHRULLAH
KISAH SEBUAH KEPAHLAWANAN PALSU
Dr. Nashir ibn Sulaiman al-‘Umar (Penasehat Umum situs almoslim.net)
Diterjemahkan oleh: Muhammad Ihsan Zainuddin
Dari penerjemah:

Belakangan ini, sebagian (besar) kaum muslimin banyak yang bersikap tidak simpatik, bahkan melontarkan tuduhan keji kepada para ulama yang berusaha mengingatkan umat Islam terhadap rencana keji kaum Syiah-Shafawis (Iran) dan Hizbullah di Lebanon. Mereka dituduh sebagai antek Amerika dan Israel, dan semacamnya.  Dalam sebuah situs Islam di Indonesia misalnya muncul pertanyaan seperti ini:

Perang Libanon v.s. Israel, Arab Saudi Kok Diam?
Senin, 31 Jul 06 11:25 WIB
Kirim Pertanyaan | Kirim teman
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Pak Ustadz, langsung saja. Saya sedih kok negara-negara yang termasuk dalam liga Arab terutama Arab Saudi diam seribu bahasa, tidak ada tindakan apapun. Apa ini yang disebut dengan hadist Rasullulah: bahwa ketika orang Islam sudah cinta dunia dan takut mati. Takut berperang dengan Bangsa (Iblis) Israel. Saya tidak tidak mau mencantumkan beberapa hadist tentang "ketakutan" untuk perang dengan bangsa Israel, semua hadist tentang Israel alias Yahudi sangat relevan.... BAHWA ORANG-ORANG ARAB, KUWAIT.. dan lain-lain yang sudah kaya raya takut MEMBELA SAUDARA KITA DI LIBANON, KARENA MEREKA SUDAH DILIPUT PERASAAN CINTA DUNIA.. TAKUT MATI..... MANA FATWA-FATWA ULAMA ARAB SAUDI SEPERTI SYEKH AL-BANNI TENTANG FATWA TENTANG BANGSA ISRAEL.... jangan-jangan Arab Saudi, Kuwait dkk. juga mendukung ISRAEL untuk menggempur LIBANON dan PALESTINA yang sangat tidak setuju dengan perjuangan HAMAS dan HIZBULLAH.
Mohon bahasan khusus Ustadz tentang permasalahan konflik Timur-Tengah. Terima kasih.
Wassalam,
Le' Miun

Tentu saja, “kegelisahan” semacam ini harus dijawab. Bahwa jihad melawan Israel Yes, tapi Hizbullah no! Dan tulisan Prof. DR. Nashir al-‘Umar berikut ini semoga dapat membuka wawasan dan kesadaran baru buat kita semua untuk lebih memahami yang sesungguhnya, dan tidak tersihir oleh apa yang nampak di permukaan. Selamat membaca!


Kita sungguh tidak tahu apa yang paling membuat kita bersedih…dengan semua pemandangan keji yang telah dan akan dilakukan oleh Bangsa Yahudi-Zionis sejak dua pekan belakangan dan hingga kini di Lebanon…dimana stasiun-stasiun televisi menampilkan tayangan-tayangan yang sungguh memilukan hati. Yang paling akhir diantaranya adalah pembantaian Qana, yang dilakukan terhadap anak-anak tak berdosa, kaum wanita dan pria yang tak berdaya. Mereka dalam seketika menjelma menjadi “bahan bakar” untuk sebuah perang yang sungguh-sungguh gila…

Apakah kita menyedihkan itu semua, atau menyedihkan sikap mayoritas bangsa Arab dan kaum muslimin yang kini terus bertepuk tangan –hingga tangan-tangan itu patah-tanpa sadar, meneriakkan yel-yel dukungan hingga kerongkongan mereka nyaris robek; semuanya ditujukan untuk pemimpin dan kelompok perlawanan palsu dan meragukan, yang sengaja menyalakan api perang untuk tujuan yang kita sendiri tidak tahu mana yang benar dan mana yang dusta…tapi satu hal yang pasti kita ketahui adalah bahwa kemerdekaan Palestina tidak termasuk dalam tujuan perang itu…

Bila orang-orang yang bertepuk tangan untuk Hizbullah itu katakanlah tidak mempersoalkan hubungan-hubungan asing dan meragukan yang selama ini dilakoni oleh kelompok ini –dengan semua tujuan-tujuan tersembunyinya-; apakah mereka juga sepakat dengan ide gila yang Hizbullah lakukan demi membebaskan dua tawanan –yang tidak jelas apakah masih hidup atau mati-, yang akibatnya menghancurkan bulat-bulat sebuah negara bernama Lebanon, hingga sepertiga penduduknya  mengungsi dan lebih dari 600 putra-putranya terbunuh??

