Ketika menuai sukses pada awal 90-an band rock Jamrud hadir dengan
formasi 4 personel. Mereka sempat berenam ketika Krisyanto hengkang.
Kini Kris kembali, Jamrud pun berempat lagi.
Pada 2008 silam Kris
(vokal) dan Herman (drum) hengkang dari band Jamrud. Setahun berselang
Jamrud yang menyisakan Aziz MS (gitar) dan Ricky Teddy (bass) maju
dengan 3 personel baru yaitu Donal (vokal), Iwan (vokal), Irwan (gitar)
dan Danny (drum). Lalu Iwan Vox pun masuk sebagai vokalis pendamping
Donal. Mereka sempat merilis dua album tapi tidak menuai sukses yang
sama seperti dulu.
Oktober 2011, ketika kontrak Kris sebagai
solois telah habis, isu Kris dan Jamrud rujuk pun berhembus. Kini Kris
benar-benar resmi kembali bersama cinta lamanya. Mereka pun me-recycle
album bersama Donal dengan judul 'Energi + dari Bumi dan Langit'.
"Kembalinya
Krisyanto sebagai vokalis Jamrud ternyata membawa sebuah keberuntungan
bagi Jamrud, artinya Jamrud dan Krisyanto tidak bisa dipisahkan, kalau
mereka dipisahkan bisa sama-sama lemah," ujar bos label Logiss Records
Log Zhelebour dalam rilis album di Score, Citos, Jakarta Selatan, Jumat
(16/3/2012) tengah malam.
Namun, ada pula laporan
bahwa Krisyanto kini sedang “hijrah” seperti dilakukan rocker era
1980-an, Hari Moekti. Dalam konferensi khilafah internasional 12 Agustus
2007 yang diselenggarakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Krisyanto
tampak hadir dalam acara tersebut bersama Hari.
Beberapa waktu
lalu beberapa infotainment juga mengendus kabar yang sama. Meski tak
menyebut HTI, namun disebutkan Krisyanto “lengket” dengan pengajian Hari
Moekti. Mengikuti jejak seniornya itu, Kris juga mulai tampil di
panggung acara keislaman yang digelar mahasiswa Unpad dan Muslimuda
Dari dulu sebenarnya saya udah belajar Islam cuma belum spesifik dan
sekadar tahu shalat saja. Nggak tau apa sebenarnya shalat, wudhu
itugimana. Rukun- rukun dan baca surat asal bunyi saja. Alhamdulillah
sekarang tidak asal bunyi lagi. Insya Allah sekarang udah bisa
melafalkandengan baik.''
Dia mengaku awal untuk
mendalami ajaran Islam sekira 2006 lalu, pada saat perjalanan tur
Jamrud di Bali dengan menggunakan pesawat udara. Keinginan belajar
banyak tentang keislaman, diawali dengan kesadaran akan persitiwa
kematian yang bisa kapan menjemput dan menghampiri manusia.
"Saya
tertarik pada Islam itu karena mengingat-ingat usia dan kematian. Kita
hidup ini alamatnya ke mana, pasti meninggal. Dan sering mengingat
kematian itu ketika melakukan perjalanan tur dengan pesawat terbang,"
ujar Krisyanto.
"Kondisi seperti itu saya langsung ingat kematian, dan dari situ pula keimanan muncul dalam hati," katanya.
Pengalaman
perjalanan udara yang mengisnpirasi Kris untuk belajar Islam itu kerap
dialami Kris. Terakhir kali terjadi pada tahun 2006 lalu. Pengalama itu
pulalah yang membuat Kris semakin yakin atas kepastian tibanya kematian
dan kembali pada nilai-nilai spiritual.
Menurut dia, kendati
kematian merupakan peristiwa alamiah, namun tetap mengandung misteri
yang hakikatnya belum terpecahkan oleh akal dan pengetahuan manusia.
Akibatnya, sambung Krisyanto, tidak sedikit manusia yang berpandangan
salah terhadap realitas ini, kemudian memunculkan sikap yang salah pula.
Sementara kematian merupakan sebuah kepastian yang akan datang.
"Jangan sampai kita meninggal dalam keadaan maksiat atau su'ul khotimah, na'udzu min dzalik," imbuhnya.
Pengakuan itulah yang meluncur dari
bibir Krisyanto (42), mantan vokalis Jamrud, saat ditanya tentang
ketertarikannya mendalami Islam. Ia menyadari bahwa manusia tidak akan
selamanya hidup sehat. Pada titik tertentu semua manusia akan menemui
ajalnya. Hal inilah yang menggerakkan hatinya untuk
belajar Islam.
Dari
rasa takut itu, sedikit demi sedikit ia mulai menjalani kehidupan yang
diyakininya membawanya lebih baik. Dosa-dosa lampau yang kerap
mengganggunya membuat pria yang akrab disapa Yanto ini lebih termotivasi
untuk perbaiki diri. ''Bawa amal apa kita bila mati, amal baik saja
belum
tentu diterima,'' tutur pria empat anak ini.
Rasa takut
juga yang mendorongnya untuk mendalami Islam lebih serius lewat
pengajian dan talkshow. Yanto sering
terdengar mengisi acara talkshow tentang keislaman di berbagai wilayah
di Indonesia. Ia bersama rekan eks groupnya Jamrud, Riki Tedi, terus disibukkan dengan kegiatan tersebut.
Ia
menolak mengatakan kegiatan itu sebagai dakwah. ''Hanya berbagi cerita
dan pengalaman spiritual dengan masyarakat dan mahasiswa, kita ditemani
orang yang paham,'' ungkap dia. Ia dan Riki Tedi memang tak sendiri
menyambangi masyarakat. Mereka didampingi Ustad Ali Muslim, yang
mengatur
semua jadwal talkshow dan membantu mereka menerangkan isu-isu keislaman.
Namun kegiatan keagamaannya itu terganggu karena kesibukannya mempersiapkan album solo bertema
sosial yang diluncurkan Juni 2008 lalu. Yanto mengaku . ''Beberapa kali tidak ikut
talkshow, tapi mereka (Ustad Ali dan Riki Tedi) jalan terus. Mereka maklum, tapi bila punya waktu luang saya akan menyempatkan diri,'' ujar dia.
Meski
Sudah beberapa waktu tidak mengikuti kegiatan keagamaan, membaca
Alquran sebisa mungkin tidak ia tinggalkan. Setelah shalat, dia selalu
menyempatkan diri untuk melafalkan ayat-ayat suci Alquran. Ia mengaku
tidak ingin cepat-cepat khatam Alquran. Dia khawatir bila terlalu cepat
mengkhatam
Aquran bakal membuatnya cepat puas dan berhenti membaca Alquran. Ia
memahami, bahwa setiap Muslim harus terus memelihara kebiasaan membaca
dan mendalami Alquran hingga akhir hayatnya.
