(Pelaku Teror pertama dalam
Islam)
Oleh:
Mamduh Farhan al-Buhairi
Pada setiap tahun, Syi’ah merayakan terbunuhnya Khalifah Umar bin
al-Khaththab Radhiallahu ‘Anhu, dan mereka menganggapnya sebagai hari
raya, yang kegembiraan dan kebahagiaan merasuk dalam hati mereka. Hari
raya tersebut mereka sebut dengan Idul Ghufran, dan itu bertepatan
dengan tanggal 9 Rabi’il Awwal. Mereka mengeklaimnya bahwa Allah
Subhanahu wa Ta’ala mengangkat dari mereka perhitungan amal pada hari
itu.
Kita tidak mengenal satu bangsa yang bergembira dengan syahidnya
khalifah kedua yang mulia Umar bin al-Khaththab Radhiallahu ‘Anhu
kecuali Bangsa Persia (al-Majusi) dan bangsa Yahudi. Khalifah Umar bin
al-Khaththab Radhiallahu ‘Anhu dibunuh oleh seorang Zindiq, Abu Lu`lu`ah
si Majusi, mudah-mudahan laknat Allah tertimpa atasnya. Dulunya dia
bernama Fairuz, dan dipanggil dengan Abu Lu`lu`ah, sebagai penisbatan
kepada putrinya. Dia adalah orang kafir berdasarkan kesepakatan ahlul
Islam. Dia adalah seorang Majusi penyembah api. Dia telah membunuh Umar
karena kebenciannya terhadap Islam dan para pemeluknya, juga karena
kecintaannya kepada orang-orang Majusi, dan sebagai bentuk dendam untuk
Bangsa Persia, negeri mereka, yang telah ditaklukkan oleh Umar
Radhiallahu ‘Anhu, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Taimiyah
Rahimahullah dalam Minhajus Sunnah (6/370)).
Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dalam Tarikh Damaskus (44/441) dari jalur
Thariq ‘Ubaidillah bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar, dia berkata,
‘Tatkala Umar ditikam… dia memanggil Abdullah bin ‘Abbas… maka Ibnu
‘Abbas berkata, ‘Wahai Amirul mukminin, tidaklah aku mendatangi
sekumpulan kaum muslimin, kecuali mereka semua menangis, seakan-akan
mereka kehilangan anak-anak mereka pada hari ini.’ Umar berkata,
‘Siapakah yang membunuhku?’ Dia menjawab, ‘Abu Lu`lu`ah, si Majusi,
budak al-Mughirah bin Syu’bah.’ Dia berkata, ‘Maka kamipun melihat
kegembiraan di wajahnya, seraya berkata,
الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ لَمْ يَقْتُلْنِيْ رَجُلٌ يُحَاجِنِيْ بِلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
‘Alhamdulillah, saya tidak dibunuh oleh seorang laki-laki yang
berhujjah melawanku dengan kalimat laa ilaaha illallaah pada hari
kiamat.”
Sementara orang yang berselancar di situs-situs Syi’ah, dia (dan setiap
muslim) akan terkejut dengan apa yang akan dia baca. Penjahat Pelaku
teror ini ternyata dikenalkan oleh kaum syi’ah sebagai berikut:
Siapakah dia Abu Lu`lu`ah?
Abu Lu`lu`ah adalah orang yang mendapatkan kemuliaan dengan membunuh
makhluk Allah yang paling keji dari makhluk pertama hingga terakhir.
Pemuliaan Iran terhadapnya:
Disebutkan bahwa Iran, mulai melakukan pekerjaan restorasi atas tempat
ziarah yang mereka sebut dengan Marqad Baba Syuja’uddin (Tempat
Peristirahatan Baba Syuja’uddin) pada tahun 2003 M, dan menganggap
tempat ziarah tersebut adalah tempat ziarah bersejarah yang wajib
dilestarikan. Dan menamakan jalan Marqad tersebut yang ada di sana
dengan namanya; Jalan al-Fairuziy. Mereka membaca keutamaan-keutamaan
orang zindiq tersebut. Mereka menyebutnya dengan Hadharat Baba
Syuja’uddin. Mereka juga berkata kepada manusia, ‘Ziarahilah dia, dengan
menziarahinya, seluruh dosa kalian akan diampuni.’
Sebagian situs Syi’ah menyebutkan bahwa siapa yang menziarahi kuburannya
yang mulia, pastilah dia akan melihat bahwa sebagian ulama kami yang
ahli berijtihad dikuburkan di sisinya. Mereka telah mewasiatkan yang
demikian sebelum kematian mereka agar mereka mendapatkan syafaat orang
zindiq tadi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Di antara do’a-do’a mereka:
الَّلهُمَّ ارْضَ عَنْ أَبِيْ لُؤْلُؤَةَ وَاحْشُرْنِيْ مَعَهُ
“Ya Allah, ridhailah Abu Lu`lu`ah, dan kumpulkanlah aku bersamanya.”
Demikianlah, setiap orang yang berziarah ke kuburan orang jahat kafir
ini –mudah-mudahan laknat Allah menimpanya karena pengkhianatan dan
pembunuhannya terhadap Khalifah Umar Radhiallahu ‘Anhu di pagi hari saat
mengimamai manusia shalat subuh– berdo’a.