Lalu dengan seenaknya, Si Panglima Hizbullah itu keluar dari tempat persembunyiannya untuk menenangkan kita, bahwa ia masih selamat, dan kader-kader serta persenjataan mereka juga masih selamat!!!

Maka hampir semua orang kemudian bergembira menyambut pemunculannya. Mereka terus menantinya di depan layar kaca, mendengarkan orasi-orasinya yang menyihir, ikut serta mencium aroma kemenangan yang dibicarakannya; lalu setelah itu, mereka pun merasa sudah cukup menunaikan kewajiban solidaritas mereka terhadap Lebanon, untuk kemudian larut kembali dalam aktifitas mereka sehari-hari.

Biarlah sebuah negri berjalan menuju kehancurannya, biarlah rumah-rumah itu hancur lebur menjatuhkan reruntuhannya kepada penghuninya sendiri, biarlah sebuah negri menjelma persis seperti sosoknya seratus tahun yang lalu…sebab semua itu tidaklah menjadi soal, selama Hizbullah tetap berdiri, dan selama Sang Pemimpinnya masih tetap hidup…sebab dengan begitu, berarti kita telah menang!!!

Manusia-manusia yang terlena itu kemudian terus larut dalam tepuk tangan mereka, sembari menghirup aroma kemenangan yang palsu dan mengangkat  “tokoh-tokoh idola” di atas kepala mereka, tanpa pernah sekalipun bertanya:

Siapa sesungguhnya yang memimpin peperangan ini?
Apa yang akan terjadi sesudahnya?
Apa sebenarnya kemenangan yang dijanji-janjikan itu?
Kapan ia akan terwujud?
Dan siapa yang akan memetik buahnya?

Jika saja kita menengok sejenak ke belakang, kepada sebuah peristiwa yang terjadi sebelum kekejian-kekejian hari ini, kita akan melihat bagaimana rakyat bangsa-bangsa Arab dari kawasan Teluk hingga Laut Merah, semuanya berjalan kompak meneriakkan dukungan kepada Presiden Gamal Abd al-Nasser, mengagungkannya sebagai pahlawan yang dijanjikan…Saat itu, tidak seorang pun berani melontarkan kritik kepadanya, atau meremehkan “kepahlawanan” dan perlawanannya terhadap Yahudi; sebab siapa yang melakukan itu, maka ia pasti seorang “pengkhianat” dan antek Yahudi. Atau paling minimal, ia akan disebut sebagai orang yang tidak mempunyai fikih waqi’ (pemahaman akan realitas), tidak memahami tabiat peperangan, tidak mempunyai rasa solidaritas terhadap umat…persis seperti yang dikatakan banyak orang saat ini!! Yah, Persis seperti itu pula yang dikatakan hari ini kepada setiap orang yang menyerang Hizbullah dan menyingkap konspirasi jahat mereka!!

Lalu apa akibatnya??
Sebuah kekalahan yang sangat menyedihkan bagi pasukan Gamal Abd al-Nasser, dan juga bagi seluruh bangsa Arab, hingga menyebabkan mereka sungguh-sungguh terpuruk!!

Dan, setelah 40 tahun berlalu dari peristiwa itu…apakah semua peristiwa itu mengubah bangsa-bangsa Arab sedikit saja??

Kita sungguh khawatir jika jawabannya adalah: “Tidak! Mereka belum berubah sedikit pun!”

Bahkan mungkin keadaannya telah berubah menjadi lebih buruk dari itu semua!

5-7-1427 H

, , , , , , , , , , ,

mukmin.in - Media yang cukup representatif di Amerika – The New York Times, ternyata selama ini melakukan pembohongan publik terhadap rakyat Amerika, khususnya mengenai kejahatan-kejahatan dan kekejeman yang dilakukan oleh zionist israel.
Menurut sudut pandang media The New York Times, tidak ada yang namanya pengepungan diwilayah Gaza, tidak ada pendudukan di Tepi Barat, dan bahkan tidak pernah terjadi Nakba (pembunuhan besar-besaran terhadap warga Palestina di tahun 1948). Media ini tidak pernah memberitakan dan mencatat peristiwa-peristiwa ini.

Pada tanggal 13 Desember 2012 lalu, The New York Times menerbitkan artikel yang ditulis oleh Steven Erlanger, artikel ini membahas tuntas tentang meningkatnya angka kemiskinan di Gaza, namun didalam artikel ini sama sekali tidak menyebutkan adanya blokade terhadap Gaza oleh israel, padahal blokade inilah yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan di Gaza.