Semangatnya belajar
dan memahami Alquran ini pun ia tularkan pada keempat anaknya.
''Anak-anak anak harus ditularkan semangat belajar agama dan Alquran.
Mereka tanggung jawab saya,'' tutur Yanto. Ia pun sedikit demi sedikit
berusaha untuk berdakwah di rumah sendiri. Kepada putrinya, dari
kecil sudah ia ajarkan untuk mengenal jilbab. Istrinya pun sudah berusaha untuk memahami urgensi menutup aurat dengan berjilbab.
Keluarga
pun turut memberikan dorongan padanya untuk mendalami agama. Menurut
dia, keluarganya sangat bersyukur karena dirinya mau belajar agama.
Mereka, kata Yanto, juga merasa tenteram karena berhasil meninggalkan
dunia gemerlap di klab-klab malam.
Ia membenarkan pandangan orang
tentang kehidupan artis dijalaninya selama ini identik dengan hura-hura
dan glamor. Tetapi dengan jalan hidup yang dipilihnya saat ini, Yanto
menjadi lebih sering tinggal di rumah dan menjaga keluarganya.
Sejauh ini ia juga sangat
mensyukuri kehidupannya. Segala rezeki yang diterimanya, dia sambut
dengan rasa syukur. Yanto pun sangat memahami bahwa yang namanya rezeki
itu tidak selalu berupa materi, tetapi juga bisa berupa kesehatan, anak
saleh, dan anugerah-anugerah lain yang ia terima
dalam hidupnya.
Sekarang
Yanto mengaku terpaksa tetap berada di dunia musik karena tidak banyak
pekerjaan lain yang bisa dipilihnya untuk menghidupi anak dan istri.
Sukses, buat dia adalah gabungan antara usaha dan ketentuan Allah SWT.
Sebagai manusia, dia hanya berusaha semaksimal mungkin untuk bisa
meraih kesuksesan. Selanjutnya, dia pasrah pada Allah SWT.
Meski
telah banyak berubah, Yanto menganggap dirinya belum betul-betul
istiqamah dalam menjalani agama dan masih ada sedikit sifat mencintai
dunia. Kini, dia sibuk menyiapkan album religi untuk bisa diluncurkan
Ramadhan tahun ini.
Setelah sempat
hengkang dari Jamrud, kesibukan ayah empat putra ini adalah mendalami
agama Islam. Karena menurut dia, dalam segala gerak langkah kita pada
dasarnya tidak lepas dari kekuasaan Tuhan.
Tampilkan postingan dengan label Figur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Figur. Tampilkan semua postingan
Sesudah Ivan Slank seorang bintang lainnya, Fadly Padi, vokalis grup
Padi menyatakan niatnya untuk mengajak seluruh masyarakat menggunakan
Dinar dan Dirham.
“Saya cukup memahami masalah ekonomi segala dan masalah yang kini dialami oleh masyarakat banyak. Dan sejak saya mengenal Dinar dan Dirham saya menemukan jawabannya,” demikian, antara lain, yang disampaikan oleh vokalis grup band populer Fadly Padi, dalam acara halal bihalal Jawara Jakarta, beberapa waktu lalu.
Karena itu, Fadly menyampaikan keinginannya untuk turut terlibat dalam memasyarakatkan Dinar dan Dirham. Secara pribadi ia telah cukup lama mengenal dan menggunakan Dinar dan Dirham, termasuk untuk membayar biaya sekolah anak-anaknya, di Sekolah Alam, Ciganjur, Jakarta Selatan.
Kehadirannya dalam acara halal bi halal adalah awal ia bergabung dalam komunitas Jawara (Jaringan Wirausahawan dan Pengguna Dinar dan Dirham Nusantara) secara lebih intensif.
Ia juga menyampaikan keinginannya untuk lebih banyak berbicara di kalangan anak-anak muda. Sebagai musisi populer yang digemari kaum muda, Fadly bisa mengambil peran yang sangat signifikan dalam berdakwah. Apalagi, belakangan Fadly juga terlibat dalam kegiatan dan acara yang bertujuan dakwah, termasuk berkolaborasi dengan penyanyi internasional Maher Zein.
Halal bi halal itu sendiri berlangsung meriah dan hangat, dihadiri hampir 50 orang Jawara dan keluarganya. Pak Zaim Saidi yang hadir dan memberikan sambutannya mengingatkan bahwa tugas kaum Muslimin saat ini adalah mengembalikan misi dasar Islam yaitu perubahan atau tran formasi dan sebagai pembawa keadilan.
“Bapak dan Ibu sekalian adalah orang-orang yang telah dipilih oleh Allah SWT untuk mengemban misi ini. Ketika kebanyakan orang lain belum melihat, belum mengerti, bahkan menertawakan, upaya mengembalikan muamalat dengan Dinar dan Dirham, ganjaran bagi orang yang menjalankannya akan sangat besar,” ujarnya.
(Pizaro/Islampos/Wakala)
ISLAMPOS
Dinar,
Dirham,
Fadly PADI,
Figur,
ISLAMPOS,
Kampanye
“Saya cukup memahami masalah ekonomi segala dan masalah yang kini dialami oleh masyarakat banyak. Dan sejak saya mengenal Dinar dan Dirham saya menemukan jawabannya,” demikian, antara lain, yang disampaikan oleh vokalis grup band populer Fadly Padi, dalam acara halal bihalal Jawara Jakarta, beberapa waktu lalu.
Karena itu, Fadly menyampaikan keinginannya untuk turut terlibat dalam memasyarakatkan Dinar dan Dirham. Secara pribadi ia telah cukup lama mengenal dan menggunakan Dinar dan Dirham, termasuk untuk membayar biaya sekolah anak-anaknya, di Sekolah Alam, Ciganjur, Jakarta Selatan.
Kehadirannya dalam acara halal bi halal adalah awal ia bergabung dalam komunitas Jawara (Jaringan Wirausahawan dan Pengguna Dinar dan Dirham Nusantara) secara lebih intensif.
Ia juga menyampaikan keinginannya untuk lebih banyak berbicara di kalangan anak-anak muda. Sebagai musisi populer yang digemari kaum muda, Fadly bisa mengambil peran yang sangat signifikan dalam berdakwah. Apalagi, belakangan Fadly juga terlibat dalam kegiatan dan acara yang bertujuan dakwah, termasuk berkolaborasi dengan penyanyi internasional Maher Zein.
