Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan

Dalam hari-hari ini, Syaikh  Nashir berkunjung ke Indonesia dalam rangka da’wah dan silatturahmi dengan ummat Islam Indonesia. Jum’at 31/5/2013 beliau bersilaturahmi dengan ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Marzuki Ali, ketua Dewan Masjid Indoesia (DMI) H.M. Jusuf Kalla dan mentri Agama Surya Darma Ali. Dalam silatturahmi dengan Ketua DMI syaikh Nasher mengapresiasi gagasan JK yang berusaha mengemablikan fungsi masjid sebagaimana mestinya. “Kami mengapresiasi usaha bapak dalam mengembalikan fungsi dan peran masjid dalam pembangunan umat. Karena saat ini sebagian masjid hanya berfungsi sebagai tempat ibadah rirual, dan tidak menjalankan fungis pembinaan umat. Sebagian masjid hanya dibuka pada saat adzan dan ditutup setelah salam”, ujar ketua lembaga tadabbur al-Quran Internasional ini. Pengemablian fungsi masjid sebagai basis pembinaan umat harus terus digalakkan. “Sebab, saat ini dunia global telah mengalami banyak perubahan. Perubahan tersebut berpengaruh pada kecenderungan umat terhadap ideologi dan peradaban yang bersumber dari Barat. Tapi, al-hamdulillah masjid tetap kokoh sebagai basis pertanahanan dan pembinaan ummat”, pungkasnya.

Sementara dalam kunjungan ke mentri Agama syaikh Nashir memperkenalkan lembaga Tadabbur al-Qur’an yang beliau pimpin. Beliau menyatakan bahwa tadabbur merupakan bagian dari interaksi dengan al-Qur’an. “Tadabbur ini sangat erat kaitanya dengan tilawah (membaca), tahfidz (menghafal), tajwid (membaca dengan benar) Al-Qur’an. Al-hamdulillah saat ini banyak aktiviatas dan program penghafalan al-Qur’an. Namun yang masih kurang adalah tadabbur. Oleh karena itu fokus dan konsen lembaga ini  adalah tadabbur”, tegasnya. Di akhir kunjungan syaikh menyerahkan cendera mata berupa plakat Indonesia Bertadabbur al-Qur’an dan beberapa buku karyanya yang direspon positif oleh menteri Agama. Bahkan menteri menyampaikan bahwa kementruan agama bersedia untuk menerjemahkan dan menerbitkan buku-buku Syekh Nashir.

Syaikh juga akan mengunjungi Pesantren Tinggi Ar-Rayah Suka Bumi Jawa Barat pada sabtu 1/6/2013. Puncaknya, syaikh akan menjadi pembicara utama pada acara Tabligh Akbar Indonesia Bertadabbur Al-Qur’an pada hari ahad 23 Rajab 1434 H/2 Juni 2013M di Masjid Istiqlal Jakarta. Acara ini akan dibuka secara resmi oleh mentri Agama Surya Darma Ali. Selain syaikh Nashir akan hadir sebagai pembiacara dalam acara tersebut  Ustadz Bachtiar Nasir, Ustad Muhammad Zaitun Rasmin, dan ustad Yusuf Mansur. Acara ini terselenggara atas kerjasama Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Wahdah Islamiyah (WI) dan Ar-Rahman Qur’anic Learning (AQL). 

 Oleh: Syamsuddin el-Munawiy

(samirmusa/arrahmah.com)

, , , , , , , , , , , ,

Pada zaman sekarang, banyak sekali sarana-sarana modern yang menawarkan kemudahan dalam berbagai hal, termasuk di antaranya adalah dalam berdakwah. Mulai dari media tulis seperti majalah, koran, buletin, internet[1]; media suara (audio) seperti radio, kaset, handphone; bahkan media layar (audiovisual) seperti, TV, video, VCD, dan sebagainya sangat efektif dalam penyebaran dakwah dan sangat luas jangkauannya, sehingga—alhamdulillah—akhir-akhir ini semakin marak perkembangan dakwah salafiyyah di bumi pertiwi ini.

, , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarkatuh.
Alhamdulillah, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah Shallallahu’ala ihi wa sallam, kepada keluarga beliau, sahabat beliau dan orang yang mengikuti beliau dengan baik sampai akhir zaman.

