mukmin.in - Waktu masih kuliah di Riyadh, Arab Saudi, saya dapat cukup banyak
kesempatan untuk melaksanakan umrah ke Makkah al-Mukarramah. Selain
melaksanakan thawaf, yang paling menyenangkan dan menimbulkan kesan yang
mendalam adalah menyaksikan orang lain melaksanakan thawaf, laki-laki
dan perempuan, tiada putus-putusnya. Lebih berkesan lagi, apabila kita
menyaksikannya dari lantai dua Masjid Haram.
Pada suatu kesempatan setelah shalat Isya, saya dan seorang sahabat
duduk-duduk di pelataran Ka’bah, menikmati udara malam sambil
menyaksikan kaum Muslim Muslimah thawaf tiada henti-hentinya. Bersama
kami, ada sepasang suami istri setengah baya yang datang melaksanakan
umrah sejak beberapa hari lalu. Kami sudah saling kenal, karena beliau
berdua sudah berulang kali ke Makkah, baik untuk melaksanakan ibadah
haji maupun umrah. Allah menganugerahkan kekayaan yang melimpah kepada
mereka berdua, tetapi sayang mereka tidak dianugerahi putra seorang pun.
Barangkali ke Makkah merupakan salah satu cara mereka menghibur diri
apabila dilanda kesepian dan kerinduan terhadap anak.
Tiba-tiba, si ibu menyatakan tekadnya: “Sampai ajal datang, kami
berdua akan melaksanakan haji dan umrah sebanyak mungkin.” “Inilah yang
dapat kami lakukan untuk menambah bekal ke akhirat kelak,” lanjutnya.
Sahabat saya, kebetulan lebih senior, menanggapinya dengan bijaksana.
Tidak mencela dan tidak pula menyalahkannya. “Bagus, semoga Bapak dan
Ibu mendapatkan haji yang mabrur dan umrah yang makbulah.” Saya lihat
suami istri itu tersenyum lega. Tetapi, lanjut sahabat saya, “Jika Bapak
Ibu sudah meninggal dunia, tidak akan bisa haji dan umrah lagi.
Sehingga, pahalanya terhenti.” Tanpa memperhatikan reaksi suami istri
itu, sahabat saya meneruskan lagi. “Jika Bapak Ibu mau, saya bisa
tunjukkan amalan yang pahalanya akan terus mengalir tiada henti.” Si ibu
cepat menjawab, “Amalan apa, Dik?” “Mendirikan masjid, misalnya.”
Sekalipun nanti ibu dan bapak sudah berada di alam barzah, pahalanya
akan terus mengalir.”
Beberapa bulan kemudian, kami dapat kabar bahwa suami istri tadi
mulai mendirikan sebuah masjid yang cukup besar dan diberinya nama
Masjid Ar-Raudhah. Barangkali untuk mengenang tempat shalat yang selalu
diperebutkan jamaah di Masjid Nabawi. Semenjak itu, bapak ibu tadi mulai
sibuk mengurus masjidnya, mendirikan yayasan pengelola masjid.
Perkembangan selanjutnya sungguh menggembirakan, mereka berdua juga
mendirikan taman kanak-kanak yang juga dinamai Ar-Raudhah. Bahkan
kemudian mendirikan gedung sekolah berlantai dua yang diwakafkan untuk
sebuah pesantren.
Masya Allah. Saya dapat pelajaran berharga dari sahabat saya itu.
Saya sempat berandai-andai, sekiranya sahabat saya mencela suami istri
itu, niscaya keduanya mungkin akan membantah dengan jawaban yang juga
keras. “Orang beribadah kok dilarang.” Karena itu, ini tantangan bagi
semua umat Islam, terlebih para dai, bahwa sesungguhnya dakwah adalah
mengajak, bukan mengejek.
Sumber : Kisah Perjalan Prof Yunahar Ilyas di tanah suci (Koran Republika)