Halal bi halal itu sendiri berlangsung meriah dan hangat, dihadiri hampir 50 orang Jawara dan keluarganya. Pak Zaim Saidi yang hadir dan memberikan sambutannya mengingatkan bahwa tugas kaum Muslimin saat ini adalah mengembalikan misi dasar Islam yaitu perubahan atau tran formasi dan sebagai pembawa keadilan.
“Bapak dan Ibu sekalian adalah orang-orang yang telah dipilih oleh Allah SWT untuk mengemban misi ini. Ketika kebanyakan orang lain belum melihat, belum mengerti, bahkan menertawakan, upaya mengembalikan muamalat dengan Dinar dan Dirham, ganjaran bagi orang yang menjalankannya akan sangat besar,” ujarnya.
(Pizaro/Islampos/Wakala)
ISLAMPOS
REPUBLIKA. Dulu, Bilal Philips
pernah dijuluki “Dewa Gitar” di negerinya, Kanada. Kini, ia justru
menyerukan agar kaum Muslim sesedikit mungkin mendengarkan petikan
gitar, karena “terlalu banyak musik akan menutup hati dari seruan
Allah.”
Dewa Gitar,
Figur,
Muallaf
Philips menyatakan, larangan itu bukan
hanya untuk gitar, tapi semua aliran musik. “Hati yang diisi dengan
musik tidak akan memiliki ruang untuk kata-kata Tuhan,” tulisnya dalam
bukunya, Contemporary Issues. Buku ini membahas persoalan-persoalan
aktual umat islam, mulai dari perkawinan anak di bawah umur, pemukulan
istri, poligami, dan membunuh kaum murtad, hingga homoseksualitas.
Philips berpendapat, Islam tidak melarang
semua musik. Namun, musik yang dianjurkan adalah yang dinyanyikan kaum
pria dan anak perempuan belum dewasa. Lagu-lagunya pun berisi konten
yang dapat diterima umum. “Instrumen senar sebaiknya dihindari,” ia melanjutkan.
Philips adalah imigran asal Jamaika.
Masuk ke Kanada di usia 11 tahun, ia mengambil pendidikan gitar. Ia
bermain di klub malam selama belajar di Universitas Simon Fraser di
British Columbia. Namanya makin terdongkrak setelah itu.
Di puncak kepopulerannya, jiwanya
gelisah. Ia memutuskan mengasingkan diri dari hiruk-pikuk musik
negerinya dan menyusul sang ayah yang juga tenaga ahli di Canadian
Colombo Plan berpindah ke Malaysia, menjadi penasihat menteri
pendidikan. Di negeri jiran itu, ia dikenal sebagai “Jimi Hendrix dari
Sabah”.
Tapi setelah memeluk Islam pada tahun
1972, ia meletakkan gitarnya untuk selamanya. Dalam biografi di situs
web ia mengatakan, “ketika saya menjadi seorang Muslim, saya merasa
tidak nyaman melakukan hal ini dan menyerah baik secara profesional
maupun pribadi.”Bagi banyak orang, musik menjadi sumber hiburan dan
harapan dari Allah. Musik membawa mereka untuk sementara, seperti obat.
“Quran, kata-kata Allah yang penuh dengan bimbingan, juga bisa memainkan
peran itu.”
Dalam bukunya, ia juga mengatakan wanita
dewasa dilarang untuk bernyanyi. “Pria lebih mudah terangsang daripada
perempuan sebagai telah sepenuhnya didokumentasikan oleh studi klinis
Masters dan Johnson. “
Tetapi Institut Islam Toronto mengatakan
pada situs webnya yang banyak sarjana tidak setuju dengan penafsiran
itu, dan mempertimbangkan musik diperbolehkan asalkan tidak mengandung
“sensual, menduakan Tuhan, atau tema tidak etis dan pesan subliminal.
“Jadi untuk mengatakan bahwa semua musik
dilarang dalam Islam tampaknya tidak tepat. Islam menempatkan kehidupan
dunia dan akhirat secara seimbang,” tulis situs ini.
Sohail Raza, juru bicara Kongres Muslim
Kanada, mengatakan klaim bahwa Islam tidak mengijinkan musik adalah
“benar-benar tak berdasar” dan benar-benar merupakan upaya untuk
mencegah imigran Muslim dari integrasi ke dalam masyarakat Kanada.
“Ini adalah orang-orang yang memiliki
keengganan untuk sukacita,” kata Raza. “Kami memiliki situasi yang
sangat menyedihkan dimana orang-orang seperti Philips yang membawa
hal-hal dalam Islam yang benar-benar tidak benar, dan menumbuhsuburkan
Islamophobia.”
Philips, yang memiliki gelar dari
Universitas Islam Madinah dan Universitas Riyadh, dan mendirikan
Universitas Islam Online, tinggal di Qatar tapi tetap menjadi pembicara
konferensi yang populer di Kanada. Dia memberikan kuliah tentang “musik
dan kencan” di sebuah masjid Toronto April lalu.
Dalam video online-nya, mantan musisi
panggilan musik kecanduan jahat. “Intinya adalah bahwa jika musik itu
bermanfaat, maka musisi akan menunjukkan manfaat yang dalam hidup
mereka,” katanya dalam sebuah video YouTube.
“Apa yang Anda lihat justru adalah bahwa
beberapa elemen yang paling korup masyarakat yang ditemukan di antara
para musisi. Obat-obatan, penyimpangan dan homoseksualitas, hal ini
jenis dan semua korupsi yang ada di sana, orang bunuh diri, “katanya.
“Kenyataannya adalah bahwa hal itu sebenarnya tidak membawa sisi, jahat
gelap yang memproduksi jenis korupsi antara mereka sendiri dan, pada
akhirnya, berakhir sampai merusak elemen masyarakat.” (rol)
JAWA POS NATIONAL NETWORK. Rumah toko (ruko) empat lantai itu terletak di kawasan Kreo, Ciledug,
Jakarta. Begitu masuk ke dalam ruko tersebut, di lantai 1 terdapat
berbagai benda promosi produk yang terbuat dari tripleks. Juga ada
panggung knock down yang ditata rapi.
Di lantai 2, pemandangan terlihat berbeda jika dibandingkan dengan di lantai 1. Di lantai 2, suasananya adalah ruang kerja. Ada buku-buku yang ditata rapi di lemari khusus. Ternyata, itu adalah ruang kerja utama Muhammad Hariadi Nasution atau lebih terkenal dengan panggilan Ombat Nasution, ketua Lembaga Bantuan Hukum Muslim Indonesia (LBHMI).