Amma ba’du :
Radio Rodja adalah Radio Dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Radio ini di isi oleh Ustadz – Ustadz yang berkompeten di bidang nya, dari lulusan Universitas Islam Madinah, lulusan LIPIA dan lain nya.
Radio ini telah memberikan manfaat yang luas terkhusus kaum muslimin yang sulit menjangkau majelis ilmu, mereka bisa belajar melalui radio ini. Dibalik keberhasilan ini, ada beberapa kelompok yang hasad terhadap Radio ini. Mereka hanyalah para pencela, yang berpakaian seolah-olah seperti Ulama, padahal akhlak mereka jauh dari akhlak Ulama.

, , , , , , , , , , , ,

mukmin.in - Waktu masih kuliah di Riyadh, Arab Saudi, saya dapat cukup banyak kesempatan untuk melaksanakan umrah ke Makkah al-Mukarramah. Selain melaksanakan thawaf, yang paling menyenangkan dan menimbulkan kesan yang mendalam adalah menyaksikan orang lain melaksanakan thawaf, laki-laki dan perempuan, tiada putus-putusnya. Lebih berkesan lagi, apabila kita menyaksikannya dari lantai dua Masjid Haram.
Pada suatu kesempatan setelah shalat Isya, saya dan seorang sahabat duduk-duduk di pelataran Ka’bah, menikmati udara malam sambil menyaksikan kaum Muslim Muslimah thawaf tiada henti-hentinya. Bersama kami, ada sepasang suami istri setengah baya yang datang melaksanakan umrah sejak beberapa hari lalu. Kami sudah saling kenal, karena beliau berdua sudah berulang kali ke Makkah, baik untuk melaksanakan ibadah haji maupun umrah. Allah menganugerahkan kekayaan yang melimpah kepada mereka berdua, tetapi sayang mereka tidak dianugerahi putra seorang pun. Barangkali ke Makkah merupakan salah satu cara mereka menghibur diri apabila dilanda kesepian dan kerinduan terhadap anak.

Tiba-tiba, si ibu menyatakan tekadnya: “Sampai ajal datang, kami berdua akan melaksanakan haji dan umrah sebanyak mungkin.” “Inilah yang dapat kami lakukan untuk menambah bekal ke akhirat kelak,” lanjutnya. Sahabat saya, kebetulan lebih senior, menanggapinya dengan bijaksana. Tidak mencela dan tidak pula menyalahkannya. “Bagus, semoga Bapak dan Ibu mendapatkan haji yang mabrur dan umrah yang makbulah.” Saya lihat suami istri itu tersenyum lega. Tetapi, lanjut sahabat saya, “Jika Bapak Ibu sudah meninggal dunia, tidak akan bisa haji dan umrah lagi. Sehingga, pahalanya terhenti.” Tanpa memperhatikan reaksi suami istri itu, sahabat saya meneruskan lagi. “Jika Bapak Ibu mau, saya bisa tunjukkan amalan yang pahalanya akan terus mengalir tiada henti.” Si ibu cepat menjawab, “Amalan apa, Dik?” “Mendirikan masjid, misalnya.” Sekalipun nanti ibu dan bapak sudah berada di alam barzah, pahalanya akan terus mengalir.”
Beberapa bulan kemudian, kami dapat kabar bahwa suami istri tadi mulai mendirikan sebuah masjid yang cukup besar dan diberinya nama Masjid Ar-Raudhah. Barangkali untuk mengenang tempat shalat yang selalu diperebutkan jamaah di Masjid Nabawi. Semenjak itu, bapak ibu tadi mulai sibuk mengurus masjidnya, mendirikan yayasan pengelola masjid. Perkembangan selanjutnya sungguh menggembirakan, mereka berdua juga mendirikan taman kanak-kanak yang juga dinamai Ar-Raudhah. Bahkan kemudian mendirikan gedung sekolah berlantai dua yang diwakafkan untuk sebuah pesantren.

Masya Allah. Saya dapat pelajaran berharga dari sahabat saya itu. Saya sempat berandai-andai, sekiranya sahabat saya mencela suami istri itu, niscaya keduanya mungkin akan membantah dengan jawaban yang juga keras. “Orang beribadah kok dilarang.” Karena itu, ini tantangan bagi semua umat Islam, terlebih para dai, bahwa sesungguhnya dakwah adalah mengajak, bukan mengejek.