Semua serangan yang dilakukan Israel terhadap Gaza dianggap sebagai balasan terhadap roket Hamas, bahkan Erlanger memutar balikan fakta bahwa semua ketidak-beruntungan dan kemiskinan warga Gaza adalah dikarenakan “pengepungan” yang dilakukan oleh HAMAS terhadap warganya sendiri, dalam artikel ini menyebutkan bahwa HAMAS telah menyebabkan warga Gaza semakin miskin karena tidak sanggup menjalankan roda pemerintahan di Gaza, sehingga angka pengangguran semakin meningkat.

Artikel-artikel maupun berita yang dibuat The New York Times tentang Palestina jauh sekali dari fakta sebenarnya, dan sangat menyesatkan bagi pembaca khususnya warga Amerika, The New York Times melindungi kepentingan-kepentingan israel dengan cara memberikan rakyat Amerika berita-berita yang penuh khayalan bahwa israel berada dipihak yang benar.
Mungkin karena itulah, mengapa warga Amerika buta terhadap persoalan yang terjadi di Timur Tengah, khususnya konflik israel – Palestina. Mereka tidak memahami catatan historis, geografi, dan realita-realita politik yang sebenarnya terjadi.

Jadi, menurut The New York Times, HAMAS lah yang bertanggung jawab terhadap persoalan yang terjadi di Gaza; dan israel sama sekali tidak ada hubungannya terhadap masalah yang dialami warga Gaza.

Undergroundtauhid.com
Electronicintifada.net
Red : Catalyst Fist

, , , , , , , , , , , , , , ,


Nama Israel sudah populer di semua kalangan. Hampir seluruh media massa di dunia menyebut sebuah negara penjajah yang menguasai Palestina saat ini sebagai “negara Israel”. Padahal jika dijelusuri secara historis, istilah Israel dalam hal ini tidak tepat. Ini adalah bagian dari “perang terminologi”. Tanpa sadar, hampir keseluruhan umat Islam dengan mudah mengucapkan kata “Israel” bahkan diikuti dengan kata atau doa yang buruk serta laknat terhadap mereka. Padahal, nama Israel adalah nama Nabi Ya’qub alaihisalam.
Yahudi memanfaatkan nama “Israel” saat mereka membangun kekuatannya di era modern ini. Dengan nama itu, mereka mengklaim terikat dengan dengan Nabi Allah Israil alaihissalam, mengikuti agamanya, pewarisnya, keturunannya. Dan seakan Allah meridlai mereka.

Tatkala Yahudi menduduki Palestina dan mendirikan negara mereka di sana, mereka menamakannya dengan “negara Israel”. Lembaga dan instansi yang ada juga atas nama Israel; Bank Israel, bendera Israel, tanah Israel, suara Israel, tentara pertahanan Israel, kementerian luar negeri Israel dan seterusnya.
Agar diterima oleh masyarakat dunia, Yahudi memberikan imbuhan dan kesan dimensi agama dalam entitas dan eksistensi mereka di tanah Palestina. Ini mereka lakukan agar masyarakat internasional simpati agamis dan kalangan yahudi dunia sudi eksodus ke negara Yahudi, mengerahkan seluruh energi dan potensi yang mereka milik untuk negara penjajah ini.

Selain itu, dengan menamakan diri sebagai “negara Israel” cara seperti ini, Yahudi ingin mempengaruhi kalangan Kristen dunia dan mendapatkan dukungan. Sebab kalangan ini juga mengklaim beriman kepada Injil (Bibel) dan Taurat juga. Taurat adalah Perjanjian Lama dan Bibel adalah Perjanjian Baru. Keduanya diyakini kalangan Kristen sebagai kitab suci.
Yahudi ingin memberikan entitas mereka di Palestina untuk kalangan Kristen sebagai wujud nubuwat dalam perjanjian lama di dalam kita suci. Mereka ingin menunjukkan seakan ini sebagai perwujudan janji Allah kepada Ibrahim dan Israil (Yakqub). Mereka ingin memberikan pemahaman kepada Kristen bahwa dukungan kepada ensitas Yahudi di Palestina adalah konsekwensi keimanan Kristen kepada Injil (Bibel). Karenanya, sebagian negara Kristen di barat terpengaruh kepada klaim Yahudi ini.