Nama Ombat kerap disinggung pers karena dia adalah kuasa hukum terpidana kasus terorisme Muhammad Jibril. Sehari-hari Ombat adalah pria dengan multiprofesi yang bertolak belakang. Selain menjadi pengacara kasus terorisme, Ombat pendiri band aliran grindcore pertama di Indonesia yang bernama Tengkorak.
Pria kelahiran Jakarta, 11 April 1973, itu juga anggota aktif Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) sekaligus direktur utama PT Sebelas April Lian Mipro yang bergerak di bidang event organizer, promotor, dan merchandise. Ragam profesi itu dijalankan dari ruang kendali seluas sekitar 7 meter x 4 meter di lantai 2 ruko tersebut.
"Alhamdulilah, beragam profesi yang saya miliki ini saya cintai semua. Jadi, nggak ada yang terbengkalai," ujar pria berkepala plontos itu, lantas tersenyum.
Di meja kerjanya, setumpuk dokumen bersanding dengan belasan CD band Tengkorak yang terbentuk sejak 1993. Buku-buku bertema terorisme dan Islam berjajar rapi dengan buku-buku hukum dan file kasus-kasus besar yang pernah dia tangani. Termasuk, kasus terdakwa terorisme yang menjerat pemimpin media Arrahmah Network, Muhammad Jibril.
Klien Ombat itu akhirnya divonis lima tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Dia divonis bersalah karena menyembunyikan informasi pelaku terorisme dan memalsukan paspor dirinya.
Ombat dan kliennya telah menyatakan ketidakpuasan dengan vonis tersebut dan mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Jakarta. Kini, pihaknya menunggu vonis dari banding tersebut. Jibril sebelumnya dituntut jaksa penuntut umum (JPU) hukuman tujuh tahun penjara. Diharapkan dengan banding itu, Jibril bisa mendapatkan pengurangan hukuman dan bahkan bebas murni. "Saya pribadi berharap Jibril bebas murni," kata dia.
Lulusan magister hukum (S-2) Universitas Islam As-Syafi’iyah Jakarta itu kemudian membuka laptop di meja kerja. Setelah berbicara soal hukum, Ombat mengubah topik dan menunjukkan puluhan lagu gubahan band Tengkorak yang telah beredar dalam empat album hit single dan belasan abum kompilasi. Album single tersebut, antara lain, Konsentrasi Massa (1999), Darurat Sipil (2002), Civil Emergency (2005), dan Agenda Suram (2007).
Band Tengkorak kini memiliki lima personel, yakni Ombat (lead vocal), Haryo ”Yoyok” Radianto (gitar), Budi (bas), Ronie Yuska (drum), dan Samir (gitar). Band itu adalah band pertama yang mengusung aliran grindcore ke Indonesia sejak berdiri pada 1993.
Bahkan, Tengkorak pernah mencatatkan diri dalam album kompilasi berjudul It’s a Proud to Vomit Him (1995) bersama musisi-musisi band underground dunia. Album tersebut dirilis ulang di tujuh negara dan distribusinya sampai di 28 negara di seluruh dunia. "Aliran musik ini kan bukan musik mainstream. Pasarnya, komunitas dan peredarannya memang langka, terutama di Indonesia," kata dia.
Yang membuat Tengkorak berbeda dengan band-band heavy metal lain terletak pada prinsip dan idealisme Islam dan anti-Zionis yang diusungnya. Meski tampil urakan, soal prinsip, bagi Ombat dkk, adalah nomor satu. Ketika azan berkumandang, mereka menghentikan aktivitasnya dan salat terlebih dahulu. Bagi mereka, Islam tetap nomor satu jika dibandingkan dengan apa pun.
Berbeda dengan lirik lagu metal lain yang bertema anti Tuhan, memuja setan dan kebebasan. Lirik-lirik lagu Tengkorak bersumber dari sirah nabawi, Alquran, dan hadis. Menurut Ombat, itu adalah perjuangan anak band underground untuk berjihad dengan musik.
Anggota ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) itu mengatakan, metamorfosis Tengkorak terjadi setelah bertahun-tahun berkarya di musik underground yang identik dengan perilaku kasar, arogan, dan liar. Dulu Tengkorak sama seperti band underground lain yang menggunakan simbol metal tiga jari, yakni tanda jempol, telunjuk, dan jari kelingking.
Ternyata, simbol itu merujuk pada simbol setan dengan dua tanduknya dan anti-Tuhan. Kini, Tengkorak menggagas tren baru, yakni mengganti salam metal dengan salam satu jari. Gerakan dengan menunjukkan jari telunjuk ke arah langit itu telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan diikuti jutaan pencinta musik metal di Asia Tenggara dan Timur Tengah. "Itu berarti tauhid, yakni percaya kepada satu Tuhan: Allah," ujar dia.
Awal metamorfosis itu terjadi sekitar sepuluh tahun silam. Ketika itu, Ombat dan rekan-rekannya mendapatkan hidayah dan tersadar bahwa karya musik mereka adalah konspirasi Barat untuk merusak generasi muda. Sejak saat itu, band yang memiliki ratusan ribu fans fanatik di Asia Tenggara tersebut memutuskan membawakan aliran musik tauhid.
Walaupun tetap melahirkan musik dengan tempo cepat dan keras, lirik-lirik yang diusung kini bertema jihad dan anti-Israel. "Kami memiliki pesan dalam musik kami, yakni anti pemurtadan oleh Israel dan Amerika Serikat," tegasnya.
Ombat meyakini, untuk menghancurkan negeri-negeri muslim, khususnya di Indonesia, negeri Zionis dan AS tidak perlu menggunakan serangan fisik. Tapi, mereka menjejali pemuda dengan obat-obatan terlarang, minuman keras, film porno, media gosip, termasuk aliran musik underground yang mendewakan simbol setan dan anti-Tuhan. Tak sedikit para fanatik musik underground yang benar-benar menyembah logo-logo setan, dajal, dan simbol okultisme atau aliran ilmu sihir yang berasal dari Yahudi.
Ombat sadar, musik bisa dijadikan alat dan doktrin untuk pembodohan. Itulah sebabnya, Tengkorak memutuskan melawan pemurtadan dengan senjata musik. Komunitas underground muslim tidak hanya menjadikan musik sebagai sarana, tetapi juga ingin membangun perspektif baru: bermusik, tetapi punya moralitas dan tetap religius. "Bahkan, beberapa kali kami manggung dan menggalang dana untuk Palestina," ujar dia.