Sumber : Kisah Perjalan Prof Yunahar Ilyas di tanah suci (Koran Republika)

, , , , , , , , , ,

ORLANDO .Media cetak maupun online adalah salah satu sarana yang kini banyak dimanfaatkan oleh kaum Muslimin untuk berdakwah. Di Orlando, Florida, Amerika Serikat, organisasi Muslim lokal telah memulai kampanye media yang menekankan bahwa semua Nabi yang diutus Allah membawa pesan yang sama, yaitu Tauhid.

Ormas Islam Orlando memasang papan iklan yang menyatakan "Same family, Same message" (Keluarga yang sama, Pesan yang sama) dengan menyebut nama Nabi Ibrahim ('alaihissalam), Musa ('alaihissalam), Isa ('alaihissalam), dan Muhammad (shalallahu 'alaihi wa sallam), yang telah terpasang di seluruh daerah Orlando dan Pantai Daytona. Iklan ini disponsori oleh American Muslim Community Centers, Islamic Center Orlando dan United Muslim Foundation di Lake Mary.

Ide ini bertujuan untuk menyebarkan pesan bahwa pada dasarnya semua Nabi, terkhusus Nabi dan Rasul tersebut, diutus untuk menyampaikan pesan yang sama, yaitu memerintahkan manusia agar hanya menyembah Allah yang satu dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun.
Iklan ini juga memiliki beberapa slogan yang berbeda, menurut situs yang mensponsori program ini whyislam.org yang berbasis di New York. Kampanye yang bertema "Why Islam" ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan meluruskan kesalahpahaman terhadap Islam di mata orang-orang Amerika.
Kampanye iklan dakwah ini juga merupakan balasan bagi orang-orang anti-Islam yang menyebarkan iklan berisi pesan-pesan anti-Islam.

 (siraaj/arrahmah.com)

, , , , , , , , , , , , , , ,


Ketua DPD WI Sidrap khatib perdana di Masjid Markaz Dakwah DPC WI Baranti

Sidrap, Juma’at 7 Desember 2012 bertepatan dengan tanggal 23 Muharram 1434 Hijriyah Mesjid Dzulhijrah yang merupakan pusat kegiatan Dakwah DPC Wahdah Islamiyah Baranti untuk pertama kalinya digunakan Sholat  Jum’at. Meskipun pembangunan belum rampung secara total, namun Masjid yang mulai dibangun pada September tahun lalu ini sudah dianggap layak untuk ditempati shalat berjamaah. Acara shalat Jumat perdana ini juga dirangkaikan dengan makan siang bersama di rumah Bapak H Zulkifli  yang bersebelahan dengan Masjid Dzulhijrah. H. Zulkifli yang akrab disapa H. Pilli merupakan salah satu tokoh penting dalam pembangunan masjid Dzulhijrah yang juga merupakan penasehat DPD wahdah Islamiyah Sidrap.

Pelaksanaan shalat Jum’at perdana ini dihadiri oleh sekitar ratusan jamaah, baik dari pengurus DPC WI Panca Rijang, DPC WI Kulo, DPC WI MaritengngaE, DPC WI Watang Pulu, serta masyarakat sekitar Masjid. Turut juga hadir, Sekretaris DPD Wahdah Islamiyah, Syahrul Mubarak, SKm, Ketua DPC Maritengngae, Muhammad Arsyad, dan Ketua DPC WI Baranti sebagai Pertokol Sholat Jum’at. Adapun khatib yakni Ustadz H. Muhammad Said Saad, Lc yang merupakan Ketua DPD Wahdah Islamiyah Sidrap. Dan bertindak selaku Imam yakni Ustadz Bustamin Amin, S.Pdi wakil Ketua DPD Wahdah Islamiyah Sidrap.

