mukmin.in - Para ABG seharusnya
mulai berhenti mengidolakan artis seperti Justin Bieber atau sosok
vampire ganteng ala Edward Cullen yang ada di film Twilight.
Karena masih banyak bule-bule Muslim yang ada di luar sana yang
keislamannya mungkin jauh lebih baik dari kita yang tinggal di negara
berpenduduk mayoritas Muslim dan lebih layak dijadikan mantu atau
dijadikan sosok ‘idola’ (tentunya Rasulullah yang tetap harus jadi idola
utama).
Siapakah sosok bule Muslim tersebut? Salah satunya adalah Fatih
Seferagic. Pemuda bule Amerika hafizh 30 Juz Al-Quran, bersuara indah
dan ganteng pula. Pemuda muslim berkebangsaan Bosnia ini lahir di
Stuttgart, Jerman dan sekarang menetap di Texas, Amerika Serikat.
Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan
Underground Tauhid - Bagi mereka yang akrab dengan
dunia musik bawah tanah pasti tak asing dengan gaya rias yang satu ini.
Ya, corpse paint, sebuah gaya tata rias menyeramkan yang meniru pucatnya
mimik mayat. Jika pembaca pernah melihat wajah drakula, pocongan, atau
kuntulanak di film-film horor, maka seperti itulah gaya tata rias yang
paling mendekati dengan tata rias corpse paint.
Corpse paint secara arti bahasa berarti lukisan mayat. Namun secara istilah, hanya tata rias kelompok musik underground black metal sajalah yang bisa dikatakan sebagai corpse paint. Meskipun suatu band metal beraliran selain black metal memakai gaya rias mayat atau hantu, namun jika aliran musiknya bukan black metal, maka riasannya tetap bukan dinamakan sebagai corpse paint.
Black metal sendiri, (entah gaya bermusik dan teatrikalnya adalah asli ataupun gimmick/tiruan) merupakan aliran musik super ekstrim yang sering diidentifikasi sebagai aliran musik penyembah setan. Salah satu identitas mereka jelas adalah corpse paint. Sebenarnya aliran black metal tidak melulu anti-christ atau satanis. Konon black metal merupakan refleksi kebudayaan paganis tradisional skandinavia yang coba dibangkitkan oleh anak-anak muda di akhir dekade 1980-an. Mereka menolak unsur-unsur semitik seperti monotheisme dan agama kristen.
Asal Mula Corpse Paint
Masih simpang siur tentang musisi mana yang pertama kali menggunakan corpse paint sebelum era black metal di akhir 1980-an dimulai. Pada awal-awal berkembangnya musik rock dari zaman hippies dan glam rock di awal 1970-an, sudah ada musisi-musisi yang menggunakan dandanan serupa corpse paint dalam aksi panggung mereka yang glamor dan teatrikal. Mereka adalah Arthur Brown, Alice Cooper dan grup musik KISS.
Pada awal 1980-an, dimana musik metal mulai bangkit dan mengembangkan ciri khasnya sendiri yang semakin agresif, King Diamond (vokalis band Mercyful Fate) bisa dibilang sebagai musisi pertama yang menggunakan dandanan corpse paint dalam aksi panggungnya. Meskipun pada zaman King Diamond, band black metal yang sejati belum ada. Hingga akhirnya dandanan ini benar-benar identik dan populer dengan genre musik black metal yang pada transisi dekade 80-an ke 90-an oleh band Mayhem yang sangat kontroversial.
Corpse Paint, Seram Luar Dalam
Perjalanan make up yang satu ini sebagai ikon fashion black metal sangat diwarnai kontroversi. Lihat saja penampilan King Diamond yang gemar membawa salib terbalik (sebagai simbol penghinaan terhadap monotheisme) dalam show-shownya. Serta lirik-lirik satanis dan paganis yang selalu mengiringi dandanan ini dalam setiap konser musik.