Israil adalah Nama Nabi
Israil adalah Nabi Allah yang mulia dan dicintai-Nya. Ia adalah Yakqub bin Ishak bin Ibrahim alaihimussalam. Allah berfirman,
“Mereka itu adalah orang-orang yang Telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang Telah kami beri petunjuk dan Telah kami pilih. apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, Maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (Maryam: 58)
Sementara Bani Israil adalah anak dan keturunan Nabi Yakqub 12 orang, Yusuf dan saudara-saudaranya. Dari 12 orang inilah berkembang biak dan menjadi Bani Israil saat mereka tinggal di Mesir bersama Yusuf. Ketika datang Musa, mereka keluar bersamanya ke Gurun Sinai. Saat mereka kehausan Musa memukulkan tongkatnya ke batu dan mengeluarkan mata air sebagi mukjizat.
Nama Bani Israil digunakan sampai diutusnya Nabi Muhammad. Ayat Al-Quran jelas menginformasikan tentang mereka, sejarah, perbuatan, taklif Allah kepada mereka, kesalahan dan penyimpangan mereka.

Yahudi atau Israel?
Al-Quran menyebut Yahudi kepada Bani Israil setelah diutusnya Nabi Muhammad dan setelah mereka kufur dan mengingkari kenabian beliau. Nama Yahudi adalah bukan bahasa Arab namun digunakan untuk mengistilahkan bangsa kafir yang dimurkai Allah. Nama Yahudi hanya disebutkan dalam ayat-ayat madani (yang turun setelah hijrah ke Madinah) di delapan kali di surat; Al-Baqarah, Al-Maidah, dan di At-Taubah semuanya dengan konteks celaan atas mereka dan bukan pujian.
Beralihnya peristilahan Al-Quran dari Bani Israil kepada Yahudi ini memberikan kesimpulan bahwa umat Islam wajib mengikuti methode Al-Quran dalam membedakan antara Yahudi dan Bani Israel.
Ketika Al-Quran mengganti istilah Bani Israel menjadi Yahudi ini ingin menghilangkan mereka dari warisan hakiki Ibrahim dan Israil. Meski mereka mungkin masih ada keturunan Nabi Israil, namun mereka bukan pewarisnya karena mereka tidak mengikuti agama beliau.

Karena itu untuk menunjuk kepada negara penjajah di Palestina saat ini yang benar adalah menyebutkan “negara penjajah zionis yahudi” dan bukan Israel. Zionis menunjuk kepada organisasi internasional jahat yang merancang berdirinya negara penjajah tersebut di Palestina. Sebab jika menggunakan Israel dikhawatirkan akan memberikan imbuhan laknat, celaan, cercaan kepada seorang Nabi Allah yakni Yakqub. Jika pun terpaksa menggunakannya karena tuntutan konteks jurnalistik maka menyebut itu dengan tanda petik ‘Israel’.(Pic)

Sumber: Islam Pos
Oleh: Tirmidzi Basyir

, , , , , , , , , ,

SIDRAP,AJPNews-- Mengecam Aksi tentara Israel yang menyerang warga tak berdosa di Palestina mendapat dukungan dari berbagai kalangan, bahkan dari para santri dan santriwati Pondok Pesantren (Ponpes) Al Urwatul Wutsqa Kecamatan Baranti.

Sebagai bentuk kecaman terhadap serangan Israel itu, ratusan santri dan santriwati Ponpoes Al Urwatul Wutsqa itu menggelar Shalat Gaib dan doa bersama di Masjid Pesantren. Shalat Gaib dan Doa bersama itu dilaksanakan usai melaksanakan Shalat Isya secara berjamaah dipimpin Pimpinan Ponpes Al Urwatu Wutsqa, Ustaz H Imran Muin Yusuf. Masyarakat sekitar juga turut serta menggelar Shalat Gaib bersama para santri.

Pimpinan Ponpes Al Urwatu Wutsqa, Ustaz H Imran Muin Yusuf usai menggelar Shalat gaib dan Doa bersama berharap Pemerintah Indinesia bisa tegas untuk mendesak PBB untuk turun tangan menghentikan konflik tersebut, bukan hanya sekedar mengutuk saja.

Menurut H Imran Muin, sebagai umat beragama pasti mengecam apa yang dilakukan Israel terhadap Palestina, palagi kata dia itu merupakan tragedi kemanusiaan.

"Kami dari pihak pesantren hanya bisa berharap pemerintah kita lebih tegas memberikan tekanan diplomatik kepada Israel, karena untuk mengatasi masalah seperti ini, umumnya hanya melalui meja perundingan,"ungkapnya.

H Imran mengaku sangat berharap serangan Israel itu bisa segera berakhir, sehingga tidak ada lagi korban tak berdosa yang berjatuhan. ia menghaku sangat miris melihat anak-anak dan wanita tak berdosa yang harus jadi sasaran penembakan. (cha)

Editor Online : Ady Sanjaya

www.ajatapparengnews.com

, , , , ,