Seorang dosen di Makassar, Sulawesi Selatan dipecat karena menggunting paksa jilbab dan rok dua orang mahasiswinya.
Ketua
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Nani Hasanuddin Makassar, Yasir,
M.Kes mengatakan, pemecatan dosen berinisial HR itu dilakukan pada Ahad
(02/06/2013) lalu.
“Pihak institusi sudah mengambil langkah tegas dengan menon-aktifkan oknum dosen tersebut,” kata Yasir kepada hidayatullah.com, Ahad (02/06/2013).
Yasir
menceritakan, HR melakukan pengguntingan itu di depan 100 mahasiswi
angkatan 2012. Alasan HR, kata Yasir, sebagai efek jera karena kedua
mahasiswi itu dia anggap telah melanggar peraturan kampus yang
mewajibkan mahasiswinya memakai celana dinas dan jilbab pendek.
Atas
tindakan itu, HR telah membuat surat pernyataan maaf yang ia tujukan
untuk mahasiswinya dan masyarakat luas, khususnya umat Muslim.*
Tampilkan postingan dengan label Hidayatullah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hidayatullah. Tampilkan semua postingan
Kurma Rabbee Iran – Alfa Mart
Bulan Ramadhan ini jangan berbuka puasa dengan kurma-kurma produksi ‘israel’. Ramadhan adalah bulan di mana kita mengingat saudara kita yang kurang beruntung. Dan akan menjadi sebuah penghinaan jika di bulan ini kita malah mendukung penjajahan.
Setiap tahun, ‘israel’ mengeksor kurmanya ke seluruh dunia. Banyak orang yang tidak tahu, membeli kurma-kurma itu dan menyajikannya sebagai hidangan berbuka puasa. Perlu diketahui, kurma-kurma ini tumbuh di permukiman ilegal Yahudi di Tepi Barat dan Lembah Yordan, di atas lahan curian dari Palestina. Dengan membeli kurma-kurma ini, kita membantu ‘israel’ untuk melanjutkan penjajahannya terhadap rakyat Palestina. Dengan pertimbangan ini, Friends of Al Aqsa (FOA) kembali meluncurkan kampanye ‘Check the Label’.
Alfa Mart,
Boikot,
Cek,
Hidayatullah,
Iran,
Israel,
Kampanye,
Kurma,
Label,
Peluru,
Rabbe
Bulan Ramadhan ini jangan berbuka puasa dengan kurma-kurma produksi ‘israel’. Ramadhan adalah bulan di mana kita mengingat saudara kita yang kurang beruntung. Dan akan menjadi sebuah penghinaan jika di bulan ini kita malah mendukung penjajahan.
Setiap tahun, ‘israel’ mengeksor kurmanya ke seluruh dunia. Banyak orang yang tidak tahu, membeli kurma-kurma itu dan menyajikannya sebagai hidangan berbuka puasa. Perlu diketahui, kurma-kurma ini tumbuh di permukiman ilegal Yahudi di Tepi Barat dan Lembah Yordan, di atas lahan curian dari Palestina. Dengan membeli kurma-kurma ini, kita membantu ‘israel’ untuk melanjutkan penjajahannya terhadap rakyat Palestina. Dengan pertimbangan ini, Friends of Al Aqsa (FOA) kembali meluncurkan kampanye ‘Check the Label’.
Pemikiran Liberal pun tak luput, juga mencoba mempengaruhi jurnalis Muslim. Karenanya, jika wartawan Islam tak punya dasar iman dan fikrah Islam, si Liberal, sekular dan “saudara-saudara”nya akan mudah bersemayam di otak dan lubuk yang paling dalam.
Adalah wartawan The Jakarta Post Endy Bayuni yang mengatakan, bahwa seorang jurnalis seharusnya melepaskan identitas agama yang dianut ketika hendak menggali dan menulis sebuah berita, sehingga informasi yang disampaikan benar-benar fair, tanpa dipengaruhi oleh keyakinan yang ia miliki. Kalau perlu, mengabaikan iman mereka saat menulis. Astaghfirullah…!