Yang tak kalah seru adalah kasus perseteruan internal dua personil Mayhem yang mengakibatkan Varg Vikernes (aka Count Grisnackh) akhirnya mendekam di penjara karena membunuh rekannya Oysten Aarseth (aka Euronymous). Varg Vikernes hingga kini dikenal dengan atribut Neopaganismenya.
Gimmick Atau Tidak, Sama Jeleknya
Akhirnya dengan status kawanan black metal yang tercitrakan out of the box, seperti halnya punk, emo dan lain-lainnya, membuat anak-anak muda yang labil meniru tindak-tanduk kawanan ini. Mereka berpikir aksi teatrikal ini keren. Mereka tidak paham bahwa penganut-penganut black metal di mata masyarakat memiliki penyimpangan-penyimpangan sedahsyat seperti yang terjadi pada tragedi Mayhem.
Mayhem
Adapula yang beralasan mengambil gaya black metal ini hanya gimmick atau tiruan saja. Di negara-negara yang berpenduduk Islam seperti Indonesia tentunya mudah bagi mereka untuk mengambil sikap anti-christ. Namun mereka tidak sadar bahwa muatan paganis yang ada di dalam corpse paint dan sejenisnya bisa membawa pada atribut-atribut kesyirikan yang jauh lebih parah daripada agama ahli kitab.
Rasulullah telah melarang untuk menyerupai mereka (kaum musyrikin dan kafir) dan memerintahkan kita untuk menjauhi atribut tersebut.
Apalagi atribut black metal ini di mata sosial sangat menyimpang. Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa yang meniru suatu kaum maka dia termasuk dari mereka.” (HR. Abu Daud yang dishahihkan oleh Ibnu Hibban).
Sedangkan jika bukan gimmick alias berbuat kesyirikan, maka sangat jelas hukumnya. Keislaman yang ada menjadi batal. Sikap seorang muslim harus menjauhi bentuk-bentuk kesyirikan. Salah satu konsekuensi Syahadat Laa Ilaaha Illallah adalah an-Nafyu, yaitu menafikan segala bentuk sesembahan yang ada. Laa ilaaha illallaah menuntut kita untuk berlepas diri, menjauhi, dan meninggalkan empat hal : Alihah (sembahan-sembahan), Arbab (tuhan-tuhan pengatur), Andad (tandingan-tandingan), dan Thaghut.
Jadi mau gimmick atau tidak, tetap saja muatan-muatan kekafiran tetap saja dilarang dalam agama. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan didalam “ash Shiroth al Mustaqim” bahwa Imam Ahmad dan yang lainnya telah berargumentasi dengan hadits ini (seperti dikutip dari eramuslim). Hadits ini paling tidak menunjukkan pengharaman tasyabbuh (meniru-niru) mereka sebagaiamana didalam firman-Nya : “Dan barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi wali/pemimpin maka Sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.” (QS. Al Maidah : 51).
Oleh : Kaab As Sidani Redaktur Shoutussalam.com
Red : Catalist Fist
Musik,
Musisi,
Topeng,
undergroundtauhid
Corpse paint secara arti bahasa berarti lukisan mayat. Namun secara istilah, hanya tata rias kelompok musik underground black metal sajalah yang bisa dikatakan sebagai corpse paint. Meskipun suatu band metal beraliran selain black metal memakai gaya rias mayat atau hantu, namun jika aliran musiknya bukan black metal, maka riasannya tetap bukan dinamakan sebagai corpse paint.
Black metal sendiri, (entah gaya bermusik dan teatrikalnya adalah asli ataupun gimmick/tiruan) merupakan aliran musik super ekstrim yang sering diidentifikasi sebagai aliran musik penyembah setan. Salah satu identitas mereka jelas adalah corpse paint. Sebenarnya aliran black metal tidak melulu anti-christ atau satanis. Konon black metal merupakan refleksi kebudayaan paganis tradisional skandinavia yang coba dibangkitkan oleh anak-anak muda di akhir dekade 1980-an. Mereka menolak unsur-unsur semitik seperti monotheisme dan agama kristen.
