Tampilkan postingan dengan label propaganda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label propaganda. Tampilkan semua postingan


Sebagai corong propaganda, media massa kerapkali memunculkan isu yang “biasa” dan kemudian memolesnya menjadi sebuah isu yang “tak biasa”. Kaidah bad news is the good news benar-benar telah mendarah daging pada sebagian besar jurnalis. Bahkan mereka-mereka adalah sebagian yang mengatakan dirinya sebagai jurnalis independen yang berorientasi pada pemberitaan masalah secara objektif. Sensitivisme para jurnalis ini akan keobjektivan berita serentak mati total ketika berhubungan dengan beberapa sisi Islam yang fundamental. Yah, dengan Islam. Rasa sensitivitas semu itu seketika berubah menjadi rasa sensitif yang dimuati rasa agitasi dan kebencian tingkat tinggi. Jika Islam sebagai objek masalah, berkali-kali berita yang muncul adalah berita yang jauh dari fakta, dikemas secara berlebihan, tendensitas tingkat tinggi dan bermacam prasangka argumentatif yang dikumpulkan sedemikian rupa sebelum akhirnya dimuntahkan dalam bentuk berita aktual sampah. Berita yang kemudian ditelan mentah-mentah oleh lebih dari 100 Juta penduduk Indonesia.

, , ,