Ammar Bugis. Pemuda asal Jeddah, Arab Saudi, yang memiliki darah Bugis Indonesia ini, lahir tanggal 22 Oktober 1986. Nama Bugis diambil dari
kakek Buyutnya yang berasal dari Sulawesi. Buyut Ammar, Syaikh Abdul
Muthalib Bugis “hijrah” dari Sulawesi ke Mekah dan mengajar Tafsir di
Masjidilharam. Allah menganugerahinya kelumpuhan total kecuali lidah dan
mata sejak usianya menginjak dua bulan.
Berprestasi di semua jenjang pendidikan, lulus dengan cum laude di
jurusan jurnalistik dan menjadi lulusan terbaik di kampusnya, penulis
dan wartawan olah raga terkenal, dan hidup bahagia bersama keluarga
kecilnya, merupakan torehan “tinta emas” perjalanan Ammar menaklukkan
keterbatasan yang pantas menjadi cermin dan inspirasi bagi kita semua.
Salah satu inspirasi tersebut adalah cara pandang Ammar melihat keterbatasan, “…Hidup saya dipenuhi dengan berbagai peristiwa yang saya alami agar saya dapat melampaui kekurangan fisik saya…agar saya bisa mengubah kekurangan tersebut menjadi kekuatan dan senjata yang menghantarkan saya kepada kebahagiaan”.
Selain itu, Ammar juga menambahkan, “Apa yang dilakukannya dan segala yang telah diraihnya semoga menjadi motivasi dan inspirasi bahwa orang-orang yang berkebutuhan khusus bisa melakukan sesuatu melampaui keterbatasan yang telah Allah anugerahkan untuknya.”
Selamat menikmati.
Syeikh Ammar Bugis (Penakluk Kemustahilan) Kunjungi Daarul Qur’an Ketapang
Permohonan itu diterjemahkan Ustadz Slamet Ibnu Syam selaku sohibul bayt, yang mendampingi tujuh Syeikh asal Timur Tengah di Kampung Qur’an dari Saudi, Yaman, Suriah, dan Iraq. Mereka hadir untuk berbagi ilmu qiro’at Qur’an, pengalaman menghafal Kitabullah, dan menyuntikkan motivasi bagi segenap keluarga besar Kampung Qur’an.
Kehadiran mereka disambut segenap pimpinan Yayasan Daarul Qur’an Indonesia dan PPPA Daarul Qur’an, serta ratusan jamaah dari Aceh sampai Papua.
Ammar Bugis, masih berdarah Makassar. Ia lahir di Amerika Serikat, 22 Oktober 1986. Nama Bugis diambil dari nama kakek buyutnya yang berasal dari Sulawesi, Syeikh Abdul Muthalib Bugis. Beliau hijrah dari Sulawesi ke Mekah dan mengajar Tafsir di Masjidil Haram.
Syeikh Ammar lumpuh total sejak 2 bulan, hanya mata dan mulutnya yang masih berfungsi, walau nada bicaranya agak tidak jelas. Itu semua tak mengurangi semangatnya untuk hidup dan berarti.
Dengan pendidikan homeschooling, Ammar sudah hafal 30 juz Qur'an sejak usia 13 tahun dalam waktu 2 tahun saja. Ia lulus dari Jurusan Jurnalistik King Abdul Aziz University. Menjadi wartawan olahraga Harian Al Madinah yang terbit di Jeddah, dan kolumnis Harian Ukaz terbitan Riyadh.
Ammar juga menjadi dosen di Universitas Dubai sambil meneruskan pendidikan S-2 di sana atas beasiswa Pangeran Uni Emirat Arab, Hamdan bin Muhammad bin Rasyid Al Maktum Al Fazza.
Kakak lelaki Ammar, Hasan Bugis, tubuhnya normal, seorang pilot Saudi Airline. Sedang adiknya, perempuan, yang juga lumpuh seperti Ammar, adalah seorang dokter.
Selain untuk sujud, 10 detik yang dipinta Ammar Haitsam Bugis juga akan dimanfaatkan untuk membuka mushaf Al Qur'an yang belum pernah dapat dilakukannya sendiri.
Banyak di antara ratusan jamaah menangis terharu mendengar permintaan Syeikh Ammar. Termasuk Ustadz Yusuf Mansur yang berada di sebelahnya.