Jawa Pos pun menyaksikan rekaman video Tengkorak ketika tampil di salah satu acara musik di Jakarta. Ketika para personel naik ke atas panggung, teriakan ”Assalamualaikum” bersahut-sahutan dari ratusan penonton. Ombat yang memegang mike langsung dengan lantang meneriakkan kalimat takbir yang dijawab dengan lantang oleh lautan penonton yang terdiri atas para pemuda gondrong, kumal, dan berpenampilan layaknya preman. Kesan angker yang melekat pada para penikmat musik heavy metal seketika luntur.
Menurut Ombat, itu bukti bahwa Islam adalah agama universal dan diterima semua kalangan. Bahkan, kata dia, mantan pemuja setan pun bisa bertobat dan memeluk Islam jika media dakwah yang disampaikan sesuai dengan kehendak hati mereka.
Wakil ketua Kongres Advokat Indonesia (KAI) Provinsi Banten itu lantas menunjukkan salah satu lirik lagu Tengkorak dalam bahasa Inggris yang berjudul Jihad. To whom it may concern, which testify to Syahadat. Israel had declared a war by throwing words. Let’s fight in the name of Allah, jihad fi sabilillah. (Bagi siapa pun yang merasa telah bersaksi dan menyebut Syahadat. Israel telah menyatakan perang dengan menggunakan kata-kata (ideologi, Red), mari berperang dengan atas nama Allah. Mari berjihad di jalan Allah).
Ombat mengatakan, lirik lagu Jihad pernah menjadi perhatian media-media asing. Bahkan, sekitar lima kali Ombat diwawancarai media dari AS dan Jepang untuk sekadar memastikan, apakah band Tengkorak itu berafilisasi dengan terorisme atau tidak. Dalam berbagai sesi wawancara tersebut, Ombat dengan tegas menyatakan bukan teroris, tetapi dirinya anti-Zionis dan anti pemurtadan oleh Yahudi.
Tengkorak, kata dia, tidak pernah takut melawan konspirasi pemurtadan akidah Islam. "Tapi, kami hanya mampu berjihad dengan musik. Karena itu, sampai kapan pun ini akan kami maksimalkan," tegasnya. (c6/kum)
Blog,
Figur,
JPPN,
Salam Metal,
Salam Satu Jari,
Tauhid,
undergroundtauhid
Di lantai 2, pemandangan terlihat berbeda jika dibandingkan dengan di lantai 1. Di lantai 2, suasananya adalah ruang kerja. Ada buku-buku yang ditata rapi di lemari khusus. Ternyata, itu adalah ruang kerja utama Muhammad Hariadi Nasution atau lebih terkenal dengan panggilan Ombat Nasution, ketua Lembaga Bantuan Hukum Muslim Indonesia (LBHMI).
Nama Ombat kerap disinggung pers karena dia adalah kuasa hukum terpidana kasus terorisme Muhammad Jibril. Sehari-hari Ombat adalah pria dengan multiprofesi yang bertolak belakang. Selain menjadi pengacara kasus terorisme, Ombat pendiri band aliran grindcore pertama di Indonesia yang bernama Tengkorak.
Pria kelahiran Jakarta, 11 April 1973, itu juga anggota aktif Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) sekaligus direktur utama PT Sebelas April Lian Mipro yang bergerak di bidang event organizer, promotor, dan merchandise. Ragam profesi itu dijalankan dari ruang kendali seluas sekitar 7 meter x 4 meter di lantai 2 ruko tersebut.
"Alhamdulilah, beragam profesi yang saya miliki ini saya cintai semua. Jadi, nggak ada yang terbengkalai," ujar pria berkepala plontos itu, lantas tersenyum.
Di meja kerjanya, setumpuk dokumen bersanding dengan belasan CD band Tengkorak yang terbentuk sejak 1993. Buku-buku bertema terorisme dan Islam berjajar rapi dengan buku-buku hukum dan file kasus-kasus besar yang pernah dia tangani. Termasuk, kasus terdakwa terorisme yang menjerat pemimpin media Arrahmah Network, Muhammad Jibril.
Klien Ombat itu akhirnya divonis lima tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Dia divonis bersalah karena menyembunyikan informasi pelaku terorisme dan memalsukan paspor dirinya.
Ombat dan kliennya telah menyatakan ketidakpuasan dengan vonis tersebut dan mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Jakarta. Kini, pihaknya menunggu vonis dari banding tersebut. Jibril sebelumnya dituntut jaksa penuntut umum (JPU) hukuman tujuh tahun penjara. Diharapkan dengan banding itu, Jibril bisa mendapatkan pengurangan hukuman dan bahkan bebas murni. "Saya pribadi berharap Jibril bebas murni," kata dia.
Lulusan magister hukum (S-2) Universitas Islam As-Syafi’iyah Jakarta itu kemudian membuka laptop di meja kerja. Setelah berbicara soal hukum, Ombat mengubah topik dan menunjukkan puluhan lagu gubahan band Tengkorak yang telah beredar dalam empat album hit single dan belasan abum kompilasi. Album single tersebut, antara lain, Konsentrasi Massa (1999), Darurat Sipil (2002), Civil Emergency (2005), dan Agenda Suram (2007).
Band Tengkorak kini memiliki lima personel, yakni Ombat (lead vocal), Haryo ”Yoyok” Radianto (gitar), Budi (bas), Ronie Yuska (drum), dan Samir (gitar). Band itu adalah band pertama yang mengusung aliran grindcore ke Indonesia sejak berdiri pada 1993.
Bahkan, Tengkorak pernah mencatatkan diri dalam album kompilasi berjudul It’s a Proud to Vomit Him (1995) bersama musisi-musisi band underground dunia. Album tersebut dirilis ulang di tujuh negara dan distribusinya sampai di 28 negara di seluruh dunia. "Aliran musik ini kan bukan musik mainstream. Pasarnya, komunitas dan peredarannya memang langka, terutama di Indonesia," kata dia.
Yang membuat Tengkorak berbeda dengan band-band heavy metal lain terletak pada prinsip dan idealisme Islam dan anti-Zionis yang diusungnya. Meski tampil urakan, soal prinsip, bagi Ombat dkk, adalah nomor satu. Ketika azan berkumandang, mereka menghentikan aktivitasnya dan salat terlebih dahulu. Bagi mereka, Islam tetap nomor satu jika dibandingkan dengan apa pun.
Berbeda dengan lirik lagu metal lain yang bertema anti Tuhan, memuja setan dan kebebasan. Lirik-lirik lagu Tengkorak bersumber dari sirah nabawi, Alquran, dan hadis. Menurut Ombat, itu adalah perjuangan anak band underground untuk berjihad dengan musik.