Asal Mula Corpse Paint
Masih simpang siur tentang musisi mana yang pertama kali menggunakan corpse paint sebelum era black metal di akhir 1980-an dimulai. Pada awal-awal berkembangnya musik rock dari zaman hippies dan glam rock di awal 1970-an, sudah ada musisi-musisi yang menggunakan dandanan serupa corpse paint dalam aksi panggung mereka yang glamor dan teatrikal. Mereka adalah Arthur Brown, Alice Cooper dan grup musik KISS.
personil KISS, Gene Simmons seorang WN Israel
Pada awal 1980-an, dimana musik metal mulai bangkit dan mengembangkan ciri khasnya sendiri yang semakin agresif, King Diamond (vokalis band Mercyful Fate) bisa dibilang sebagai musisi pertama yang menggunakan dandanan corpse paint dalam aksi panggungnya. Meskipun pada zaman King Diamond, band black metal yang sejati belum ada. Hingga akhirnya dandanan ini benar-benar identik dan populer dengan genre musik black metal yang pada transisi dekade 80-an ke 90-an oleh band Mayhem yang sangat kontroversial.
Corpse Paint, Seram Luar Dalam
Perjalanan make up yang satu ini sebagai ikon fashion black metal sangat diwarnai kontroversi. Lihat saja penampilan King Diamond yang gemar membawa salib terbalik (sebagai simbol penghinaan terhadap monotheisme) dalam show-shownya. Serta lirik-lirik satanis dan paganis yang selalu mengiringi dandanan ini dalam setiap konser musik.
King Diamond
Belum juga sebuah cerita mengerikan yang digoreskan oleh Mayhem,
salah satu band black metal yang mempopulerkan corpse paint. Pada 1991
vokalis grup tersebut (Per Yngve Ohlin aka Dead yang memang menderita
kelainan mental) bunuh diri dengan kondisi kematian batok kepalanya
hancur dengan bersimbah darah karena tembakan shotgun. Gilanya, tahun
1995 Mayhem merilis album mereka dengan cover foto yang memperlihatkan
kondisi tersebut.Yang tak kalah seru adalah kasus perseteruan internal dua personil Mayhem yang mengakibatkan Varg Vikernes (aka Count Grisnackh) akhirnya mendekam di penjara karena membunuh rekannya Oysten Aarseth (aka Euronymous). Varg Vikernes hingga kini dikenal dengan atribut Neopaganismenya.
Gimmick Atau Tidak, Sama Jeleknya
Akhirnya dengan status kawanan black metal yang tercitrakan out of the box, seperti halnya punk, emo dan lain-lainnya, membuat anak-anak muda yang labil meniru tindak-tanduk kawanan ini. Mereka berpikir aksi teatrikal ini keren. Mereka tidak paham bahwa penganut-penganut black metal di mata masyarakat memiliki penyimpangan-penyimpangan sedahsyat seperti yang terjadi pada tragedi Mayhem.
Adapula yang beralasan mengambil gaya black metal ini hanya gimmick atau tiruan saja. Di negara-negara yang berpenduduk Islam seperti Indonesia tentunya mudah bagi mereka untuk mengambil sikap anti-christ. Namun mereka tidak sadar bahwa muatan paganis yang ada di dalam corpse paint dan sejenisnya bisa membawa pada atribut-atribut kesyirikan yang jauh lebih parah daripada agama ahli kitab.
Rasulullah telah melarang untuk menyerupai mereka (kaum musyrikin dan kafir) dan memerintahkan kita untuk menjauhi atribut tersebut.
Apalagi atribut black metal ini di mata sosial sangat menyimpang. Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa yang meniru suatu kaum maka dia termasuk dari mereka.” (HR. Abu Daud yang dishahihkan oleh Ibnu Hibban).
Sedangkan jika bukan gimmick alias berbuat kesyirikan, maka sangat jelas hukumnya. Keislaman yang ada menjadi batal. Sikap seorang muslim harus menjauhi bentuk-bentuk kesyirikan. Salah satu konsekuensi Syahadat Laa Ilaaha Illallah adalah an-Nafyu, yaitu menafikan segala bentuk sesembahan yang ada. Laa ilaaha illallaah menuntut kita untuk berlepas diri, menjauhi, dan meninggalkan empat hal : Alihah (sembahan-sembahan), Arbab (tuhan-tuhan pengatur), Andad (tandingan-tandingan), dan Thaghut.