Kepada Pendiri Daarul Qur’an, Syeikh Ammar menyatakan ingin memasukkan anaknya, Yusuf (14), ke Ponpes Daarul Qur’an Ketapang. ‘’Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an adalah pendidikan untuk meraih dunia-akhirat,’’ tandas Syeikh Ammar, yang menuliskan perjuangan hidupnya dalam buku berjudul "Qohir Al Mustahil" (Penakluk Kemustahilan).
Dalam taushiyahnya Ustadz Yusuf Mansur menegaskan, fenomena Syeikh Ammar menunjukkan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT. ‘’Namun pikiran dan perasaan kita sendiri yang suka memustahilkan diri kita. Akhirnya itu jadi do’a buat kita sendiri,’’ katanya.
Dalam sebuah hadits qudsi, Allah SWT menyatakan bahwa ‘’Aku ini sebagaimana prasangka hamba-Ku.’’ Artinya, Allah akan ‘’menuruti’’ persangkaan pikiran dan perasaan manusia akan takdirnya sendiri.
Ustadz Yusuf mencontohkan, banyak orang merasa mustahil bisa naik haji karena kondisinya miskin atau banyak utang. Akibatnya, ya mustahil beneran. Padahal, dengan bersandar pada Allah Yang Maha Kuasa, kemiskinan dan utang bukan hambatan untuk ke Tanah Suci.
Turut memeriahkan silaturahim tersebut, penampilan para santri Daarul Qur’an dalam defile drumband, atraksi senam Daqu, koor hymne dan mars Daqu, serta muhadhoroh (pidato) dwilingual Arab-Inggris.
Acara diakhiri jelang waktu dhuhur dengan menyaksikan bersama pemasangan tiang pancang sebagai peresmian dimulainya pembangunan Masjid Daarul Qur’an.*/Kiriman Nur Bowo
Red: Cholis Akbar
SYAIKH AMMAR BUGIS SAMPAIKAN CERAMAH DI LIPIA, MAHASISWA DAN DOSEN MENANGIS TERSEDU-SEDU
JAKARTA (gemaislam) - Bagi seorang muslim, dunia adalah tempat ujian dan ladang pahala. Cobaan yang diberikan oleh Allah kepada para hamba-Nya bermacam-macam bentuknya, salah satunya dengan ketidak sempurnaan fisik.
Sebagai seorang Muslim, cobaan tersebut
hendaknya disikapi dengan hati yang sabar dan ikhlas. Sebab di balik
kekurangan, Allah pasti memberikan kelebihan yang tidak dimiliki orang
lain.
Adalah Syaikh Ammar Bugis, pria lumpuh
berdarah Makassar yang lahir di Amerika Serikat, 22 Oktober 1986. Nama
Bugis diambil dari nama kakek buyutnya yang berasal dari Sulawesi,
Syeikh Abdul Muthalib Bugis. Beliau hijrah dari Sulawesi ke Mekkah dan
mengajar Tafsir di Masjidil Haram.
Syaikh Ammar lumpuh total sejak usia 2
bulan, hanya mata dan mulutnya yang masih berfungsi, walau nada
bicaranya agak tidak jelas. Itu semua tak mengurangi semangatnya untuk
hidup dan berarti.
Luar biasa, ditengah keadaan yang serba
mustahil, Ammar sudah hafal 30 juz Qur'an sejak usia 11 tahun dalam
waktu 2 tahun saja. Tentunya ini adalah kelebihan yang sangat jarang
dimiliki oleh anak-anak zaman sekarang.
Mengawalai nasihatnya dihadapan para
dosen dan mahasiswa LIPIA Jakarta, Syaikh Ammar mengomentari sebuah
pepatah yang mengatakan bahwa akal yang selamat hanyalah terdapat pada
badan yang sehat, menuurutnya hal ini kurang tepat.
“Selama ini kita mendengar pepatah bahwa
akal yang selamat itu terdapat pada badan yang sehat, padahal
semestinya adalah akal yang selamat hanyalah terdapat pada hati yang
sehat,”kata Ammar mengawali nasihatnya.
Hal ini, kata Ammar, terdapat didalam
hadits “Jika sepotong daging itu baik, maka baiklah seluruhnya.