Anggota ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) itu mengatakan, metamorfosis Tengkorak terjadi setelah bertahun-tahun berkarya di musik underground yang identik dengan perilaku kasar, arogan, dan liar. Dulu Tengkorak sama seperti band underground lain yang menggunakan simbol metal tiga jari, yakni tanda jempol, telunjuk, dan jari kelingking.
Ternyata, simbol itu merujuk pada simbol setan dengan dua tanduknya dan anti-Tuhan. Kini, Tengkorak menggagas tren baru, yakni mengganti salam metal dengan salam satu jari. Gerakan dengan menunjukkan jari telunjuk ke arah langit itu telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan diikuti jutaan pencinta musik metal di Asia Tenggara dan Timur Tengah. "Itu berarti tauhid, yakni percaya kepada satu Tuhan: Allah," ujar dia.
Awal metamorfosis itu terjadi sekitar sepuluh tahun silam. Ketika itu, Ombat dan rekan-rekannya mendapatkan hidayah dan tersadar bahwa karya musik mereka adalah konspirasi Barat untuk merusak generasi muda. Sejak saat itu, band yang memiliki ratusan ribu fans fanatik di Asia Tenggara tersebut memutuskan membawakan aliran musik tauhid.
Walaupun tetap melahirkan musik dengan tempo cepat dan keras, lirik-lirik yang diusung kini bertema jihad dan anti-Israel. "Kami memiliki pesan dalam musik kami, yakni anti pemurtadan oleh Israel dan Amerika Serikat," tegasnya.
Ombat meyakini, untuk menghancurkan negeri-negeri muslim, khususnya di Indonesia, negeri Zionis dan AS tidak perlu menggunakan serangan fisik. Tapi, mereka menjejali pemuda dengan obat-obatan terlarang, minuman keras, film porno, media gosip, termasuk aliran musik underground yang mendewakan simbol setan dan anti-Tuhan. Tak sedikit para fanatik musik underground yang benar-benar menyembah logo-logo setan, dajal, dan simbol okultisme atau aliran ilmu sihir yang berasal dari Yahudi.
Ombat sadar, musik bisa dijadikan alat dan doktrin untuk pembodohan. Itulah sebabnya, Tengkorak memutuskan melawan pemurtadan dengan senjata musik. Komunitas underground muslim tidak hanya menjadikan musik sebagai sarana, tetapi juga ingin membangun perspektif baru: bermusik, tetapi punya moralitas dan tetap religius. "Bahkan, beberapa kali kami manggung dan menggalang dana untuk Palestina," ujar dia.
Jawa Pos pun menyaksikan rekaman video Tengkorak ketika tampil di salah satu acara musik di Jakarta. Ketika para personel naik ke atas panggung, teriakan ”Assalamualaikum” bersahut-sahutan dari ratusan penonton. Ombat yang memegang mike langsung dengan lantang meneriakkan kalimat takbir yang dijawab dengan lantang oleh lautan penonton yang terdiri atas para pemuda gondrong, kumal, dan berpenampilan layaknya preman. Kesan angker yang melekat pada para penikmat musik heavy metal seketika luntur.
Menurut Ombat, itu bukti bahwa Islam adalah agama universal dan diterima semua kalangan. Bahkan, kata dia, mantan pemuja setan pun bisa bertobat dan memeluk Islam jika media dakwah yang disampaikan sesuai dengan kehendak hati mereka.
Wakil ketua Kongres Advokat Indonesia (KAI) Provinsi Banten itu lantas menunjukkan salah satu lirik lagu Tengkorak dalam bahasa Inggris yang berjudul Jihad. To whom it may concern, which testify to Syahadat. Israel had declared a war by throwing words. Let’s fight in the name of Allah, jihad fi sabilillah. (Bagi siapa pun yang merasa telah bersaksi dan menyebut Syahadat. Israel telah menyatakan perang dengan menggunakan kata-kata (ideologi, Red), mari berperang dengan atas nama Allah. Mari berjihad di jalan Allah).
Ombat mengatakan, lirik lagu Jihad pernah menjadi perhatian media-media asing. Bahkan, sekitar lima kali Ombat diwawancarai media dari AS dan Jepang untuk sekadar memastikan, apakah band Tengkorak itu berafilisasi dengan terorisme atau tidak. Dalam berbagai sesi wawancara tersebut, Ombat dengan tegas menyatakan bukan teroris, tetapi dirinya anti-Zionis dan anti pemurtadan oleh Yahudi.
Tengkorak, kata dia, tidak pernah takut melawan konspirasi pemurtadan akidah Islam. "Tapi, kami hanya mampu berjihad dengan musik. Karena itu, sampai kapan pun ini akan kami maksimalkan," tegasnya. (c6/kum)
MAJALAH HIDAYATULLAH. Bagi penggemar musik Rock, nama Yuke sudah tak asing lagi. Pria yang
bernama asli Yuke Sumeru ini merupakan bassis (pemain bas) terkenal yang
tergabung dalam grup band “Gong 2000”. Namanya melejit dimulai sejak ia
menyabet gelar pemain bas terbaik di Indonesia pada sebuah festival
musik tahun 1983 dan 1985. Dari situlah ia banyak berkenalan dengan
insan musik, hingga akhirnya dilamar oleh grup band yang diawaki antara
lain oleh rocker Ahmad Albar.
Ketenaran yang melambung dan kekayaan yang berlimpah ternyata membuatnya gelisah. Di saat seperti itu, Yuke memanjatkan doa penuh khusyuk di depan Ka’bah saat menunaikan ibadah haji tahun 2000. “Ya Allah, ambillah segala sesuatu yang tidak Engkau sukai dari diriku,” panjat Yuke.
Menurut Yuke, semenjak memanjatkan doa itu, tak seberapa lama ia merasa mual tiap kali menghisap rokok kesukaannya. Walhasil, ia pun berhenti merokok. “Saya juga merasa tidak nyaman tiap kali bersentuhan dengan alat musik,” akunya kepada Suara Hidayatullah di kediamannya, Bintaro, Jakarta Selatan, awal September lalu.
Yuke semakin meresapi nilai-nilai Islam, terutama setelah bergabung dengan aktivitas Jamaah Tabligh. Suatu hari saat dalam kegiatan jamaah itu, Yuke bertemu dengan masyaikh (guru) yang sehari-hari berbicara dalam bahasa Arab. “Saya jengkel tidak bisa berkomunikasi dengan para syaikh,” akunya. Namun dari kejadian itu, Yuke lalu mendaftar ke salah satu perguruan tinggi swasta untuk belajar tahsin dan mendalami ilmu al-Qur`an.