(Termasuk keharusan bagi para peziarah untuk berdo’a melaknat Abu Bakar Umar, dan Utsman)
Bahkan para pengelola makam tersebut berbuat lebih dari itu. Mereka
memasang papan bertuliskan pengkafiran dan laknat kepada Abu Bakar,
Umar, Utsman sebagaimana Anda lihat di gambar.

Termasuk perkara yang harus dilakukan oleh setiap peziarah adalah
melaknat orang-orang terbaik tersebut dan berlepas diri dari mereka.
Maka selamat kepada para pelopor dan penyeru persatuan dan kerukunan
Sunnah-
syiah! Inilah makam yang
menggambarkan penghinaan besar terhadap agama Allah, juga terhadap
orang-orang yang telah memberikan harta, anak-anak dan darah mereka
dengan murah demi menolong agama Allah, hingga sampailah Islam dengan
keutamaan Umar bin al-Khaththab dan sahabat lain ke negeri Persia, dan
kemudian menjadikan mereka kaum muslimin setelah sebelumnya mereka
adalah para penyembah api. Kemudian sebagian mereka membalas keutamaan
ini dengan pengkafiran dan pelaknatan, serta bara` (berlepas diri)
mereka. Maka segala puji bagi Allah yang menyelamatkan kita dari bala`
yang menimpa mereka.
Terakhir, kami persembahkan kepada para pembaca Qiblati yang mulia, sebuah berita mengagetkan sebagai berikut:
Bahwasannya Abu Lu`lu`ah ketika membunuh Umar bin al-Khaththab
Radhiallahu ‘Anhu, manusia mengepungnya untuk menangkap. Ketika dia
merasa bahwa mereka akan menguasainya, dia pun menusuk dirinya sendiri
dan mati bunuh diri, mudah-mudahan laknat Allah dan seluruh manusia
menimpannya hingga hari kiamat. Sementara kuburan yang ada pada mereka
di kota Kasyan, hanyalah kuburan ilusi saja, itu hanya sekedar symbol.
Akan tetapi hati mereka telah tergantung dengan kuburannya, sebagaimana
mereka tergantung dengan kuburan-kuburan, dan makam-makam khayalan
lainnya, seperti kuburan ‘Ali Radhiallahu ‘Anhu, dan kuburan al-Husain
Radhiallahu ‘Anhu, dan makam-makam palsu lainnya.
Setelah penjelasan ini, kita katakan bahwa
tetap adanya kuburan tersebut adalah bukti nyata bahwa itu adalah bentuk
pemuliaan yang agung dari Syi’ah terhadap pembunuh Amirul Mukminin,
Khalifah Umar Radhiallahu ‘Anhu. Karena ini merupakan sebuah bentuk
provokasi terhadap perasaan kita, kaum muslimin, maka sesungguhnya kami
menuntut kepada Republik Iran untuk menghancurkan kuburan tersebut.
Terutama kepada Penasihat Tinggi Iran yang telah memfatwakan haramnya
menjelek-jelekkan simbol ahlussunnah. Sebagaimana kami menuntut kepada
orang-orang yang bertanggung jawab, dan para pengajak kepada pendekatan
syi’ah – sunnah di setiap negeri Islam untuk mengadopsi kasus ini, serta
menindaklanjuti dan berusaha untuk mengatasinya.
Terakhir, Kami berdo’a agar setiap orang yang menziarahi kubur tersebut
mendapatkan hidayah. Jika tidak, maka nantinya tempat mereka dan tempat
tinggal akhir mereka adalah di sisi tempat tidur Abu Lu`lu`ah di
Jahannam. Padahal kami berikan peringatan bahwa tidak ada seorang pun
yang mampu tidur di dalam Jahannam.
Kami hadiahkan pembahasan ini kepada penduduk Indonesia yang baik-baik,
juga kepada para ulama kami yang mulia, serta kepada para penanggung
jawab yang ikhlas, agar mereka lebih banyak tahu akan hakikat kaum
tersebut. Ya Allah, sesungguhnya kami telah menyampaikan, ya Allah,
saksikanlah…! Ya Allah, sesungguhnya kami telah menyampaikannya, ya
Allah, saksikanlan…! Ya Allah, sesungguhnya kami telah menyampaikannya,
ya Allah, saksikanlan…! (AR)*
Foto:

(Do’a-do’a, ungkapan keridhaan terhadap Abu Lu`lu`ah di pintu masuk makam)

(Halaman yang luas di depan makam)

(Kubah makam dari belakang).

(Pintu Masuk kubur Abu Lu’luah, Si Majusi)

(tertulis, pada pintu masuk bagian atas, bahwa tempat ini diberkahi, dan diambil keberkahan darinya)

(Tampak kemegahan makam tersebut, yang menunjukkan kepada kita bagaimana keagungan pemilik makam tersebut di hati mereka)

(Arsitektur bergaya tinggi, biaya material yang tinggi dari makam ini)