Ketahuilah bahwa ia adalah hati.
Saat beliau menceritakan kesabaran dan
ketelatenan ibunya dalam mengurus dan menjaganya sehingga ia saat ini
menjadi seorang hafidz Al Quran, para mahasiswa yang hadir menangis
tersedu-sedu, bahkan ada beberapa dosen yang bertakbir keras sambil
menangis menjerit.
Beliaupun menyayangkan banyak kaum
muslimin yang memiliki fisik sempurna tapi hatinya tidak sesempurna
fisiknya.“Banyak diantara kita yang memiliki fisik sempurna, tapi
hatinya tidak sesuai dengan fisiknya, “katanya.
Beliaupun menyarankan kepada para
Mahasiswa agar giat menghafal Al Quran dan jangan mudah putus asa.
“Hafalkan Al Quran, lakukan dengan ayat-ayat yang pendek terlebih
dahulu, sayapun dulu melakukannya demikian, sampai waktu itu saya bisa
menghafal satu juz dalam sehari,” ujarnya
.
Setelah kurang lebih satu jam, ceramah
di tutup, tiba-tiba seorang dosen dan pakar Ushul Fiqih asal mesir, DR.
Azazi menemuinya dan mencium keningnya.
Ahmad Aris, seorang mahasiswa Fakultas
Syari’ah yang mendengarkan ceramah beliau, menangis terharu dan merasa
termotivasi oleh nasihat Syaikh Ammar.
| ISBN | : | 9786028997577 |
| Rilis | : | 2012 |
| Halaman | : | 180 |
| Penerbit | : | Republika |
| Bahasa | : | Indonesia |
MAJALAH HIDAYATULLAH. Bagi penggemar musik Rock, nama Yuke sudah tak asing lagi. Pria yang
bernama asli Yuke Sumeru ini merupakan bassis (pemain bas) terkenal yang
tergabung dalam grup band “Gong 2000”. Namanya melejit dimulai sejak ia
menyabet gelar pemain bas terbaik di Indonesia pada sebuah festival
musik tahun 1983 dan 1985. Dari situlah ia banyak berkenalan dengan
insan musik, hingga akhirnya dilamar oleh grup band yang diawaki antara
lain oleh rocker Ahmad Albar.
Ketenaran yang melambung dan kekayaan yang berlimpah ternyata membuatnya gelisah. Di saat seperti itu, Yuke memanjatkan doa penuh khusyuk di depan Ka’bah saat menunaikan ibadah haji tahun 2000. “Ya Allah, ambillah segala sesuatu yang tidak Engkau sukai dari diriku,” panjat Yuke.
Menurut Yuke, semenjak memanjatkan doa itu, tak seberapa lama ia merasa mual tiap kali menghisap rokok kesukaannya. Walhasil, ia pun berhenti merokok. “Saya juga merasa tidak nyaman tiap kali bersentuhan dengan alat musik,” akunya kepada Suara Hidayatullah di kediamannya, Bintaro, Jakarta Selatan, awal September lalu.
Yuke semakin meresapi nilai-nilai Islam, terutama setelah bergabung dengan aktivitas Jamaah Tabligh. Suatu hari saat dalam kegiatan jamaah itu, Yuke bertemu dengan masyaikh (guru) yang sehari-hari berbicara dalam bahasa Arab. “Saya jengkel tidak bisa berkomunikasi dengan para syaikh,” akunya. Namun dari kejadian itu, Yuke lalu mendaftar ke salah satu perguruan tinggi swasta untuk belajar tahsin dan mendalami ilmu al-Qur`an.
Penuh Cobaan
Menurut pria yang lahir di Bandung, 18 Oktober 1958 ini, ia pun berusaha untuk menutup diri dari pergaulan dunia musiknya. Salah satu caranya dengan mengganti nomor telepon pribadi. “Agar saya bisa fokus belajar agama,” kata Yuke yang meyakini pengaruh lingkungan sangat penting dalam perubahan seseorang. Alhamdulillah, pada tahun 2004, Yuke berhasil menyandang gelar Sarjana al-Qur’an (SQ), bahkan terus menyelesaikan gelar master di kampus yang sama. Tak cuma itu, aku Yuke, ia pun telah menghafal 30 juz al-Qur`an.