Sebagaimana khutbah Jumat pada umumnya, Khatib senantiasa mengawali dengan ketakwaan kepada seluruh jamaah jumat. Ketakwaan yang merupakan bekal penting dan utama dalam meniti kehidupan dunia yang dipenuhi ranjau dan duri ini. Terlebih lagi di zaman ini, yang mana tiada hari tanpa fitnah dan godaan, maka sangat amat dibutuhkan bekal ketakwaan untuk bisa lolos dan selamat dunai dan akhirat.
Tidak lupa khatib memberikan apresiasi kepada segenap warga yang telah hadir dan menjadi orang-orang pertama yang shalat Jumat di Masjid Dzulhijrah. Semoga dengannya, kita menjadi contoh dan akan diikuti oleh orang lain. Karena memulai suatu perkara kebaikan akan mendapatkan pahala orang-orang yang mengikutinya. Sebagaimana Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Barangsiapa yang merintis(memulai) dalam agama Islam sunnah(perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya(mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. (HR. Muslim No. 1016)

Sang Khatib juga menyampaikan tentang berbagai keutamaan masjid. Masjid merupakan satu-satunya tempat yang diakui oleh Allah azza wa jalla sebagai rumahNya. Masjid juga merupakan bangunan pertama yang dibangun oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena keutamaannya, maka elemen yang terkait dengannya juga turut memiliki kemuliaan. Orang yang menjadi Imam masjid mendapatkan pahala yang sangat besar. Disebutkan dalam riwayat bahwasannya Imam mendapatkan semua pahala orang yang makmum di belakangnya. Begitu pula Orang yang mengumandangkan Adzan atau Muadzin masjid juga memiliki keutamaan yang besar. Sampai-sampai Khalifah Umar bin Khattab pernah berkata, “Seandainya saya bukan seorang khalifah, maka saya mau jadi seorang Muadzin”. Orang-orang yang shalat berjamaah di masjid dijanjikan pahala 27 derajat dibanding orang yang shalat sendiri-sendiri. Bahkan pemuda yang hatinya cenderung kepada masjid akan mendapatkan naungan Allah Subehanahu wa ta’ala di Padang Masyar kelak.
Marilah kita senantiasa mengajak dan mengingatkan orang untuk memakmurkan masjid. Karena dengan memakmurkan masjid Allah kita dapat tergolong ke dalam hambanya yang beriman. Sebagaimana firmanNya:
  
Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, emnunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan Termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. At Taubah Ayat ke 18)

Masjid Dzulhijrah merupakan salah satu diantara sekian banyak masjid di Kab. Sidrap. Khususnya di Kecamatan Baranti ini, dimana-dimana kita bisa temukan masjid. Masjid diharapkan agar tidak sekedar menjadi sarana ibadah bagi kaum muslimin. Namun juga sarana atau tempat pembinaan umat. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan pembinaan kepada para sahabatnya di masjid. DI tempat itulah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan banyak hal mulai dari aqidah yang benar, ibadah yang benar, perkara muamalah, perekonomian, hingga strategi perang. Inilah yang jarang kita temukan di masjid- masjid masyarakat kita sekarang. Pada umumnya, masjid hanya dimanfaatkan sebagai tempat untuk shalat 5 waktu saja.

Kita harapkan dengan bertambahnya masjid di Baranti ini, dapat menambah semangat bagi umat muslim untuk beribadah dan menjadikan tempat mulia ini sebagai basis pembinaan umat. (www.wahdah.or.id) Azr/


, , , , , , , ,

Muslimahzone.com - Ada kisah menarik tentang semangat dakwah, yang disampaikan oleh DR. Muhammad Ratib an-Nabulsy saat Khuthbah Jumat tertanggal 2 Juli 2010. Sebuah kisah inspiratif  terjadi di Amsterdam yang sangat menarik untuk disimak. Berikut ini Penulis paparkan dengan terjemah bebas dan sedikit diringkas.

“Menjadi kebiasaan di hari Jumat, seorang Imam masjid dan anaknya yang berumur 11 tahun membagi brosur di jalan-jalan dan keramaian, sebuah brosur dakwah yang berjudul “Thariiqun ilal jannah” (jalan menuju jannah).

Tapi kali ini, suasana sangat dingin ditambah rintik air hujan yang membuat orang benar-benar malas untuk keluar rumah. Si anak telah siap memakai pakaian tebal dan jas hujan untuk mencegah dinginnya udara, lalu ia berkata kepada sang ayah,

“Saya sudah siap, Ayah!”

“Siap untuk apa, Nak?”

“Ayah, bukankah ini waktunya kita menyebarkan brosur ‘jalan menuju jannah’?”
“Udara di luar sangat dingin, apalagi gerimis.”

“Tapi Ayah, meski udara sangat dingin, tetap saja ada orang yang berjalan menuju neraka!” “Saya tidak tahan dengan suasana dingin di luar.”