Penuh Cobaan
Menurut pria yang lahir di Bandung, 18 Oktober 1958 ini, ia pun berusaha untuk menutup diri dari pergaulan dunia musiknya. Salah satu caranya dengan mengganti nomor telepon pribadi. “Agar saya bisa fokus belajar agama,” kata Yuke yang meyakini pengaruh lingkungan sangat penting dalam perubahan seseorang. Alhamdulillah, pada tahun 2004, Yuke berhasil menyandang gelar Sarjana al-Qur’an (SQ), bahkan terus menyelesaikan gelar master di kampus yang sama. Tak cuma itu, aku Yuke, ia pun telah menghafal 30 juz al-Qur`an.
Tentu saja menjalani proses hijrah itu bukan tanpa cobaan, salah satunya masalah finansial. Dari bermusik ia bisa mengantongi jutaan rupiah. Tapi semua itu terhenti setelah ia memilih jalan dakwah. Banyak pihak yang mengkritik atas pilihan hidupnya itu. Tapi Yuke tak putus asa. “Urusan hijrah saya ini adalah urusan saya dengan Allah, bukan dengan manusia,” Yuke berupaya tegar.
Syukurnya, sejak muda ia sudah mulai membuka usaha bengkel modifikasi mobil. Sehingga urusan finansial sedikit bisa teratasi. Ia lebih bersyukur lagi karena istrinya selalu mendukung keputusannya. Dengan penuh kasih sayang, Yuke kerap menjelaskan, “Yakinlah bahwa Allah tidak mungkin meninggalkan orang yang berjuang di jalan-Nya.”
Bahkan, meski tidak bermusik lagi, ia justru merasakan banyak keberkahan. “Alhamdulillah, walau pendapatan lewat musik tidak ada, tapi keberkahan Allah selalu mencukupi setiap kebutuhan keluarga. Lagi pula, saya juga tidak mencukupi kebutuhan primer keluarga dari musik sejak dulu. Saya punya bisnis sendiri,” jelasnya.
Dakwah di Kalangan Dhuafa
Usai menyandang gelar master, Yuke berkomitmen menjadi pegawai Allah. Dalam kartu namanya pun, bukan status usaha otomotif yang ia cantumkan, melainkan tertulis “Pegawai Allah.” Tak lama setelah bertekad dengan hal itu, datang tawaran berceramah di sebuah mushalla kecil yang berada di daerah Tambun, Bekasi, Jawa Barat. Sebagai konsekuensi dari statusnya itu, Yuke berangkat memenuhi undangan.
Meski tak dapat uang, tapi Yuke menikmati aktivitas ini. Ia mengaku sering menolak undangan dari perusahaan besar demi berceramah di mushalla-mushalla kecil. Menurut alumnus SMA 4 Surabaya, Jawa Timur ini, banyak ustadz yang tidak mau datang ke mushalla kecil karena hanya menyediakan uang transportasi yang kecil bahkan ada yang gratis. “Padahal, tempat-tempat seperti itu justru rentan pemurtadan,” katanya.
Dari situ Yuke semakin terpanggil untuk berdakwah di daerah miskin. Bahkan, keuntungan yang ia dapatkan dari usaha bengkel mobilnya sebagian disisihkan untuk dakwah. Ia tidak mencari donatur, tapi Yukelah yang menjadi donaturnya. Yuke berdakwah menyusuri daerah sekitar Bintaro, Serpong, hingga Lebak Bulus.
Ia menetapkan tiga kampung pemulung sebagai garapan dakwahnya. Sebelum berdakwah, Yuke mengumpulkan informasi berkaitan pendapatan yang diterima para pemulung. Setiap hari pendapatan mereka antara Rp 20.000 hingga Rp 50.000. Alhasil tiap kali berdakwah di sana, Yuke membawa sekantong amplop yang isinya uang sesuai pendapatan para pemulung. “Sebelum pengajian itu dimulai, para pemulung itu saya kasih amplop agar mereka fokus mengaji dan tidak risau dengan pendapatan hari itu,” jelasnya.
Akhirnya, keluarganya mulai terbiasa dengan gaya hidup baru Yuke. Kata Yuke, inilah kekayaan penting yang selama ini dicarinya, kekayaan yang terjaga oleh keridhaan Allah.
Kini, Yuke mengasuh 50 orang anak yang ia tempatkan di rumahnya di Kota Bogor, Jawa Barat. Di tempat itu, mereka disekolahkan dan dibina keislamannya. “Semoga kelak mereka tumbuh menjadi Muslim yang kuat akidah dan keilmuannya,” harap Yuke yang selalu mengulang-ulang hafalan al-Qur’annya.
Saat ini, ia juga telah membangun sebuah masjid di lokasi pemulung di Bintaro. Rencananya ia juga ingin membangun masjid di semua titik pemulung yang dijadikan ladang dakwahnya. Ia begitu prihatin dengan kondisi mereka yang tidak memiliki fasilitas ibadah.
Setiap hari, kini Yuke selalu bergelut dengan dakwah. Kepada anak-anak muda, ia selalu menasihati bahwa musik adalah hal yang bisa melalaikan perintah agama. “Makanya banyak orangtua yang menitipkan anak-anak mudanya pada saya untuk dibina,” ujar Yuke. Semua itu ia lakukan dengan senang hati, termasuk saat menerima konsultasi melalui telepon genggamnya.
Yuke mengaku ingin hadir di setiap relung hati umat. Ia ingin dekat dengan setiap kegelisahan banyak orang. Ia belajar menjadi obat yang mencerahkan dan memotivasi. “Dari tiap kedekatan itu, saya berharap bisa mengingatkan banyak orang yang belum hijrah untuk mengerti arti dari keutamaan Islam,” tekad Yuke.* Thufail Al-Ghifari/Suara Hidayatullah OKTOBER 2012
Figur,
Gong 2000,
hidayah,
Hidayatullah,
hijrah,
Musik,
Yuke Sumeru
Ketenaran yang melambung dan kekayaan yang berlimpah ternyata membuatnya gelisah. Di saat seperti itu, Yuke memanjatkan doa penuh khusyuk di depan Ka’bah saat menunaikan ibadah haji tahun 2000. “Ya Allah, ambillah segala sesuatu yang tidak Engkau sukai dari diriku,” panjat Yuke.