Tentu saja menjalani proses hijrah itu bukan tanpa cobaan, salah satunya masalah finansial. Dari bermusik ia bisa mengantongi jutaan rupiah. Tapi semua itu terhenti setelah ia memilih jalan dakwah. Banyak pihak yang mengkritik atas pilihan hidupnya itu. Tapi Yuke tak putus asa. “Urusan hijrah saya ini adalah urusan saya dengan Allah, bukan dengan manusia,” Yuke berupaya tegar.
Syukurnya, sejak muda ia sudah mulai membuka usaha bengkel modifikasi mobil. Sehingga urusan finansial sedikit bisa teratasi. Ia lebih bersyukur lagi karena istrinya selalu mendukung keputusannya. Dengan penuh kasih sayang, Yuke kerap menjelaskan, “Yakinlah bahwa Allah tidak mungkin meninggalkan orang yang berjuang di jalan-Nya.”
Bahkan, meski tidak bermusik lagi, ia justru merasakan banyak keberkahan. “Alhamdulillah, walau pendapatan lewat musik tidak ada, tapi keberkahan Allah selalu mencukupi setiap kebutuhan keluarga. Lagi pula, saya juga tidak mencukupi kebutuhan primer keluarga dari musik sejak dulu. Saya punya bisnis sendiri,” jelasnya.
Dakwah di Kalangan Dhuafa
Usai menyandang gelar master, Yuke berkomitmen menjadi pegawai Allah. Dalam kartu namanya pun, bukan status usaha otomotif yang ia cantumkan, melainkan tertulis “Pegawai Allah.” Tak lama setelah bertekad dengan hal itu, datang tawaran berceramah di sebuah mushalla kecil yang berada di daerah Tambun, Bekasi, Jawa Barat. Sebagai konsekuensi dari statusnya itu, Yuke berangkat memenuhi undangan.
Meski tak dapat uang, tapi Yuke menikmati aktivitas ini. Ia mengaku sering menolak undangan dari perusahaan besar demi berceramah di mushalla-mushalla kecil. Menurut alumnus SMA 4 Surabaya, Jawa Timur ini, banyak ustadz yang tidak mau datang ke mushalla kecil karena hanya menyediakan uang transportasi yang kecil bahkan ada yang gratis. “Padahal, tempat-tempat seperti itu justru rentan pemurtadan,” katanya.
Dari situ Yuke semakin terpanggil untuk berdakwah di daerah miskin. Bahkan, keuntungan yang ia dapatkan dari usaha bengkel mobilnya sebagian disisihkan untuk dakwah. Ia tidak mencari donatur, tapi Yukelah yang menjadi donaturnya. Yuke berdakwah menyusuri daerah sekitar Bintaro, Serpong, hingga Lebak Bulus.
Ia menetapkan tiga kampung pemulung sebagai garapan dakwahnya. Sebelum berdakwah, Yuke mengumpulkan informasi berkaitan pendapatan yang diterima para pemulung. Setiap hari pendapatan mereka antara Rp 20.000 hingga Rp 50.000. Alhasil tiap kali berdakwah di sana, Yuke membawa sekantong amplop yang isinya uang sesuai pendapatan para pemulung. “Sebelum pengajian itu dimulai, para pemulung itu saya kasih amplop agar mereka fokus mengaji dan tidak risau dengan pendapatan hari itu,” jelasnya.
Akhirnya, keluarganya mulai terbiasa dengan gaya hidup baru Yuke. Kata Yuke, inilah kekayaan penting yang selama ini dicarinya, kekayaan yang terjaga oleh keridhaan Allah.
Kini, Yuke mengasuh 50 orang anak yang ia tempatkan di rumahnya di Kota Bogor, Jawa Barat. Di tempat itu, mereka disekolahkan dan dibina keislamannya. “Semoga kelak mereka tumbuh menjadi Muslim yang kuat akidah dan keilmuannya,” harap Yuke yang selalu mengulang-ulang hafalan al-Qur’annya.