“Ayah, jika diijinkan, saya ingin menyebarkan brosur ini sendirian.”
Sang ayah diam sejenak lalu berkata, “Baiklah, pergilah dengan membawa beberapa brosur yang ada.”
Anak itupun keluar ke jalanan kota untuk membagi brosur kepada orang yang dijumpainya, juga dari pintu ke pintu. Dua jam berjalan, dan brosur hanya tersisa sedikit saja. Jalanan sepi dan ia tak menjumpai lagi orang yang lalu lalang di jalanan. Ia pun mendatangi sebuah rumah untuk membagikan brosur itu. Ia pencet tombol bel rumah, namun tak ada jawaban. Ia pencet lagi, dan tak ada yang keluar. Hampir saja ia pergi, namun seakan ada suatu rasa yang menghalanginya. Untuk kesekian kali ia kembali memencet bel, dan ia ketuk pintu dengan lebih keras. Ia tunggu beberapa lama, hingga pintu terbuka pelan. Ada wanita tua keluar dengan raut wajah yang menyiratkan kesedihan yang dalam Wanita itu berkata, “Apa yang bisa dibantu wahai anakku?”

Dengan wajah ceria, senyum yang bersahabat si anak berkata, “Nek, mohon maaf jika saya mengganggu Anda, saya hanya ingin mengatakan, bahwa Allah mencintai Anda dan akan menjaga Anda, dan saya membawa brosur dakwah untuk Anda yang menjelaskan bagaimana Anda mengenal Allah, apa yang seharusnya dilakukan manusia dan bagaimana cara memperoleh ridha-Nya.”
Anak itu menyerahkan brosurnya, dan sebelum ia pergi wanita itu sempat berkata, “Terimakasih, Nak.”

Sepekan Kemudian

Usai shalat Jumat, seperti biasa Imam masjid berdiri dan menyampaikan sedikit taushiyah, lalu berkata, “Adakah di antara hadirin yang ingin bertanya, atau ingin mengutarakan sesuatu?”

Di barisan belakang, terdengar seorang wanita tua berkata,

“Tak ada di antara hadirin ini yang mengenaliku, dan baru kali ini saya datang ke tempat ini. Sebelum Jumat yang lalu saya belum menjadi seorang muslimah, dan tidak berfikir untuk menjadi seperti ini sebelumnya. Sekitar sebulan lalu suamiku meninggal, padahal ia satu-satunya orang yang kumiliki di dunia ini. Hari Jumat yang lalu, saat udara sangat dingin dan diiringi gerimis, saya kalap, karena tak tersisa lagi harapanku untuk hidup. Maka saya mengambil tali dan kursi, lalu saya membawanya ke kamar atas di rumahku. Saya ikat satu ujung tali di kayu atap. Saya berdiri di kursi, lalu saya kalungkan ujung tali yang satunya ke leher, saya memutuskan untuk bunuh diri.

Tapi, tiba-tiba terdengar olehku suara bel rumah di lantai bawah. Saya menunggu sesaat dan tidak menjawab, “paling sebentar lagi pergi”, batinku.

Tapi ternyata bel berdering lagi, dan kuperhatikan ketukan pintu semakin keras terdengar. Lalu saya lepas tali yang melingkar di leher, dan saya turun untuk sekedar melihat siapa yang mengetuk pintu.
Saat kubuka pintu, kulihat seorang bocah berwajah ceria, dengan senyuman laksana malaikat dan aku belum pernah melihat anak seperti itu. Ia mengucapkan kata-kata yang sangat menyentuh sanubariku, “Saya hanya ingin mengatakan, bahwa Allah mencintai Anda dan akan menjaga Anda.” Kemudian anak itu menyodorkan brosur kepadaku yang berjudul, “Jalan Menuju Jannah.”

Akupun segera menutup pintu, aku mulai membaca isi brosur. Setelah membacanya, aku naik ke lantai atas, melepaskan ikatan tali di atap dan menyingkirkan kursi. Saya telah mantap untuk tidak memerlukan itu lagi selamanya.

Anda tahu, sekarang ini saya benar-benar merasa sangat bahagia, karena bisa mengenal Allah yang Esa, tiada ilah yang haq selain Dia.