Jadi mau gimmick atau tidak, tetap saja muatan-muatan kekafiran tetap saja dilarang dalam agama. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan didalam “ash Shiroth al Mustaqim” bahwa Imam Ahmad dan yang lainnya telah berargumentasi dengan hadits ini (seperti dikutip dari eramuslim). Hadits ini paling tidak menunjukkan pengharaman tasyabbuh (meniru-niru) mereka sebagaiamana didalam firman-Nya : “Dan barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi wali/pemimpin maka Sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.” (QS. Al Maidah : 51).
Oleh : Kaab As Sidani Redaktur Shoutussalam.com
Red : Catalist Fist
MAJALAH HIDAYATULLAH. Bagi penggemar musik Rock, nama Yuke sudah tak asing lagi. Pria yang
bernama asli Yuke Sumeru ini merupakan bassis (pemain bas) terkenal yang
tergabung dalam grup band “Gong 2000”. Namanya melejit dimulai sejak ia
menyabet gelar pemain bas terbaik di Indonesia pada sebuah festival
musik tahun 1983 dan 1985. Dari situlah ia banyak berkenalan dengan
insan musik, hingga akhirnya dilamar oleh grup band yang diawaki antara
lain oleh rocker Ahmad Albar.
Ketenaran yang melambung dan kekayaan yang berlimpah ternyata membuatnya gelisah. Di saat seperti itu, Yuke memanjatkan doa penuh khusyuk di depan Ka’bah saat menunaikan ibadah haji tahun 2000. “Ya Allah, ambillah segala sesuatu yang tidak Engkau sukai dari diriku,” panjat Yuke.
Menurut Yuke, semenjak memanjatkan doa itu, tak seberapa lama ia merasa mual tiap kali menghisap rokok kesukaannya. Walhasil, ia pun berhenti merokok. “Saya juga merasa tidak nyaman tiap kali bersentuhan dengan alat musik,” akunya kepada Suara Hidayatullah di kediamannya, Bintaro, Jakarta Selatan, awal September lalu.
Yuke semakin meresapi nilai-nilai Islam, terutama setelah bergabung dengan aktivitas Jamaah Tabligh. Suatu hari saat dalam kegiatan jamaah itu, Yuke bertemu dengan masyaikh (guru) yang sehari-hari berbicara dalam bahasa Arab. “Saya jengkel tidak bisa berkomunikasi dengan para syaikh,” akunya. Namun dari kejadian itu, Yuke lalu mendaftar ke salah satu perguruan tinggi swasta untuk belajar tahsin dan mendalami ilmu al-Qur`an.
Penuh Cobaan
Menurut pria yang lahir di Bandung, 18 Oktober 1958 ini, ia pun berusaha untuk menutup diri dari pergaulan dunia musiknya. Salah satu caranya dengan mengganti nomor telepon pribadi. “Agar saya bisa fokus belajar agama,” kata Yuke yang meyakini pengaruh lingkungan sangat penting dalam perubahan seseorang. Alhamdulillah, pada tahun 2004, Yuke berhasil menyandang gelar Sarjana al-Qur’an (SQ), bahkan terus menyelesaikan gelar master di kampus yang sama. Tak cuma itu, aku Yuke, ia pun telah menghafal 30 juz al-Qur`an.
Tentu saja menjalani proses hijrah itu bukan tanpa cobaan, salah satunya masalah finansial. Dari bermusik ia bisa mengantongi jutaan rupiah. Tapi semua itu terhenti setelah ia memilih jalan dakwah. Banyak pihak yang mengkritik atas pilihan hidupnya itu. Tapi Yuke tak putus asa. “Urusan hijrah saya ini adalah urusan saya dengan Allah, bukan dengan manusia,” Yuke berupaya tegar.