Saat ini, ia juga telah membangun sebuah masjid di lokasi pemulung di Bintaro. Rencananya ia juga ingin membangun masjid di semua titik pemulung yang dijadikan ladang dakwahnya. Ia begitu prihatin dengan kondisi mereka yang tidak memiliki fasilitas ibadah.
Setiap hari, kini Yuke selalu bergelut dengan dakwah. Kepada anak-anak muda, ia selalu menasihati bahwa musik adalah hal yang bisa melalaikan perintah agama. “Makanya banyak orangtua yang menitipkan anak-anak mudanya pada saya untuk dibina,” ujar Yuke. Semua itu ia lakukan dengan senang hati, termasuk saat menerima konsultasi melalui telepon genggamnya.
Yuke mengaku ingin hadir di setiap relung hati umat. Ia ingin dekat dengan setiap kegelisahan banyak orang. Ia belajar menjadi obat yang mencerahkan dan memotivasi. “Dari tiap kedekatan itu, saya berharap bisa mengingatkan banyak orang yang belum hijrah untuk mengerti arti dari keutamaan Islam,” tekad Yuke.* Thufail Al-Ghifari/Suara Hidayatullah OKTOBER 2012
Figur,
Gong 2000,
hidayah,
Hidayatullah,
hijrah,
Musik,
Yuke Sumeru
Ketenaran yang melambung dan kekayaan yang berlimpah ternyata membuatnya gelisah. Di saat seperti itu, Yuke memanjatkan doa penuh khusyuk di depan Ka’bah saat menunaikan ibadah haji tahun 2000. “Ya Allah, ambillah segala sesuatu yang tidak Engkau sukai dari diriku,” panjat Yuke.
Menurut Yuke, semenjak memanjatkan doa itu, tak seberapa lama ia merasa mual tiap kali menghisap rokok kesukaannya. Walhasil, ia pun berhenti merokok. “Saya juga merasa tidak nyaman tiap kali bersentuhan dengan alat musik,” akunya kepada Suara Hidayatullah di kediamannya, Bintaro, Jakarta Selatan, awal September lalu.
Yuke semakin meresapi nilai-nilai Islam, terutama setelah bergabung dengan aktivitas Jamaah Tabligh. Suatu hari saat dalam kegiatan jamaah itu, Yuke bertemu dengan masyaikh (guru) yang sehari-hari berbicara dalam bahasa Arab. “Saya jengkel tidak bisa berkomunikasi dengan para syaikh,” akunya. Namun dari kejadian itu, Yuke lalu mendaftar ke salah satu perguruan tinggi swasta untuk belajar tahsin dan mendalami ilmu al-Qur`an.
Penuh Cobaan
Menurut pria yang lahir di Bandung, 18 Oktober 1958 ini, ia pun berusaha untuk menutup diri dari pergaulan dunia musiknya. Salah satu caranya dengan mengganti nomor telepon pribadi. “Agar saya bisa fokus belajar agama,” kata Yuke yang meyakini pengaruh lingkungan sangat penting dalam perubahan seseorang. Alhamdulillah, pada tahun 2004, Yuke berhasil menyandang gelar Sarjana al-Qur’an (SQ), bahkan terus menyelesaikan gelar master di kampus yang sama. Tak cuma itu, aku Yuke, ia pun telah menghafal 30 juz al-Qur`an.
Tentu saja menjalani proses hijrah itu bukan tanpa cobaan, salah satunya masalah finansial. Dari bermusik ia bisa mengantongi jutaan rupiah. Tapi semua itu terhenti setelah ia memilih jalan dakwah. Banyak pihak yang mengkritik atas pilihan hidupnya itu. Tapi Yuke tak putus asa. “Urusan hijrah saya ini adalah urusan saya dengan Allah, bukan dengan manusia,” Yuke berupaya tegar.
Syukurnya, sejak muda ia sudah mulai membuka usaha bengkel modifikasi mobil. Sehingga urusan finansial sedikit bisa teratasi. Ia lebih bersyukur lagi karena istrinya selalu mendukung keputusannya. Dengan penuh kasih sayang, Yuke kerap menjelaskan, “Yakinlah bahwa Allah tidak mungkin meninggalkan orang yang berjuang di jalan-Nya.”