Dan karena alamat markaz dakwah tertera di brosur itu, maka saya datang ke sini sendirian utk mengucapkan pujian kepada Allah, kemudian berterimakasih kepada kalian, khususnya ‘malaikat’ kecil yang telah mendatangiku pada saat yang sangat tepat. Mudah-mudahan itu menjadi sebab selamat saya dari kesengsaraan menuju kebahagiaan jannah yang abadi.

Mengalirlah air mati para jamaah yang hadir di masjid, gemuruh takbir. Allahu Akbar. Menggema di ruangan. Sementara sang Imam turun dari mimbarnya, menuju shaf paling depan, tempat dimana puteranya yang tak lain adalah ‘malaikat’ kecil itu duduk. Sang ayah mendekap dan mencium anaknya diiringi tangisan haru. Allahu Akbar!”

Lihatlah bagaimana antusias anak kecil itu tatkala berdakwah, hingga dia mengatakan “Tapi Ayah, meski udara sangat dingin, tetap saja ada orang yang berjalan menuju neraka!” Ia tidak bisa membiarkan manusia berjalan menuju neraka. Ia ingin kiranya bisa mencegah mereka, lalu membimbingnya menuju jalan ke jannah.

Lihat pula bagaimana ia berdakwah, menunjukkan wajah ceria dan memberikan kabar gembira, “Saya hanya ingin mengatakan, bahwa Allah mencintai Anda dan akan menjaga Anda.” Siapa yang tidak trenyuh hati mendengarkan kata-katanya?

Berdakwah dengan apa apa yang ia mampu, juga patut dijadikan teladan. Bisa jadi,tanpa kita sadari, cara dakwah sederhana yang kita lakukan ternyata berdampak luar biasa. Menjadi sebab datangnya hidayah bagi seseorang. Padahal, satu orang yang mendapat hidayah dengan sebab dakwah kita, lebih baik baik bagi kita daripada mendapat hadiah onta merah. Wallahu a’lam bishawab.

Sumber: arrisalah.net

(zafaran/muslimahzone.com)

, , , , ,



Imam Besar Masjidil Haram Syeikh Dr. Abdurrahman bin Abdul Aziz as-Sudais an-Najdi, dalam kunjungannya ke Kantor Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jakarta, Senin (28/12), menyampaikan pesan kepada kaum muslimin agar tidak meninggalkan risalah dakwah.
Syeikh Abdurrahman As-Sudais menekankan bahwa risalah dakwah adalah sesuatu yang sangat penting yang harus diemban oleh kaum Muslimin. Beliau mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an, “Katakanlah, Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.” [QS Al An'aam; 6:162].
Seorang Muslim, lanjut Syeikh Sudais, harus meyakini bahwa hanya Al-Quran as-Sunnah sebagai pedoman dalam menjalankan kehidupan.

“Mari kita menjadikan Al-Quran dan as-Sunnah sebagai sumber amal dan inspirasi kita,” kata pria yang suaranya amat dikenal di Indonesia ini, sebagaimana dialihbahasakan dengan baik sekali oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP WI) Ust. H. Muh. Zaitun Rasmin, Lc.
Selain itu, ia juga berpesan kepada kaum Muslimin untuk senantiasa menuntut ilmu. Ilmu yang bermanfaat merupakan senjata yang paling penting yang harus dimiliki kaum muslimin.

“Apalagi di zaman ini yang begitu banyak fitnah dan perselisihan, karena itu kita membutuhkan furqan. Itulah dia ilmu syar’i,” ujar dia dalam bahasa Arab.
Dia juga menegaskan, ilmu harus diikuti dengan amal. Sebab ilmu tidak cukup tanpa amal.
Selain itu dia juga menyampaikan bahwa dakwah adalah risalah umat Islam yang utama. Maka dengan ilmulah kaum muslimin dapat melakukan dakwah.   Maka, tegas dia, seyogyanyalah kaum muslimin untuk selalu menuntut ilmu dan menyampaikan dakwah.

Sebagaimana diketahui, Syeikh Sudais memiliki suara bacaan Al-Quran yang khas, sehingga hampir semua kaum Muslimin dari seluruh penjuru dunia  –khususnya yang pernah menunaikan haji atau umrah– sangat akrab dengan suaranya.  Di Indonesia suaranya dalam bacaan Al-Quran banyak beredar melalui kaset, mp3, dan cd/dvd.

(hdytlh/arrahmah.com)

, , , , , ,