Syukurnya, sejak muda ia sudah mulai membuka usaha bengkel modifikasi mobil. Sehingga urusan finansial sedikit bisa teratasi. Ia lebih bersyukur lagi karena istrinya selalu mendukung keputusannya. Dengan penuh kasih sayang, Yuke kerap menjelaskan, “Yakinlah bahwa Allah tidak mungkin meninggalkan orang yang berjuang di jalan-Nya.”
Bahkan, meski tidak bermusik lagi, ia justru merasakan banyak keberkahan. “Alhamdulillah, walau pendapatan lewat musik tidak ada, tapi keberkahan Allah selalu mencukupi setiap kebutuhan keluarga. Lagi pula, saya juga tidak mencukupi kebutuhan primer keluarga dari musik sejak dulu. Saya punya bisnis sendiri,” jelasnya.
Dakwah di Kalangan Dhuafa
Usai menyandang gelar master, Yuke berkomitmen menjadi pegawai Allah. Dalam kartu namanya pun, bukan status usaha otomotif yang ia cantumkan, melainkan tertulis “Pegawai Allah.” Tak lama setelah bertekad dengan hal itu, datang tawaran berceramah di sebuah mushalla kecil yang berada di daerah Tambun, Bekasi, Jawa Barat. Sebagai konsekuensi dari statusnya itu, Yuke berangkat memenuhi undangan.
Meski tak dapat uang, tapi Yuke menikmati aktivitas ini. Ia mengaku sering menolak undangan dari perusahaan besar demi berceramah di mushalla-mushalla kecil. Menurut alumnus SMA 4 Surabaya, Jawa Timur ini, banyak ustadz yang tidak mau datang ke mushalla kecil karena hanya menyediakan uang transportasi yang kecil bahkan ada yang gratis. “Padahal, tempat-tempat seperti itu justru rentan pemurtadan,” katanya.
Dari situ Yuke semakin terpanggil untuk berdakwah di daerah miskin. Bahkan, keuntungan yang ia dapatkan dari usaha bengkel mobilnya sebagian disisihkan untuk dakwah. Ia tidak mencari donatur, tapi Yukelah yang menjadi donaturnya. Yuke berdakwah menyusuri daerah sekitar Bintaro, Serpong, hingga Lebak Bulus.
Ia menetapkan tiga kampung pemulung sebagai garapan dakwahnya. Sebelum berdakwah, Yuke mengumpulkan informasi berkaitan pendapatan yang diterima para pemulung. Setiap hari pendapatan mereka antara Rp 20.000 hingga Rp 50.000. Alhasil tiap kali berdakwah di sana, Yuke membawa sekantong amplop yang isinya uang sesuai pendapatan para pemulung. “Sebelum pengajian itu dimulai, para pemulung itu saya kasih amplop agar mereka fokus mengaji dan tidak risau dengan pendapatan hari itu,” jelasnya.
Akhirnya, keluarganya mulai terbiasa dengan gaya hidup baru Yuke. Kata Yuke, inilah kekayaan penting yang selama ini dicarinya, kekayaan yang terjaga oleh keridhaan Allah.
Kini, Yuke mengasuh 50 orang anak yang ia tempatkan di rumahnya di Kota Bogor, Jawa Barat. Di tempat itu, mereka disekolahkan dan dibina keislamannya. “Semoga kelak mereka tumbuh menjadi Muslim yang kuat akidah dan keilmuannya,” harap Yuke yang selalu mengulang-ulang hafalan al-Qur’annya.
Saat ini, ia juga telah membangun sebuah masjid di lokasi pemulung di Bintaro. Rencananya ia juga ingin membangun masjid di semua titik pemulung yang dijadikan ladang dakwahnya. Ia begitu prihatin dengan kondisi mereka yang tidak memiliki fasilitas ibadah.