Bahkan, meski tidak bermusik lagi, ia justru merasakan banyak keberkahan. “Alhamdulillah, walau pendapatan lewat musik tidak ada, tapi keberkahan Allah selalu mencukupi setiap kebutuhan keluarga. Lagi pula, saya juga tidak mencukupi kebutuhan primer keluarga dari musik sejak dulu. Saya punya bisnis sendiri,” jelasnya.
Dakwah di Kalangan Dhuafa
Usai menyandang gelar master, Yuke berkomitmen menjadi pegawai Allah. Dalam kartu namanya pun, bukan status usaha otomotif yang ia cantumkan, melainkan tertulis “Pegawai Allah.” Tak lama setelah bertekad dengan hal itu, datang tawaran berceramah di sebuah mushalla kecil yang berada di daerah Tambun, Bekasi, Jawa Barat. Sebagai konsekuensi dari statusnya itu, Yuke berangkat memenuhi undangan.
Meski tak dapat uang, tapi Yuke menikmati aktivitas ini. Ia mengaku sering menolak undangan dari perusahaan besar demi berceramah di mushalla-mushalla kecil. Menurut alumnus SMA 4 Surabaya, Jawa Timur ini, banyak ustadz yang tidak mau datang ke mushalla kecil karena hanya menyediakan uang transportasi yang kecil bahkan ada yang gratis. “Padahal, tempat-tempat seperti itu justru rentan pemurtadan,” katanya.
Dari situ Yuke semakin terpanggil untuk berdakwah di daerah miskin. Bahkan, keuntungan yang ia dapatkan dari usaha bengkel mobilnya sebagian disisihkan untuk dakwah. Ia tidak mencari donatur, tapi Yukelah yang menjadi donaturnya. Yuke berdakwah menyusuri daerah sekitar Bintaro, Serpong, hingga Lebak Bulus.
Ia menetapkan tiga kampung pemulung sebagai garapan dakwahnya. Sebelum berdakwah, Yuke mengumpulkan informasi berkaitan pendapatan yang diterima para pemulung. Setiap hari pendapatan mereka antara Rp 20.000 hingga Rp 50.000. Alhasil tiap kali berdakwah di sana, Yuke membawa sekantong amplop yang isinya uang sesuai pendapatan para pemulung. “Sebelum pengajian itu dimulai, para pemulung itu saya kasih amplop agar mereka fokus mengaji dan tidak risau dengan pendapatan hari itu,” jelasnya.
Akhirnya, keluarganya mulai terbiasa dengan gaya hidup baru Yuke. Kata Yuke, inilah kekayaan penting yang selama ini dicarinya, kekayaan yang terjaga oleh keridhaan Allah.
Kini, Yuke mengasuh 50 orang anak yang ia tempatkan di rumahnya di Kota Bogor, Jawa Barat. Di tempat itu, mereka disekolahkan dan dibina keislamannya. “Semoga kelak mereka tumbuh menjadi Muslim yang kuat akidah dan keilmuannya,” harap Yuke yang selalu mengulang-ulang hafalan al-Qur’annya.
Saat ini, ia juga telah membangun sebuah masjid di lokasi pemulung di Bintaro. Rencananya ia juga ingin membangun masjid di semua titik pemulung yang dijadikan ladang dakwahnya. Ia begitu prihatin dengan kondisi mereka yang tidak memiliki fasilitas ibadah.
Setiap hari, kini Yuke selalu bergelut dengan dakwah. Kepada anak-anak muda, ia selalu menasihati bahwa musik adalah hal yang bisa melalaikan perintah agama. “Makanya banyak orangtua yang menitipkan anak-anak mudanya pada saya untuk dibina,” ujar Yuke. Semua itu ia lakukan dengan senang hati, termasuk saat menerima konsultasi melalui telepon genggamnya.
Yuke mengaku ingin hadir di setiap relung hati umat. Ia ingin dekat dengan setiap kegelisahan banyak orang. Ia belajar menjadi obat yang mencerahkan dan memotivasi. “Dari tiap kedekatan itu, saya berharap bisa mengingatkan banyak orang yang belum hijrah untuk mengerti arti dari keutamaan Islam,” tekad Yuke.* Thufail Al-Ghifari/Suara Hidayatullah OKTOBER 2012