Menurut Yuke, semenjak memanjatkan doa itu, tak seberapa lama ia merasa mual tiap kali menghisap rokok kesukaannya. Walhasil, ia pun berhenti merokok. “Saya juga merasa tidak nyaman tiap kali bersentuhan dengan alat musik,” akunya kepada Suara Hidayatullah di kediamannya, Bintaro, Jakarta Selatan, awal September lalu.
Yuke semakin meresapi nilai-nilai Islam, terutama setelah bergabung dengan aktivitas Jamaah Tabligh. Suatu hari saat dalam kegiatan jamaah itu, Yuke bertemu dengan masyaikh (guru) yang sehari-hari berbicara dalam bahasa Arab. “Saya jengkel tidak bisa berkomunikasi dengan para syaikh,” akunya. Namun dari kejadian itu, Yuke lalu mendaftar ke salah satu perguruan tinggi swasta untuk belajar tahsin dan mendalami ilmu al-Qur`an.
Penuh Cobaan
Menurut pria yang lahir di Bandung, 18 Oktober 1958 ini, ia pun berusaha untuk menutup diri dari pergaulan dunia musiknya. Salah satu caranya dengan mengganti nomor telepon pribadi. “Agar saya bisa fokus belajar agama,” kata Yuke yang meyakini pengaruh lingkungan sangat penting dalam perubahan seseorang. Alhamdulillah, pada tahun 2004, Yuke berhasil menyandang gelar Sarjana al-Qur’an (SQ), bahkan terus menyelesaikan gelar master di kampus yang sama. Tak cuma itu, aku Yuke, ia pun telah menghafal 30 juz al-Qur`an.
Tentu saja menjalani proses hijrah itu bukan tanpa cobaan, salah satunya masalah finansial. Dari bermusik ia bisa mengantongi jutaan rupiah. Tapi semua itu terhenti setelah ia memilih jalan dakwah. Banyak pihak yang mengkritik atas pilihan hidupnya itu. Tapi Yuke tak putus asa. “Urusan hijrah saya ini adalah urusan saya dengan Allah, bukan dengan manusia,” Yuke berupaya tegar.
Syukurnya, sejak muda ia sudah mulai membuka usaha bengkel modifikasi mobil. Sehingga urusan finansial sedikit bisa teratasi. Ia lebih bersyukur lagi karena istrinya selalu mendukung keputusannya. Dengan penuh kasih sayang, Yuke kerap menjelaskan, “Yakinlah bahwa Allah tidak mungkin meninggalkan orang yang berjuang di jalan-Nya.”
Bahkan, meski tidak bermusik lagi, ia justru merasakan banyak keberkahan. “Alhamdulillah, walau pendapatan lewat musik tidak ada, tapi keberkahan Allah selalu mencukupi setiap kebutuhan keluarga. Lagi pula, saya juga tidak mencukupi kebutuhan primer keluarga dari musik sejak dulu. Saya punya bisnis sendiri,” jelasnya.
Dakwah di Kalangan Dhuafa
Usai menyandang gelar master, Yuke berkomitmen menjadi pegawai Allah. Dalam kartu namanya pun, bukan status usaha otomotif yang ia cantumkan, melainkan tertulis “Pegawai Allah.” Tak lama setelah bertekad dengan hal itu, datang tawaran berceramah di sebuah mushalla kecil yang berada di daerah Tambun, Bekasi, Jawa Barat. Sebagai konsekuensi dari statusnya itu, Yuke berangkat memenuhi undangan.
Meski tak dapat uang, tapi Yuke menikmati aktivitas ini. Ia mengaku sering menolak undangan dari perusahaan besar demi berceramah di mushalla-mushalla kecil. Menurut alumnus SMA 4 Surabaya, Jawa Timur ini, banyak ustadz yang tidak mau datang ke mushalla kecil karena hanya menyediakan uang transportasi yang kecil bahkan ada yang gratis. “Padahal, tempat-tempat seperti itu justru rentan pemurtadan,” katanya.
Dari situ Yuke semakin terpanggil untuk berdakwah di daerah miskin. Bahkan, keuntungan yang ia dapatkan dari usaha bengkel mobilnya sebagian disisihkan untuk dakwah. Ia tidak mencari donatur, tapi Yukelah yang menjadi donaturnya. Yuke berdakwah menyusuri daerah sekitar Bintaro, Serpong, hingga Lebak Bulus.
Ia menetapkan tiga kampung pemulung sebagai garapan dakwahnya. Sebelum berdakwah, Yuke mengumpulkan informasi berkaitan pendapatan yang diterima para pemulung. Setiap hari pendapatan mereka antara Rp 20.000 hingga Rp 50.000. Alhasil tiap kali berdakwah di sana, Yuke membawa sekantong amplop yang isinya uang sesuai pendapatan para pemulung. “Sebelum pengajian itu dimulai, para pemulung itu saya kasih amplop agar mereka fokus mengaji dan tidak risau dengan pendapatan hari itu,” jelasnya.
Akhirnya, keluarganya mulai terbiasa dengan gaya hidup baru Yuke. Kata Yuke, inilah kekayaan penting yang selama ini dicarinya, kekayaan yang terjaga oleh keridhaan Allah.
Kini, Yuke mengasuh 50 orang anak yang ia tempatkan di rumahnya di Kota Bogor, Jawa Barat. Di tempat itu, mereka disekolahkan dan dibina keislamannya. “Semoga kelak mereka tumbuh menjadi Muslim yang kuat akidah dan keilmuannya,” harap Yuke yang selalu mengulang-ulang hafalan al-Qur’annya.
Saat ini, ia juga telah membangun sebuah masjid di lokasi pemulung di Bintaro. Rencananya ia juga ingin membangun masjid di semua titik pemulung yang dijadikan ladang dakwahnya. Ia begitu prihatin dengan kondisi mereka yang tidak memiliki fasilitas ibadah.
Setiap hari, kini Yuke selalu bergelut dengan dakwah. Kepada anak-anak muda, ia selalu menasihati bahwa musik adalah hal yang bisa melalaikan perintah agama. “Makanya banyak orangtua yang menitipkan anak-anak mudanya pada saya untuk dibina,” ujar Yuke. Semua itu ia lakukan dengan senang hati, termasuk saat menerima konsultasi melalui telepon genggamnya.
Yuke mengaku ingin hadir di setiap relung hati umat. Ia ingin dekat dengan setiap kegelisahan banyak orang. Ia belajar menjadi obat yang mencerahkan dan memotivasi. “Dari tiap kedekatan itu, saya berharap bisa mengingatkan banyak orang yang belum hijrah untuk mengerti arti dari keutamaan Islam,” tekad Yuke.* Thufail Al-Ghifari/Suara Hidayatullah OKTOBER 2012