Setiap hari, kini Yuke selalu bergelut dengan dakwah. Kepada anak-anak muda, ia selalu menasihati bahwa musik adalah hal yang bisa melalaikan perintah agama. “Makanya banyak orangtua yang menitipkan anak-anak mudanya pada saya untuk dibina,” ujar Yuke. Semua itu ia lakukan dengan senang hati, termasuk saat menerima konsultasi melalui telepon genggamnya.
Yuke mengaku ingin hadir di setiap relung hati umat. Ia ingin dekat dengan setiap kegelisahan banyak orang. Ia belajar menjadi obat yang mencerahkan dan memotivasi. “Dari tiap kedekatan itu, saya berharap bisa mengingatkan banyak orang yang belum hijrah untuk mengerti arti dari keutamaan Islam,” tekad Yuke.* Thufail Al-Ghifari/Suara Hidayatullah OKTOBER 2012
Figur,
Gong 2000,
hidayah,
Hidayatullah,
hijrah,
Musik,
Yuke Sumeru
Ketenaran yang melambung dan kekayaan yang berlimpah ternyata membuatnya gelisah. Di saat seperti itu, Yuke memanjatkan doa penuh khusyuk di depan Ka’bah saat menunaikan ibadah haji tahun 2000. “Ya Allah, ambillah segala sesuatu yang tidak Engkau sukai dari diriku,” panjat Yuke.
Menurut Yuke, semenjak memanjatkan doa itu, tak seberapa lama ia merasa mual tiap kali menghisap rokok kesukaannya. Walhasil, ia pun berhenti merokok. “Saya juga merasa tidak nyaman tiap kali bersentuhan dengan alat musik,” akunya kepada Suara Hidayatullah di kediamannya, Bintaro, Jakarta Selatan, awal September lalu.
Yuke semakin meresapi nilai-nilai Islam, terutama setelah bergabung dengan aktivitas Jamaah Tabligh. Suatu hari saat dalam kegiatan jamaah itu, Yuke bertemu dengan masyaikh (guru) yang sehari-hari berbicara dalam bahasa Arab. “Saya jengkel tidak bisa berkomunikasi dengan para syaikh,” akunya. Namun dari kejadian itu, Yuke lalu mendaftar ke salah satu perguruan tinggi swasta untuk belajar tahsin dan mendalami ilmu al-Qur`an.
Penuh Cobaan
Menurut pria yang lahir di Bandung, 18 Oktober 1958 ini, ia pun berusaha untuk menutup diri dari pergaulan dunia musiknya. Salah satu caranya dengan mengganti nomor telepon pribadi. “Agar saya bisa fokus belajar agama,” kata Yuke yang meyakini pengaruh lingkungan sangat penting dalam perubahan seseorang. Alhamdulillah, pada tahun 2004, Yuke berhasil menyandang gelar Sarjana al-Qur’an (SQ), bahkan terus menyelesaikan gelar master di kampus yang sama. Tak cuma itu, aku Yuke, ia pun telah menghafal 30 juz al-Qur`an.
Tentu saja menjalani proses hijrah itu bukan tanpa cobaan, salah satunya masalah finansial. Dari bermusik ia bisa mengantongi jutaan rupiah. Tapi semua itu terhenti setelah ia memilih jalan dakwah. Banyak pihak yang mengkritik atas pilihan hidupnya itu. Tapi Yuke tak putus asa. “Urusan hijrah saya ini adalah urusan saya dengan Allah, bukan dengan manusia,” Yuke berupaya tegar.
Syukurnya, sejak muda ia sudah mulai membuka usaha bengkel modifikasi mobil. Sehingga urusan finansial sedikit bisa teratasi. Ia lebih bersyukur lagi karena istrinya selalu mendukung keputusannya. Dengan penuh kasih sayang, Yuke kerap menjelaskan, “Yakinlah bahwa Allah tidak mungkin meninggalkan orang yang berjuang di jalan-Nya.”
Bahkan, meski tidak bermusik lagi, ia justru merasakan banyak keberkahan. “Alhamdulillah, walau pendapatan lewat musik tidak ada, tapi keberkahan Allah selalu mencukupi setiap kebutuhan keluarga. Lagi pula, saya juga tidak mencukupi kebutuhan primer keluarga dari musik sejak dulu. Saya punya bisnis sendiri,” jelasnya.
Dakwah di Kalangan Dhuafa
Usai menyandang gelar master, Yuke berkomitmen menjadi pegawai Allah. Dalam kartu namanya pun, bukan status usaha otomotif yang ia cantumkan, melainkan tertulis “Pegawai Allah.” Tak lama setelah bertekad dengan hal itu, datang tawaran berceramah di sebuah mushalla kecil yang berada di daerah Tambun, Bekasi, Jawa Barat. Sebagai konsekuensi dari statusnya itu, Yuke berangkat memenuhi undangan.
Meski tak dapat uang, tapi Yuke menikmati aktivitas ini. Ia mengaku sering menolak undangan dari perusahaan besar demi berceramah di mushalla-mushalla kecil. Menurut alumnus SMA 4 Surabaya, Jawa Timur ini, banyak ustadz yang tidak mau datang ke mushalla kecil karena hanya menyediakan uang transportasi yang kecil bahkan ada yang gratis. “Padahal, tempat-tempat seperti itu justru rentan pemurtadan,” katanya.
Dari situ Yuke semakin terpanggil untuk berdakwah di daerah miskin. Bahkan, keuntungan yang ia dapatkan dari usaha bengkel mobilnya sebagian disisihkan untuk dakwah. Ia tidak mencari donatur, tapi Yukelah yang menjadi donaturnya. Yuke berdakwah menyusuri daerah sekitar Bintaro, Serpong, hingga Lebak Bulus.
Ia menetapkan tiga kampung pemulung sebagai garapan dakwahnya. Sebelum berdakwah, Yuke mengumpulkan informasi berkaitan pendapatan yang diterima para pemulung. Setiap hari pendapatan mereka antara Rp 20.000 hingga Rp 50.000. Alhasil tiap kali berdakwah di sana, Yuke membawa sekantong amplop yang isinya uang sesuai pendapatan para pemulung. “Sebelum pengajian itu dimulai, para pemulung itu saya kasih amplop agar mereka fokus mengaji dan tidak risau dengan pendapatan hari itu,” jelasnya.
Akhirnya, keluarganya mulai terbiasa dengan gaya hidup baru Yuke. Kata Yuke, inilah kekayaan penting yang selama ini dicarinya, kekayaan yang terjaga oleh keridhaan Allah.
Kini, Yuke mengasuh 50 orang anak yang ia tempatkan di rumahnya di Kota Bogor, Jawa Barat. Di tempat itu, mereka disekolahkan dan dibina keislamannya. “Semoga kelak mereka tumbuh menjadi Muslim yang kuat akidah dan keilmuannya,” harap Yuke yang selalu mengulang-ulang hafalan al-Qur’annya.
Saat ini, ia juga telah membangun sebuah masjid di lokasi pemulung di Bintaro. Rencananya ia juga ingin membangun masjid di semua titik pemulung yang dijadikan ladang dakwahnya. Ia begitu prihatin dengan kondisi mereka yang tidak memiliki fasilitas ibadah.
Setiap hari, kini Yuke selalu bergelut dengan dakwah. Kepada anak-anak muda, ia selalu menasihati bahwa musik adalah hal yang bisa melalaikan perintah agama. “Makanya banyak orangtua yang menitipkan anak-anak mudanya pada saya untuk dibina,” ujar Yuke. Semua itu ia lakukan dengan senang hati, termasuk saat menerima konsultasi melalui telepon genggamnya.
Yuke mengaku ingin hadir di setiap relung hati umat. Ia ingin dekat dengan setiap kegelisahan banyak orang. Ia belajar menjadi obat yang mencerahkan dan memotivasi. “Dari tiap kedekatan itu, saya berharap bisa mengingatkan banyak orang yang belum hijrah untuk mengerti arti dari keutamaan Islam,” tekad Yuke.* Thufail Al-Ghifari/Suara Hidayatullah OKTOBER 2012


